Pemahaman laki-laki dan perempuan memang sudah tidak sesimpel dulu. Dulu, orang hanya membedakan dari bagaimana kondisi biologis seseorang dilahirkan. Sekarang, adanya pemahaman akan gender memberi batas baru yang memberi keunikan, jikalau seseorang bisa memilih untuk hidup sesuai dengan karakteristik yang Ia mau. Melalui “Gender Transformation,” penonton akan dibawa ke dalam sebuah tontonan yang mengkritik akan transgender.

gender transformation
Courtesy of EpochTV © 2023

Transgender sendiri dapat diartikan sebagai individu-individu yang merasa identitas gendernya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya saat lahir. Misalnya, ketika seseorang terlahir sebagai laki-laki, namun menjelang dewasa Ia merasa dirinya perempuan, dan memutuskan untuk hidup sebagai perempuan. Begitu juga sebaliknya.

“Gender Transformation” sebetulnya mengkritik bagaimana sistem yang berjalan di Amerika saat ini. Sekolah, yang menjadi ruang dimana anak-anak mendapatkan pendidikan, menjadi salah satu tempat yang cukup berbahaya. Ini terbukti dari bagaimana pendidikan di Amerika Serikat yang mulai mengajarkan agar anak-anaknya dapat memilih gender yang sesuai Ia inginkan. Realitanya, kebebasan yang terasa dihadirkan pada individu-individu belum matang ini malah membuatnya menjadi pelik.

gender transformation
Courtesy of EpochTV © 2023

Salah satunya contohnya adalah Yaeli, seorang anak perempuan yang menjadi salah satu tokoh dari docudrama ini. Suatu hari, Yaeli memutuskan bila Ia ingin hidup sebagai laki-laki. Berkat bantuan pertemanan di sekolah, Ia berhasil mendapatkan lindungan dari sistem ini. Malapetakanya, sang Ibu malah dituduh melakukan kekerasan padanya. Ia pun sampai harus tinggal di rumah khusus, sebagai bagian upaya penjaminan yang dilakukan pemerintah.

Film ini menyentil bagaimana sistem yang terstruktur saat ini terasa menyimpang. Ketika negara berupaya untuk menjadi hak-hak hidup setiap individunya, hal ini terasa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Misalnya saja ketika membahas bagaimana industri kesehatan amat bermain dalam bagian ini. Salah satunya adalah ketika psikiater yang mendorong seseorang untuk segera mengkonsumsi hormon sesuai dengan yang dia inginkan. Yang jadi masalah, target utama mereka adalah para generasi muda.

gender transformation
Courtesy of EpochTV © 2023

“Gender Transformation” terasa hadir cukup keras dalam melawan praktik ini. Tak main-main, film ini juga menghadirkan beberapa sosok yang kini merupakan detransitioner, sebuah sebutan bagi para individu yang sempat menjadi transgender, namun kembali ke kondisi semula. Cerita-cerita dari para detransitioner seakan mengindikasikan jikalau seharusnya seseorang harus hidup dengan apa yang Ia miliki sejak lahir. Pada versi ekstrimnya, Walt Heyer, salah satu narasumber di film ini yang juga detransitioner, mengatakan bahwa ketika seseorang memutuskan menjadi transgender, Ia menjadi hidup dengan topeng.

Sebetulnya, saya tidak merasa jika film ini menganggap LGBT sebagai sebuah hal yang salah. Akan tetapi, yang dikritisi adalah bagaimana sistem yang tercipta sekalipun tidak mampu untuk membendung upaya pengajaran yang diberikan oleh orang tua. Memang sih, film ini tidak menyentil masalah orientasi seksual seorang individu. Yang lebih disentil adalah bagaimana seharusnya individu memiliki penerimaan akan kondisi fisik biologisnya.

gender transformation
Courtesy of EpochTV © 2023

Mengapa demikian? Bila Anda sadari, konsekuensi akan media sosial, yang mempromosikan kehidupan para individu yang melakukan proses ini, memicu semakin banyak anak muda yang terpengaruh. Ketika memasuki umur tertentu, dan mereka telah dianggap mampu untuk mengambil keputusannya sendiri, celah ini yang terasa dimanfaatkan.

Anak-anak muda kemudian akan melakukan operasi pengangkatan payudara ataupun kelaminnya dan mulai mengkonsumsi hormon, yang amat mungkin mendorong mereka pada depresi dan keinginan untuk bunuh diri. Mereka akan dilindungi dari kelompok komunitasnya, baik yang ada di sekolah, termasuk ke dalam sistem pemerintah. Alhasil, orang tua tidak memiliki daya apapun dengan sistem ini.

gender transformation
Courtesy of EpochTV © 2023

“Gender Transformation” benar-benar amat berani untuk mengungkap sisi lain yang jarang kita lihat. Penerapan gender-affirming care melalui pemberian hormon dan operasi plastik pada anak muda, tidak harus dilalui dengan semudah itu, seperti realita yang diangkat. Perlu ada tindakan dalam mengobati gender dysphoria, dan tidak selamanya melakukan transisi sebagai jawaban utamanya. Tontonan yang amat membuka mata.

Gender Transformation: The Untold Realities (2023)
103 menit
Documentary
Director: Tobias Elvhage
Writers: Tobias Elvhage, Liza Morberg
Full Cast: Jennifer Bilek, Kali Fontanilla, Erin Friday, Pamela Garfield, Miriam Grossman, Walt Heyer, Michael Laidlaw, Christy Lozano, Katherine Welch, Abigail Martinez, Chloe Cole, Abel Garcia, Cat Cattinson, David Bacon
#721 – Gender Transformation: The Untold Realities (2023) was last modified: Juni 21st, 2023 by Bavner Donaldo