Sebelum bicara jauh mengenai “Bei Bei,” saya ingin membawa Anda ke peristiwa yang terakhir beberapa bulan terakhir ini. Sepeninggalnya RBG, Amerika Serikat sempat diperhadapkan terkait dengan pilihan Presiden Trump akan calon anggota Supremes Court yang diusulkannya, Amy Coney Barrett. Salah satu topic yang selalu jadi bahasan hot para anggota senator adalah mengenai kasus Roe vs Wade yang mempermasalahkan tentang aborsi. Yup, bicara aborsi, Amerika Serikat memang telah mengaturnya sebagai sebuah aksi yang legal dilakukan oleh sang Ibu. Alasannya, janin yang masih dikandung oleh seorang wanita merupakan bagian dari haknya untuk memutuskan.

Okay, jangan complain dulu. Memang bicara mengenai aborsi, hal ini akan berbeda dengan sudut pandang kita yang beragam. Ada agama yang menilai semenjak terbentuknya janin, maka sudah terbilang dianggap nyawa. Contoh simpel, seperti di Korea, ketika usia janin sudah dihitung sejak di dalam perut. Itulah mengapa orang Korea menambahkan satu pada usia mereka. Maksudnya, ketika mereka berusia 17 tahun, sebetulnya mereka masih 16 tahun. Lain pula dengan kebudayaan di Tiongkok. Pemahaman disana, ketika seorang wanita belum melahirkan anaknya, maka itu belum dianggap sebagai seorang manusia.

bei bei
Courtesy of Incite Pictures © 2019

Nah, lalu apa hubungannya dengan “Bei Bei”? Ini yang menarik. Ketika standing position US Supreme Court, kali ini berbeda pada negara bagian Indiana yang sebetulnya amat konservatif. Seorang imigran asal Tiongkok, bernama Bei Bei Shuai, berhasil menjadi sensasi internasional setelah dianggap melakukan pembunuhan pada janinnya. Tidak main-main, Bei Bei menjadi perempuan pertama dengan kasus tersebut di Indiana. Dianggap sebagai pembunuh, membuat kasus Bei Bei menjadi sesuatu yang hot.

bei bei
Courtesy of Incite Pictures © 2019

Dalam film ini, sutradara Marion Lipschutz dan Rose Rosenblatt akan banyak terfokus untuk membawa kita ke dalam pasca kebebasan bersyarat Bei Bei. Menariknya, dengan sedikit flashback, film ini memperlihatkan bagaimana Bei Bei Shuai dan pengacaranya, Linda Pence, memasuki tahap yang baru. Menjalani masa penahanan di penjara lebih dari 1 tahun adalah pengalaman yang menyakitkan. Apalagi ketika masuk ke dalam kisah Bei Bei.

bei bei
Courtesy of Incite Pictures © 2019

Bei Bei, saat itu adalah seorang pekerja di sebuah restoran chinese food. Ia mengadu nasib ke Amerika Serikat seorang diri, tanpa keluarga. Suatu ketika, Ia terlibat percintaan dengan seorang chef yang sudah senior disana, dan dari sanalah mereka melakukan premarital sex. Alhasil, Bei Bei mengandung. Ia pun menitipkan uang untuk persalinannya pada pria tersebut sampai akhirnya Ia menghilang tanpa jejak.

bei bei
Courtesy of Incite Pictures © 2019

Bei Bei yang seorang diri memutuskan untuk meminum racun dan bunuh diri. Ia menulis sebuah surat, tapi malang keburu tertolong di rumah sakit. Janin yang didalam perutnya kemudian dilahirkan oleh dokter secara cesar. Apesnya lagi, setelah beberapa hari anak yang dilahirkan memang dalam kondisi lemah yang sulit untuk ditolong. Ditinggal sang kekasih dan sepeninggalnya sang anak, Bei Bei tidak menyangka bila aksi gagal bunuh dirinya berlanjut ke meja persidangan.

bei bei
Courtesy of Incite Pictures © 2019

Tenang, saya belum terlalu men-spoiler ceritanya. Apa yang ditawarkan film ini adalah membawa kita ke dalam perjalanan emosional seorang Bei Bei untuk kembali bangkit dan menata hidupnya. Walaupun seorang diri, kita akan menyadari bila Ia memiliki orang-orang baik yang mau mendukungnya. Dokumenter yang mungkin sekilas membuat kita kurang tersentuh dengan premisnya, akan membuka mata penonton ketika kita masuk ke dalamnya. Seperti biasanya, don’t judge the book by its cover.

bei bei
Courtesy of Incite Pictures © 2019

Tontonan yang tidak terlalu panjang ini sebetulnya mengkritisi bagaimana masalah hukum di Amerika Serikat terasa bertolak belakang. Ketika seorang wanita memiliki hak untuk mengatur kehidupan, baik tubuhnya, maka, apakah sebuah kesalahan secara hukum untuk membuatnya menghilangkan nyawa? Yang bersalah itu adalah ketika kita menyuruh seseorang atau memaksa mereka untuk bunuh diri. Sebuah suguhan yang membuka mata.

 

Film Bei Bei merupakan salah satu featured film yang mengisi lineup rePro Film Festival yang dilakukan secara virtual pada 9-18 Agustus, 2021 mendatang. Festival ini merupakan sebuah festival yang terfokus pada masalah kesehatan reproduksi wanita. Untuk menyaksikan Bei Bei, anda dapat membeli akses All Pass, atau jika hanya berminat menyaksikannya bisa beli disini. Untuk informasi lebih lanjut tentang rePro Film Festival, silakan cek di https://www.reprofilmfest.com/. Thanks to Kara MacLean from K2 Publicity dan rePro Film Festival giving all access pass to screening links.

 

Bei Bei (2019)
88 menit
Documentary
Director: Marion Lipschutz, Rose Rosenblatt
Full Cast: Bei Bei Shuai, Linda Pence

#578 – Bei Bei (2019) was last modified: Agustus 3rd, 2021 by Bavner Donaldo