Penantian saya selama 9 tahun terakhir akhirnya tercapai sudah. “Tiga Dara”, besutan mendiang Usmar Ismail yang hampir terancam punah ini berhasil direstorasi ke dalam versi 4K, yang artinya kita dapat menyaksikan versi yang dikemas semirip aslinya dulu. Film ini juga dihadirkan secara terbatas di beberapa bioskop, yang kemudian membuat saya membelakan diri menyaksikan di hari tayang ulangnya yang pertama.

Kisah “Tiga Dara” bercerita mengenai kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari 3 putri cantik, ditambah Ayah dan Nenek. Anak tertua mereka bernama, Nunung, diperankan oleh Chitra Dewi, sosok seorang perempuan mandiri yang sudah bersikap seperti Ibu bagi kedua adik perempuannya. Anak kedua, Nana, diperankan oleh Mieke Wijaya, gadis belia yang cukup agresif. Sedangkan si bungsu, Nenny, diperankan oleh Indriati Iskak, merupakan si bontot yang selalu penuh ide.

tiga dara
Courtesy of Perfini and SA Films © 1956, 2016

Masalah dimulai ketika Nenek, yang diperankan oleh Fifi Young, menginginkan Nunung untuk segera memiliki pasangan. Ia kemudian menyuruh mantunya, Sukandar, yang diperankan oleh Hasan Sanusi, untuk mengundang kawan-kawan kerjanya ke rumah. “Siapa tahu ada yang kecantol,” harap sang nenek. Menuruti perkataan mertuanya, Sukandar mengundang teman-teman kerjanya. Nenek kemudian menjadi cukup rempong, Nunung benar-benar berada dalam arahannya. Yang tak disangka, rekan kerja yang undang Sukandar ternyata seluruhnya sebaya dan lebih tua darinya.

Dalam sebuah hasil wawancara, film ini disebut sebagai garapan yang dipaksakan. Usmar sendiri sebetulnya berniat untuk mencari sutradara lain dalam proses produksi film ini. Ini dikarenakan Bapak Perfilman Indonesia ini lebih condong untuk mengemas film-film bertemakan perjuangan. Sebut saja “Darah dan Doa”, “Pedjuang”, hingga “Lewat Djam Malam” yang menjadi film pertama yang menyabet Film Terbaik di ajang piala Citra.

246-picture6
Courtesy of Perfini and SA Films © 1956, 2016

Tak disangka-sangka, film produksi Perfini ini malah berhasil sejajar dengan film-film Hollywood di masa itu. 12 minggu berturut-turut ditayangkan, menjadi sebuah prestasi tersendiri buat film ini. Kesuksesan film ini kemudian membuat Perfini untuk menggarap film sejenis dengan judul “Asrama Dara,” sebuah musikal juga yang diperankan oleh Ratu Horror Film Indonesia, Suzanna.

Diangkat dengan kisah drama yang sebetulnya sangat sederhana, “Tiga Dara” cukup berhasil menjadi sebuah klasik melalui lagu theme song-nya yang dibuka ketiga pemeran utamanya di awal film. Lagu ini sudah lama sekali saya saksikan di Youtube, dan memang cukup sulit untuk mendapatkan akses-akses untuk menyaksikan film-film lawas seperti ini. Tidak hanya lagu itu saja, saya juga menyukai beberapa lagu ceria maupun ballad yang dinyanyikan tiga dara. Menariknya, lagu-lagu yang dibawakan dalam ini sebagian besar dinyanyikan oleh penyanyi, sebuah hal yang cukup biasa dalam genre musikal.

246-picture4
Courtesy of Perfini and SA Films © 1956, 2016

Bicara penampilan akting para pemainnya, Fifi Young yang berperan menjadi Nenek cukup berhasil mendominasi yang lainnya. Karakter Nenek memang bukanlah sentral di film ini, tapi Fifi tahu betul untuk menjadi drama queen. Lain halnya dengan para pemeran utama. Chitra Dewi dan Mieke Wijaya juga bagus, tetapi sepanjang film ini Indriati Iskak merupakan yang paling menarik perhatian saya. Aktris yang kini dikenal dengan Indri Makki ini menghadirkan sebuah penampilan yang terlihat natural. Karakternya yang suka ‘nguping’ dan meniru ini benar-benar menghibur, terutama ketika saat Nenny sedang meniru Nenek dan tanpa disadarinya Nenek juga sedang memperhatikannya.

Setting film ini juga sederhana. Hampir sebagian besar adegan dalam film ini diambil di bagian dalam dan depan rumah. Film ini juga memperlihatkan nuansa 50-an kota Jakarta, yang masih belum ramai dengan gedung-gedung dan banyaknya tanah lapang, sebuah kondisi yang berkebalikan dengan situasi saat ini. Beberapa tempat-tempat, seperti pertokoan Gondangdia hingga bioskop Metropole, juga dihadirkan. Namun dari semua itu, yang cukup asing buat saya adalah Pantai Cilincing. Nama Cilincing memang sudah tidak asing, namun sebagai orang yang lahir dan besar di sekitaran Jakarta sejak 90-an, saya baru tahu bahwa dulunya ada pantai disana.

246-picture5
Courtesy of Perfini and SA Films © 1956, 2016

Saya tidak heran kalau film ini memang pantas disebut sebagia salah satu film terbaik di negri ini. Begitu pun dengan usaha restorasinya, sebuah tindakan yang patut diapresiasi. Menyaksikan versi restorasinya, tentu masih kalah jauh dengan versi aslinya. Ada beberapa segmen yang cukup terlihat parah, dengan suara yang agak kecil. Tetapi bagaimanapun juga kualitas dari source negatif yang sudah rusak dipengaruhi karena kurangnya perhatian kita untuk menjaga peninggalan-peninggalan ini. Positifnya, versi ini masih cukup layak untuk ditonton dan setidaknya berhasil diselamatkan untuk beberapa dekade ke depan.

Menyaksikan tontonan lawas seperti ini adalah sebuah momen pembelajaran sekaligus selebrasi buat saya. Belajar akan segala hal yang terekam, dan merayakan keberhasilan akan sebuah penyelamatan dari ancaman jaman.

Tiga Dara (1956)
PG, 114 menit
Comedy, Drama, Musical
Director: Usmar Ismail
Writer: Usmar Ismail, M. Alwi Dahlan
Full Cast: Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak, Fifi Young, Bambang Irawan, Rendra Karno, Hasan Sanusi

#246 – Tiga Dara (1956) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo