Dulu, saya sempat terpikir, bagaimana pengasosiasian kadang terlalu mengkotak-kotakan kita. Hal yang paling sederhana: ketika warna biru untuk anak laki-laki, dan warna merah muda atau pink yang melulu untuk anak perempuan. Walaupun mungkin jaman kini semakin berkembang, menyaksikan pandangan tradisional terasa masih menarik. “Tea and Sympathy” adalah salah satunya. Film ini mengkritik akan stereotip maskulinitas yang kerap kali terjadi dalam dunia pria.

Pusat perhatian dari cerita “Tea and Sympathy” adalah seorang remaja 17 tahun bernama Tom Lee, diperankan oleh John Kerr. Lee berambisi untuk menjadi seorang pemusik. Oleh sebab itu, Ia cenderung lebih meminati seni. Seni tari, drama, dan tentunya musik menjadi santapan kegiatannya. Tak hanya itu, Ia juga pandai bermain tenis. Akan tetapi, semua hal yang menjadi kegiatan favoritnya tidak dianggap sebagai perilaku yang mencerminkan sifat seorang pria.

tea and sympathy
Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer © 1956

Hal berlanjut ketika sang ayah, Herb Lee, yang diperankan oleh Edward Andrews, mengunjungi putranya. Ia mendengar bagaimana Tom menjadi buah bibir. Mereka pun tak segan untuk memanggilnya ‘sister boy,’ sebuah julukan yang mengibaratkan Tom sebagai banci. Mendengar kejadian ini, Herb semakin bertingkah. Ia malah semakin memaksa putranya untuk dapat bertingkah laku layaknya anak-anak yang lain. Di sisi lain, Ia meminta bantuan Bill Reynolds, guru sekaligus kepala rumah Tom, diperankan oleh Leif Erickson, untuk membantu Tom.

Laura, istri Bill, yang diperankan oleh Deborah Kerr, termasuk satu-satunya orang yang memperhatikan Tom. Ia mendengar bagaimana perlakuan persekusi yang terasa dihalalkan, walaupun di sisi lain Ia memahami anak ini. Ketika Tom berada dalam posisi yang semakin disudutkan, Laura berniat ingin membantunya, bahkan sampai tahap yang mampu merenggut perkawinannya.

tea and sympathy
Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer © 1956

Menyajikan “Tea and Sympathy” pada jamannya sebetulnya cukup dibilang tidak mudah. Cerita film ini sebetulnya diangkat dari sebuah pentas Broadway yang sudah tayang 2 tahun berjudul sama. Ketika diangkat ke dalam versi layar lebar, penulis ceritanya, Robert Anderson, kembali didapuk sebagai penulis naskah film ini.

Bila Anda menyadari, tema yang diangkat Anderson melalui film ini terasa begitu tabu pada masanya. Jika sekilas anda memahami Tom sebagai sosok yang memang berbeda, dan menyukai Laura, itu hanya terasa sebagai sebuah klise pembenaran dari versi halusnya. Sebetulnya, cerita film ini jauh lebih dari itu. Anderson sebetulnya ingin menyentil tema homoseksualitas yang pada masa itu pasti tidak akan lulus sensor. Alhasil, “Tea and Sympathy” tidak benar-benar dapat terlihat sebagai film drama LGBT.

tea and sympathy
Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer © 1956

Film ini disutradarai oleh Vincente Minelli, sutradara yang sudah sukses melalui “An American in Paris” yang juga nantinya sukses melalui film “Gigi.” Ayah dari Liza Minelli ini menyajikan sebuah film yang terasa cukup amat mengalir, walaupun jika dipikir lokasi-lokasi setting yang dihadirkan sebetulnya hanya berputar disitu saja. Salah satu bagian yang saya sukai adalah bagaimana film ini membuka ceritanya. Membawa kamera menyusuri kelompok-kelompok sambil memancing penonton untuk mendengar topik-topik yang mereka bahas. Sampai akhirnya kita tidak mengira dengan sosok Tom.

Sebagai sebuah drama yang diangkat dari Broadway, tentunya kita sudah akan berekspektasi jika ini sebuah film yang serius. Yang tentunya jauh dari film-film Minelli yang dikenal khalayak umum. Dialog-dialog serius hampir terasa memenuhi segala tempat. Mulai dari perdebatan receh, seperti ketika Tom mengkritisi pemikiran teman sekamarnya, Ralph; sampai ke perseteruan antara Laura dan Bill hanya gara-gara membahas Tom. Hal inilah mungkin yang membuat bagaimana “Tea and Sympathy” masih diperankan oleh para original cast-nya.

tea and sympathy
Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer © 1956

Dari sisi ansambel, saya amat menyukai penampilan Deborah Kerr dan John Kerr di film ini. Walaupun sebetulnya tidak ada hubungan dari kedua pemilik marga sama ini, keduanya tampil amat menawan. Saya amat menikmati bagaimana keduanya mampu menghidupi kedua karakter yang amat kritis, yang selalu mempertanyakan dan mendiskusikan hal-hal yang memang tidak dapat dipandang ‘aneh.’ Ini belum termasuk dengan karisma yang dihadirkan Kerr disini. Ini sedikit mengingatkan saya dengan penampilannya sebagai Anna dalam “The King and I.”

“Tea and Sympathy” merupakan sebuah tontonan yang akan memantik penonton untuk berdiskusi dengan keresahan yang dialami kedua karakter utamanya. Mulai dari, apakah ketika seorang laki-laki bertubuh atletis maka akan terasa tak pantas untuk dicap banci? Atau, apakah ketika seorang laki-laki memerankan karakter perempuan dapat dicap banci?  Apakah salah jika seorang laki-laki punya kemampuan menjahit dan memasak? Apakah seseorang harus dikatakan sebagai seorang laki-laki ketika Ia sudah meniduri seorang perempuan? Semua ini jadi serangkaian membuat penonton berpikir kembali apakah benar untuk mengkotak-kotakkan semua ini?

tea and sympathy
Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer © 1956

Bagi saya, apa yang dihadirkan “Tea and Sympathy” adalah salah satu yang cukup berani pada masanya. Memang sih, kalau bicara kondisi saat ini rasanya sudah tidak terlalu lumrah, walaupun belum seantero dunia ini. Misalnya seperti gebrakan produk kecantikan pria oleh fenomena K-Pop terasa berhasil untuk meyakinkan jikalau produk kecantikan tak hanya untuk wanita. Alhasil, ini sudah jadi hal yang terasa wajar-wajar saja. Malah, saya merasa kadang pandangan ini jadi terlalu luntur. Tapi kita tidak akan berbicara lebih jauh tentang hal tersebut.

Sayang saja, pada versi yang saya tonton, film ini seakan belum mendapatkan perhatian untuk direstorasi. Aspek warna yang kerap berubah ketika masuk transisi adegan, gambar adegan yang tidak stabil, film grain yang berlebihan sampai beberapa shot yang dipenuhi debu atau lecet. Besar harapan jika nanti Warner Bros tak hanya sekedar memindahkannya ke dalam versi format terbaru, tetapi mampu merestorasi kerusakan akibat dimakan jaman.

Kembali ke topik. Jadi, apakah “Tea and Sympathy” adalah film yang patut ditonton? Menurut saya, ini adalah sebuah tontonan yang kritis. Kita dapat berdiskusi sebagaimana versi yang terlihat, yang halus, tetapi juga dapat berbincang jauh pada hal-hal yang dikemas secara implisit oleh film ini. A must watch!

Tea and Sympathy (1956)
Approved, 122 menit
Drama
Director: Vincente Minelli
Writers: Robert Anderson
Full Cast: Deborah Kerr, John Kerr, Leif Erickson, Edward Andrews, Darryl Hickman, Norma Crane, Dean Jones, Jacqueline deWit, Tom Laughlin, Ralph Votrian, Steven Terrell, Kip King, Jimmy Hayes, Richard Tyler, Don Burnett
#722 – Tea and Sympathy (1956) was last modified: Juni 21st, 2023 by Bavner Donaldo