Kesuksesan pendahulunya, tidak membuat “Insurgent” memenuhi ekspektasi tinggi para penontonnya. Film lanjutan “Divergent” ini dipandu dengan arahan baru, masih dengan cast sebelumnya, dan dengan alur plot yang sebetulnya cukup dikemas menarik.

Film ini melajutkan petualangan Tris, Four, Caleb, dan Peter dari film terdahulu, dan memulai pelarian mereka di Faksi Amity. Coup d’etat yang digencarkan Jeanine Matthews bersama faksi Erudite ternyata masuk ke babak yang baru: membuka treasure box. Kotak rahasia ini merupakan benda peninggalan dari para pendiri kota, yang dipercaya akan menjawab segala pertanyaan para penduduk.

138-Picture1
Courtesy Red Wagon Entertainment, Mandeville Films, NeoReel, Summit Entertainment © 2015

Aksi kejar-kejaran dimulai ketika Amity diserbu oleh pasukan Dauntless yang dibawah kendali Jeanine. Dengan menyerahnya Peter, membuat tiga orang tersisa melanjutkan pelarian mereka dan tiba di kelompok Factionless. FYI, Factionless adalah faksi yang berisi orang-orang yang tidak terpilih untuk masuk ke dalam faksi-faksi yang ada. Kehadiran Four ternyata menjadi sebuah kejutan bagi para factionless maupun Tris, karena sebetulnya Ia merupakan anak Evelyn. Evelyn, yang diperankan oleh Naomi Watts, adalah Ibu Tris yang mencoba kabur dan berpura-pura mati dari Abnegation setelah mendapat perilaku abusif dari suaminya. Evelyn menawarkan sebuah aliansi untuk mengalahkan Erudite. Akan tetapi, Four lebih memilih untuk bertemu para anggota Dauntless yang tersisa di markas Candor.

138-Picture6
Courtesy Red Wagon Entertainment, Mandeville Films, NeoReel, Summit Entertainment © 2015

Setelah menyambangi hometown Amity, lalu Factionless, terakhir adalah Candor. Di Candor kehadiran keduanya diterima dengan ramah oleh para Dauntless yang tersisa. Namun, sifat Candor yang menjunjung tinggi kebenaran, hukum dan kejujuran, membuat keduanya harus menjalani tes kejujuran lewat pemberian serum. Cerita pun berlanjut dengan aksi serangan di bawah kendali Jeanine dan eksperimen membuka treasure box lewat simulasi yang dilakukannya pada para divergent.

Film kedua seri Divergent karangan Veronica Roth ini disutradarai oleh Robert Schwentke, yang mungkin sebelumnya sudah dikenal lewat “Flightplan” ataupun “The Time Traveler’s Wife.” Sedangkan naskah film ini digarap oleh Brian Duffield, Akiva Goldsman dan Mark Bomback. Ketiganya menghadirkan sebuah tontonan yang punya bobot aksi yang lebih besar dibanding pendahulunya. Alurnya ceritanya sayangnya kurang dieksekusi dengan baik oleh Schwentke. Ia hanya tampak terlalu fokus dengan koreograsi aksi, pemberontakan, dan efek visual yang mendukung. Schwentke terkesan terjebak dengan simulasi-simulasi dan melupakan banyak potensi dari karakter dan ceritanya.

138-Picture7
Courtesy Red Wagon Entertainment, Mandeville Films, NeoReel, Summit Entertainment © 2015

Dari jajaran pemainnya, film ini melibatkan para rising star dari film pendahulu, seperti Shailene Woodley, Theo James, Ansel Elgort, ataupun Miles Teller. Sayangnya, dari keempat karakter ini, mungkin hanya Teller yang terlihat lebih baik. Entah kenapa peran Elgort maupun James terkesan biasa saja, tanpa sesuatu yang istimewa. Lain halnya dengan Woodley, walaupun terlihat lebih matang di film ini, pada beberapa adegan saya merasa she put too much. Untuk sisi antagonis, sosok Jeanine yang diperankan Kate Winslet, masih tetap memukai saya sepanjang film.

Lain halnya dengan supporting cast dalam film ini. Mulai dari Maggie Q, Octavia Spencer, Naomi Watts, Jai Courtney, Zoë Kravitz hingga Ashley Judd. Dari kesekian para pendukung film ini, mungkin hanya Watts yang terlihat lebih mendingan ketimbang lainnya. Yup, ini kembali lagi bagaimana Schwentke membiarkan karakter-karakter ini untuk hanya terkesan tampil dan kehilangkan makna mereka masing-masing.

138-Picture4
Courtesy Red Wagon Entertainment, Mandeville Films, NeoReel, Summit Entertainment © 2015

Sepanjang menyaksikan film ini, Schwentke terlalu banyak menggunakan CGI. Biasanya, seperti yang ditampilkan “Gravity”, “Interstellar”, ataupun “Life of Pi”, CGI mampu menjadi elemen yang kuat yang akan memukau penonton. Entah kenapa CGI dalam film tidak terkesan memukau, tetapi malah membuat saya cukup muak dan capek. Salah satu worst scene di film ini adalah ketika Four melakukan aksi super biasa nihil untuk menyebrang ketika kereta lewat, sebuah eksekusi slow motion penuh efek yang luar biasa buruk. Walaupun cukup menghibur, film ini tidak memberikan kesan tersendiri dan biasa saja, dan kurang membuat anda untuk bertanya-tanya dengan kelanjutannya.

Insurgent (2015)
PG-13, 119 menit
Adventure, Sci-Fi, Thriller
Director: Robert Schwentke
Writer: Brian Duffield, Akiva Goldsman, Mark Bomback, Veronica Roth
Full Cast : Kate Winslet, Jai Courtney, Mekhi Phifer, Shailene Woodley, Theo James, Ansel Elgort, Miles Teller, Cynthia Barrett, Justice Leak, Lyndsi LaRose, Charlie Bodin, Octavia Spencer, Zoë Kravitz, Ben Lloyd-Hughes, Tony Goldwyn, Ashley Judd, Konrad Howard, Lucella Costa, Devon Lane Tresan, Ray Stevenson, Stephanie Schuland, Leonardo Santaiti, Derik Pritchard, Ian Casselberry, Jonny Weston, Naomi Watts, Keiynan Lonsdale, Suki Waterhouse, Emjay Anthony, Rosa Salazar, Maggie Q, Kendrick Cross, Daniel Dae Kim, David Landry, Lawrence Kao, Justin Miles, Hunter Burke, Kate Rachesky, Callie Brook McClincy, Pete Burris, Justine Wachsberger, Isadore Lieberman, Nicholas Martin, Nelson Bonilla, Arian Ash, Jane Park Smith, Janet McTeer
#138 – Insurgent (2015) was last modified: November 20th, 2020 by Bavner Donaldo

2 COMMENTS

  1. 1st of all, gw stuju banget klo ini gak gitu lebih baik dari Divergent. Yang bisa diunggulkan emang cma CGI dan simulationnya, tapi ada beberapa yang kurang dijelaskan.

    1) Kenapa tiba2 Erudite mencari tuh simulasi kotak dan kenapa mreka bisa tahu klo kotak itu penting? Like, gak ada apa2 tahu2 kotak itu muncul.

    2) As a person who have read the novel, Four itu seingat gw gak tahu soal ibunya, tapi kenapa mendadak pas mau ditangkap sama si Factionless itu dia langsung ngmg Tobias Eaton? Rasanya aneh.

    3) Pas di Candor, Tris harusnya bisa menghalau tuh truth serum or sth, tapi kenapa gak ditekankan di sana? Rasanya jadi ‘keistimewaan’ Tris hilang di sini.

    4) Gak dijelaskan bagaimana Four mendadak bisa muncul di Erudite (rasanya terlalu banyak di-cut)

    5) Yang paling penting adalah si Tori yang harusnya jadi andil dan karakter penting dalam Insurgent malah ketutupan. Harusnya dia yang ‘memimpin’ serangan dan membalas dendam ke Erudite (aka Jeanine) and if I recall, harusnya dia juga yang membunuh si Jeanine.

    6) Terus sebenarnya mau komen soal Uria yang hanya muncul sekilas di sequel ini padahal dia megang peranan cukup penting (say, as Tris’ friends?)

    7) Perubahan Christina yang dari kesel karena Tris bunuh Will sampe tiba2 memaafkan Christina (can be seen dari scene si Christina mencalonkan diri kalau mau memberikan Tris harus melalui dia and Four)

    All in all, Insurgent kalau secara graphic oke, tapi plot. Nu uh. Kind of bit wasting my time to watch

    this. Dan setuju banget sama karakter Tris yang ‘she put too much’

    Yang kusuka dari karakternya, maybe Peter (since I already have spot for him ever since from the novel) tapi Jeanine tetap mempesona dengan karakter menyebalkannya. Haha.

    (Maaf ya jadi numpang curcol) Haha.

    • Gpp curcol.. Yah, berhubung gw tau ceritanya dari filmnya (pure), ga baca novelnya, tentu bakal banyak banget hal yang beda (kayak dulu pas sama Harpot series). Sama setahu gw juga termasuk yang bunuh Jeanine (setahu gw bukan Ibu nya Four tapi Tori)…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here