Merupakan debut-nya di Venice Film Festival, Xavier Dolan menghadirkan sebuah film yang dipenuhi misteri. “Tom at The Farm” akan membawa penonton untuk mengikuti perjalanan seorang pria bernama Tom, dalam edisi mengunjungi keluarga kekasihnya.

Film diawali dengan memperlihatkan emosi Tom, yang diperankan oleh Xavier Dolan, yang tergambar lewat tangan yang sedang menyusun sebuah tulisan. Sebuah eulogy. Kalimat-kalimat yang berisi akan perasaannya sepeninggal Guillaume, kekasihnya. Suasana kehilangan sangat yang dirasakannya, membawanya dari kota besar di Kanada untuk memasuki sebuah daerah pertanian yang tidak padat. Dan disanalah Ia tiba di sebuah rumah pertanian, yang lengkap dengan kebun jagung dan kandang sapi.

337 picture2
Courtesy of MK2 Productions, Sons of Manual © 2013

Kosong, tanpa ada penghuni. Tidak ada yang menyambutnya. Tanpa sengaja, Ia menemukan sebuah kunci yang sepertinya sengaja dijatuhkan pemiliknya di bawah kursi putih, yang terpampang di depan pintu utama. Lewat kunci itulah Ia berhasil memasuki rumah Guillaume. Sayang, tetap tidak ada siapapun. Hingga akhirnya Ia tertidur sambil duduk di ruang makan.

Lalu munculnya sosok Agatha, Ibu Guillaume yang diperankan Lise Roy. Pertemuan pertama Agatha dan Tom terasa cukup janggal. Tentu membuat Agatha heran ketika menemukan seseorang yang asing sedang tertidur pulas di ruang makannya. Tom kemudian memperkenalkan diri sebagai teman mendiang putranya. Agatha kemudian mengatakan kalau Guillaume memiliki saudara laki-laki yang juga hidup satu rumah dengannya. Ia adalah Francis, diperankan oleh Pierre-Yves Cardinal. Tom terkejut. Ia tidak pernah mendengar hal ini. Tom pun dipersilahkan juga untuk menginap disana. Ia diijinkan Agatha untuk tidur di ranjang Guillaume, yang terletak di kamar kecil milik Francis dan saudara laki-lakinya itu.

337 picture5
Courtesy of MK2 Productions, Sons of Manual © 2013

Francis, yang berparas brewokan, dengan tubuh besar dan sedikit atletis, kemudian menampilkan dirinya. Ialah yang melaksanakan kegiatan pertanian di rumah Agatha. Malang, Francis tidak memperlihatkan sebuah perilaku yang baik. Pertemuannya dengan Tom sudah diawali dengan ancaman, kalau Tom sehabis memberikan kata-kata di acara memorial yang adik harus meninggalkan kehidupan keluarganya. Setelah itulah, Ia masuk ke dalam permainan psychosexual Francis yang penuh teror.

Cerita dalam film ini diadaptasi oleh Xavier Dolan dari sebuah drama berjudul sama yang ditulis oleh Michel Marc Bouchard. Sama seperti mayoritas film-film buatannya, tema kental akan gay pada pemeran utamanya serta hubungan ibu-anak terasa cukup kental. Yang membuatnya sebagai film yang berbeda, “Tom at the Farm” dihadirkan dengan suasana yang lebih mencekam, serta dominasi teror, dan tidak dipenuhi suasana artistik biasanya.

337 picture3
Courtesy of MK2 Productions, Sons of Manual © 2013

Kembali berperan sebagai pemeran utama dalam filmnya, Xavier Dolan hadir dengan karakter Tom yang mudah diancam, tidak berdaya, namun seperti menyimpan perasaan pada lawan antagonisnya. Sosok Tom dalam cerita ini kadang membuat saya cukup gemas, apalagi saat dirinya yang memutuskan untuk berubah pikiran ketika Sarah mencoba untuk menjemputnya. Dengan penampilan rambut gondrong dan blondie, Dolan membawa penonton untuk memperlihatkan karakternya yang seakan ‘rela disiksa.’

Sedangkan, dari sosok antagonis yang diperankan Pierre-Yves Cardinal, karakter Francis menjadi kunci utama cerita ini. Karakterisasi Francis seperti Dr. Jekkyll dan Mr. Hyde buat saya. Kadang, Ia akan terlihat seperti ‘baik’ dengan Tom sambil berusaha menjaga rahasia sang adik. Tapi di sisi lain, Ia mudah menjadi seseorang yang jahat, dingin, temperamen yang mudah main tangan kepada siapapun.

337 picture7
Courtesy of MK2 Productions, Sons of Manual © 2013

Emosi yang ditampilkan oleh film yang berdurasi lebih dari satu setengah jam ini terasa maksimal. Kisahnya yang kadang terfokus dengan suasana berkabung, tiba-tiba mulai berubah menjadi hubungan Tom dan Francis yang saling menyimpan rahasia pada Agatha. Hasilnya, banyak pertanyaan yang bermunculan ketika menyaksikan film ini. Apakah Tom sebetulnya juga menyukai Francis? Begitupun Francis. Apakah ‘perlakuan kasar dan jahat’-nya selama ini merupakan hasil dari pemikirannya untuk menunjukkan perasaannya pada Tom? Atau, apa sebetulnya motif Francis? Walaupun tidak diceritakan secara eksplisit, akan tetapi setidaknya ending film ini masih memendam beberapa tanda tanya saya akan ceritanya.

Di film ini, peranan musik cukup bermain peran. Score music yang dikarang Gabriel Yared terbilang lumayan berhasil untuk menghidupkan suasananya. Soundtrack film ini juga cukup menarik, seperti “Les moulins de mon couer” yang merupakan track pertamanya. Saya juga  menyukai lagu penutup film ini, “Going to the Town” yang merupakan salah satu greatest hits Rufus Wainwright, yang muncul di film ini saat end credits dengan latar perjalanan kembali ke Montreal.

337 picture4
Courtesy of MK2 Productions, Sons of Manual © 2013

Secara keseluruhan, film yang peredarannya cukup telat di Amerika Serikat ini terbilang lumayan. Saya suka bagaimana Dolan sering menggunakan perubahan aspect ratio film menjadi wide ketika masuk ke dalam adegan-adegan mencekam. Terasa cukup bekerja untuk menguatkan adegannya. Momen yang paling mencekam buat saya adalah ketika Tom dan Francis melakukan aksi kejar-kejaran di kebun jagung. Remember, in October, corn cuts like knife…

Tom at a Farm [Tom à la ferme] (2013)
Unrated, 102 menit
Drama, Thriller
Director: Xavier Dolan
Writer: Xavier Dolan, Michel Marc Bouchard
Full Cast: Xavier Dolan, Pierre-Yves Cardinal, Lise Roy, Evelyne Brochu, Manuel Tadros, Jacques Lavallée, Anne Caron, Olivier Morin, Johanne Léveillé, Mathieu Roy
#337 – Tom at The Farm [Tom à la ferme] (2013) was last modified: Mei 29th, 2021 by Bavner Donaldo