Disebut sebagai film buatan Arifin C. Noer yang paling puitis, “Biarkan Bulan Itu” hadir sebagai salah satu unggulan di tahun 1986. Film berdurasi 108 menit ini menceritakan percintaan Dayan dan Dewi, seorang bos dan sekretarisnya, yang menjalin kasih sebagai hasil kekosongan hati mereka.

Kisah diawali dengan kepulangan Dayan, diperankan oleh El Manik, dari London ke Jakarta. Ia cukup gelisah dengan vonis dokter dari penyakit yang dideritanya. Di sisi lain, Anneke, diperankan oleh Rima Melati, istri Dayan, sedang cukup sibuk untuk mengurus kegiatan organisasinya yang bergerak di bidang pemberdayaan wanita. Keaktifan Anneka membuat Dayan merasa Ia mulai pelan-pelan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Apalagi ini ditambah dengan rekaman Ardi, diperankan Yongki Tumbuan, yang mengaku bila rapornya saja diambil oleh Nyai, yang diperankan Deliana Surawijaya.

biarkan bulan itu
Courtesy of Rapi Film © 1986

Sosok yang lain, Dewi, yang diperankan oleh Marissa Haque, adalah seorang sekretaris yang sakit hati ditinggal menikah sang pujaan hati. Ia sebetulnya telah menyimpan perasaan pada Ferico, diperankan oleh Ikang Fawzi, seorang penyanyi sekaligus seniman yang taat agama. Beberapa saat kemudian, Ferico kembali mengejar-ngejar Dewi. Ia baru saja menceraikan istrinya. Sayang, Dewi telah memiliki pujaan hati pelampiasan yang baru, Dayan.

Arifin C. Noer menayangkan sebuah drama percintaan dengan kualitas yang baik. Dari sisi cerita dan naskah, cukup banyak narasi-narasi dalam hati para karakternya, terutama pada karakter Dayan dan Dewi. Dialog antar tokoh dalam film ini juga dikemas agak berbau puitis, dengan cukup bersadar dengan pemilihan kata-kata penuh makna yang cukup tak biasa untuk saat kini.

Dari sisi penampilannya, El Manik berhasil tampil sebagai seseorang yang begitu hampa. Kekosongan jiwanya yang berbalut vonis dokter yang menghantuinya, membawa karakter utama ini kedalam sebuah kondisi perselingkuhan yang mendukung. Begitupun dengan Dewi, yang sebetulnya memang punya latar belakang kurang baik. Marissa Haque cukup menawan dengan menjadi sekretaris cantik yang tidak terlalu menggoda, namun berhasil memikat atasannya.

209-picture3
Courtesy of Rapi Film © 1986

Love interest kedua tokoh utama dalam film ini, Rima Melati dan Ikang Fawzi, juga cukup berperan banyak. Kepopuleran Fawzi yang kala itu juga merupakan seorang penyanyi, ternyata dapat porsi lebih di film ini. Dalam film ini, ada beberapa adegan Ferico menyanyikan beberapa theme song film ini. Sayang saja, terlalu outdated buat saya. Kalau Rima Melati, sosok legenda ini berhasil jadi antagonis. Walau tidak terlalu sesering muncul seperti Fawzi, Melati mampu mencuri setiap adegan-adegan drama Anneke dan Dayan. Salah satu favorit scene Saya di film ini adalah ketika percakapan Anneke dan Dayan di ending cerita ini.

Selain Melati ataupun Fawzi, penonton akan melihat aksi Aminah Cendrakasih sebagai tante kos-kosan Dewi yang cukup matre, Rina Hassim sebagai keluarga Dewi di Surabaya, hingga H.I.M Damsyik yang jadi manajer tua di perusahaan milik Dayan. Sungguh menyenangkan dapat menyaksikan tokoh-tokoh tersebut beradu akting di masa lalu.

209-picture5
Courtesy of Rapi Film © 1986

Menyaksikan film hasil restorasi dari channel Flik.Tv, film buatan Rapi Films terlihat cukup menarik, terutama pada tampilan screen aspect ratio aslinya, yang tentu lebih baik dari edaran VCD original film ini. Sayang saja, pada beberapa scene, masih terdapat bagian-bagian yang terlihat belum di-restored dan kadang ada beberapa bagian recording audio yang tidak sejalan dengan ucapan para aktor.

Film ini merupakan salah satu unggulan dalam Festival Film Indonesia tahun 1987, yang berarti salah satu Top 5 tahun tersebut. Berhasil mengumpulkan 12 nominasi, mulai dari Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik (El Manik), Aktris Terbaik (Marissa Haque), Aktris Pembantu Terbaik (Rima Melati), Cerita Terbaik, Skenario Terbaik, hingga 5 nominasi teknikal lainnya. Tragisnya, tidak ada satupun yang berhasil dimenangkannya. Film “Naga Bonar” yang berhasil menyapu sebagian besar penghargaan yang ada saat itu.

209-picture7
Courtesy of Rapi Film © 1986

“Biarkan Bulan Itu” juga menghadirkan set-set lokasi yang cukup menarik. Salah satunya adalah adegan El Manik dan Marissa Haque yang guling-gulingan di pantai, sedikit mirip namun tidak se-sensual “From Here to Eternity”-nya Hollywood. Yang lebih saya sukai adalah gambar Jakarta di akhir 80-an yang diperlihatkan. Mulai dari Bandara Soetta yang masih telihat megah, Maskapai Garuda yang masih berlogo merah-oranye, hingga jalan Jenderal Sudirman yang belum semegah saat ini.

Alhasil, film yang sudah berusia 30 tahun ini mampu menjadi salah satu memorabilia film bagus dari masa lampau. Walaupun sebetulnya masih cukup jauh dengan film-film asing di masanya, tidak ada salahnya menyaksikan tontonan jadul ini, karena masih lebih baik ketimbang menyaksikan sinetron-sinetron stripping di siaran lokal yang tak jelas arah ceritanya.

Biarkan Bulan Itu (1986)
108 menit
Drama, Romance
Director: Arifin C. Noer
Writer: Arifin C. Noer
Full Cast: El Manik, Rima Melati, Marissa Haque, Ikang Fawzi, Deliana Surawijaya, Aminah Cendrakasih, Indra Widyawati, Rina Hassim, Galeb Husein, Ratno Timoer, H.I.M. Damsyik, Ronny M. Toha, Anton Indracaya, Yongki Tumbuan, Charles Sirait, Gatot Hanggarjati, Yunita Sastradimadja, Lida Ekawati, Yanuar Hukuzaro, Rudy Bordot, Herry L.M. Riki Mbetik, Yoyik Lembayung, Athoq Klobot, Freddy Fls Zia, Karsiman, Anton Samiat

#209 – Biarkan Bulan Itu (1986) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo