It’s getting intense! Adalah seruan saya pada tiap permulaan adegan menegangkan dalam film ini. Film berdurasi seratus sembilan menit ini mengaku bergenre drama. Tidak salah, tapi ternyata nuansa noir yang menjadi bagian dari film ini lebih kental dari drama itu sendiri. “Good Guy with a Gun” membuat saya kembali mempertanyakan, jadi di mana sebetulnya batas antara jahat dan baik?

Hubungan Will Greenwood (Beck Nolan) dan ibunya (Tiffany Bedwell) memburuk sepeninggal kepala keluarga mereka di tangan seseorang dengan senapan. Hubungan mereka bertambah renggang setelah Will bergabung dengan sekumpulan para pegiat senapan dan terjerat konflik pelik di dalamnya. Ironi, bukan?

good with a gun
Courtesy of Amarok Productions, Minimal Productions, Zombie Army Productions © 2022

Cara film ini mengantar bagian pengenalan menuju konflik cukup rapi, tidak membosankan, dan natural, meskipun belum terasa istimewa. Saya kira, saya hanya akan disuguhkan konflik-konflik sosial di sebuah kota kecil, kesederhanaan gaya hidup mereka, dan beragam karakter manusia berikut keabu-abuannya. Namun, rupanya John Mossman sebagai sutradara tidak menaruh visi sesederhana itu. Sepanjang film, saya diberi scene-scene dengan pencahayaan cerah, dan pemandangan hangat. Hal ini terbilang menipu mengingat betapa terkesannya saya ketika tiba-tiba jantung dipaksa berpacu karena ketegangan yang berhasil ditarik naik tanpa tanggung-tanggung.

Kemahiran sang sutradara dalam membuat adegan-adegan menegangkan makin sempurna dengan kemampuan olah sukma para aktor dan aktris yang berperan. Pemeran Tessa Greenwood (Tiffany Bedwell) berhasil mencuri perhatian saya berkali-kali. Kebulatan suara dan gestur tipis di wajahnya memberikan kesan detail yang membuat tiap adegan emosional terasa nyata. Pemeran Duke (Dan Waller) juga tidak kalah dalam menunjukkan kebolehannya memerankan tokoh antagonis yang menjadi penyulut tiap momen menegangkan dalam film ini.

good with a gun
Courtesy of Amarok Productions, Minimal Productions, Zombie Army Productions © 2022

Tidak terlupa musik latar yang juga berperan penting dalam membangun perasaan penonton, terutama pada bagian wawancara yang dilakukan salah satu opas terhadap Will selepas konflik utama. Ide musik latar dengan tone yang tiba-tiba melejit, itu brilian.

Terlepas dari rapi dan berhasilnya film ini membuat saya betah menonton, Saya menangkap beberapa hal teknis yang sedikit mengurangi kenyamanan. Seperti cut dengan patahan kurang rapi pada scene dialog antara Tessa dan Jerry, penerangan redup dengan noise kurang bersih pada bagian shoot transisi mengarah ke lampu, dan gestur adegan guling-guling yang terasa berlebihan–karena tidak memperlihatkan sebab dari mengapa tokoh tersebut sampai berguling-guling. Namun, tentu saja hal-hal ini tidak sampai mengganggu jalannya cerita.

good with a gun
Courtesy of Amarok Productions, Minimal Productions, Zombie Army Productions © 2022

“Good Guy with a Gun” adalah film yang cenderung maskulin dengan suguhan pengalaman yang memancing adrenalin. Anda akan melihat senapan, darah, kekerasan, mendengar tembakan, ledakan, teriakan, dan seolah-olah merasakan uji nyali. Meski demikian, John Mossman tidak serta merta meninggalkan sisi feminin di dalamnya seperti romansa, keluarga, pertemanan sampai perkara yang sifatnya sentimentil. Jadi, film ini bukan sekadar tontonan macho, melainkan tontonan paket lengkap dengan akhir yang manis.

Good Guy with a Guy (2022)
109 menit
Drama
Director: John Mossman
Writer: John Mossman
Full Cast: Beck Nolan, Jack Cain, Tiffany Bedwell, Dan Waller, Ian Barford, David Stobbe, Morgan P. Allen, Liv Shine, John Mossman, Joe Swanberg, John LaFlamboy, David Pasquesi, Jennifer Jelsema, Elizabeth Laidlaw, Skye Shrum, Roger Welp, Kathy Scambiatterra, Chad Kaple, Jeff Christian
#645 – Good Guy with a Gun (2022) was last modified: Desember 12th, 2022 by Nada Kirana