Suatu hal yang dianggap spesial kadang bisa menyebalkan. Misalnya, ketika ada sebuah restoran yang jadi talk of the town, diserbu pengunjung yang penasaran, dan ending­nya mereka rela untuk mengantre, ataupun menunggu waiting list yang mencapai nomor urut ratusan. Tak hanya resto, begitu juga dengan hotel-hotel private. Salah satunya hotel ini. Perlu waktu 2 tahun bagi seorang Rémi untuk dapat mengambangi hotel yang namanya sesuai dengan judul film ini, “Judith Hotel.”

Rémi, diperankan oleh Jean-Baptiste Sagory, adalah seorang penderita insomnia kronik selama delapan tahun terakhir. Efeknya, Ia seperti hidup diantara dua hal, realita dan imajinasi. Tanpa keluarga dan statusnya single, pria ini bergegas sendirian memasuki sebuah hotel bernuansa classy yang seperti terletak jauh dari sebuah hutan.

Courtesy of FullDawa Films, Nexus Factory, La Baraque à Films, Umedia, uFund, Shorts TV © 2018

Sesampai disana, Ia disambut oleh manajer hotel bernama Frank, pria berambut panjang dan sedikit sangar, yang diperankan oleh Christophe Bier. Sambutan awal sebagai pengunjung hotel ini ternyata tidak seperti hotel biasanya yang memberikan kita welcome drink ataupun warm towel, Rémi malahan dikonfirmasi dengan ditanyakan beberapa permintaan. Lho kok? Setelah saya menyadari, ternyata Judith Hotel terasa begitu spesial.

Courtesy of FullDawa Films, Nexus Factory, La Baraque à Films, Umedia, uFund, Shorts TV © 2018

Film pendek berdurasi 16 menit dirilis di Cannes Film Festival pada edisi yang ke-71. Sutradara Charlotte Le Bon menulis ceritanya dengan memasukkan banyak detil yang semakin saya sadari ketika mengulang-ngulang film ini. Dari sana, saya semakin memahami bagaimana membedakan antara realita dan fiksi dunia Rémi, termasuk karakter-karakter pelengkap dalam ceritanya.

Courtesy of FullDawa Films, Nexus Factory, La Baraque à Films, Umedia, uFund, Shorts TV © 2018

Dari penyajiannya, saya menikmati sajian bertemakan avant-garde dengan kelengkapan karakter-karakter unik yang menyelimuti kisah ini. Mulai dari manusia dengan kepala bertutupkan kertas pembungkus, pria androgyny, Suzy si perempuan aneh yang selalu membawa kaca yang berwujud gadget, dan Louis, si pria pemakan tinta bolpoin. Kesemuanya ini dihadirkan dengan penokohan yang jelas dan membuat kita ‘paham’ dengan apa yang terjadi sebetulnya dengan mereka.

Courtesy of FullDawa Films, Nexus Factory, La Baraque à Films, Umedia, uFund, Shorts TV © 2018

Akan tetapi, titik menarik film ini adalah sosok Judith. Jika anda akan menyaksikan film ini, nantinya anda akan memahami sebetulnya apa maksud dari penamaan hotel ini. Hotel yang selalu tidak pernah mendapat komplain dari para tamunya. Misterius bukan?

Courtesy of FullDawa Films, Nexus Factory, La Baraque à Films, Umedia, uFund, Shorts TV © 2018

In the end, “Judith Hotel” tidak hanya berhasil menjadi misterius, namun berhasil memainkan rasa tegang dan kewaspadaan saya. Penyajian yang sungguh orisinil, berbekas, dikemas baik dan mengingatkan saya dengan gaya kekerasan Eropa.

Judith Hotel (2018)
16 menit
Short, Fantasy
Director: Charlotte Le Bon
Writer: Charlotte Le Bon, Timothée Hochet
Full Cast: Sarah Calcine, Guillaume Kerbusch, Suzanne Rault-Balet, Jean-Baptiste Sagory, Christophe Bier, Claude Fraize, Louise Massin, Clarisse Lhoni-Botte, Raya Martini
#521 – Judith Hotel (2018) was last modified: November 12th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here