Sudah menjadi tradisi bagi keluarga yang berduka untuk memberikan eulogi di acara kedukaan. Kali ini, “Thunder Road” akan mengajak penontonnya untuk menyaksikan sebuah ungkapan dari seorang putra kala Ia mengenang memori sang Ibunda.

Tanpa berbasa-basi, dengan layar hitam dan judul film ini, kita langsung disituasikan dalam sebuah gereja. Seorang perempuan paruh baya menjadi pemandu acara duka, dan memulai kalimatnya. Di hadapan hadirin tampak sebuah peti biru yang berisi jenazah Brenda Millia Arnaud, seorang Ibu dari 3 anak dan nenek dari 7 cucu, yang telah berpulang dalam usia 59 tahun.

Courtesy of Mark Vashro Production © 2016

Brenda meninggalkan tiga orang putra-putri, yang ternyata hanya dihadiri oleh putranya yang terbungsu. Ia adalah James, diperankan oleh Jim Cummings, dan Ia juga mewakili saudara-saudarinya yang tidak ikut serta. Dengan berseragam polisi yang serba hitam, Ia memulai perkataannya di depan para tamu undangan.

Film yang disutradarai, ditulis dan diperankan oleh Jim Cummings ini ternyata lumayan menarik untuk disimak. Cerita yang dibawakan selama 12 menit ini, dihadirkan dalam 1 adegan saja yang sepertinya dibuat dalam long motion. Penonton tidak perlu untuk mengenali orang-orang yang lain. Anda cuma perlu terfokus mendengarkan perkataan James, layaknya hadirin yang lain.

Courtesy of Mark Vashro Production © 2016

Yang tampak menarik di film ini adalah karakter James itu sendiri. Bagaimana Ia yang terlihat sambil menjaga kewibawaanya sebagai seorang polisi, dan mengenang Ibunya, bagaimana usaha Ibunya menolong dirinya yang sebetulnya mengalami dyslexia saat masih duduk di bangku sekolah. Ataupun sampai Ia akhirnya terjebak untuk bernyanyi dan melakukan koreografi akan lagu favorit mendiang Ibunya, “Thunder Road.”

James seperti ingin menghadirkan suatu totalitas dalam mempersembahkan ungkapan terakhirnya. Lalu Ia terjebak, mulai dari usaha menutupi kesedihannya dan gengsinya, tapi berlanjut dengan perubahan emosi yang secepat kilat hingga aksi yang berujung cukup memalukan menurut saya. Alhasil, sebagai penonton, timbul pertanyaan dari saya, “Is that fake?” Apakah itu hanya ungkapan Jika ya, saya tidak heran. Saya pernah menemukan orang yang awalnya menangis berlebihan saat acara duka dan dalam sekejap bisa berhenti.

Courtesy of Mark Vashro Production © 2016

Menangis,  menari, panik, hingga merasa bersalah. Yah, film ini akan merubah emosi dengan cepat, secepat kilat. Tetapi inilah yang membuat “Thunder Road” menjadi menarik untuk disimak.

#358 – Thunder Road (2016) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here