Kisah coming-of-age yang sudah saya tonton biasanya terpaku pada karakter remaja ataupun dewasa. Mereka berusaha untuk mencoba banyak hal demi mencari jati diri mereka. Mulai dari mencoba-coba hal-hal yang tidak pernah mereka lakukan (seperti merokok, minuman keras ataupun narkoba); melakukan hubungan seksual, baik dengan lawan ataupun sesama jenis, sampai merubah diri mereka sesuai dengan stereotype gender yang ingin mereka tampilkan. Berbeda dengan film-film sebelumnya, “Tomboy” adalah sebuah observasi akan ekplorasi seorang anak mengenai gendernya.  

Film diawali dengan kepindahan sebuah keluarga ke tempat yang baru di Kota Paris. Keluarga kecil ini terdiri dari Ayah, Ibu dan dua orang anak mereka. Film ini mengajak penonton untuk mengobservasi anak tertua di keluarga ini, yang sedang mengeksplorasi lingkungan barunya, sekaligus mencari jati diri di usianya yang masih dini.

Courtesy of Hold Up Films, Arte France Cinéma, Lilies Film © 2011

Dari perawakannya, tokoh utama film ini bisa dibilang sama seperti anak laki-laki seusianya. Berambut pendek, berbadan ramping, dan punya wajah yang cukup maskulin. Dengan memperkenalkan dirinya sebagai Michael, sosok yang diperankan oleh Zoé Héran ini memulai petualangan ‘identitas baru’ di lingkungan barunya.

Sebetulnya tidak ada yang begitu ‘spesial’ ketika masuk di awal ceritanya. Penonton akan mengenal Michael, nama pertama karakter utama kita, dan bagaimana Ia cukup dekat dengan adik perempuannya. Akan tetapi, di menit ke-20 film ini, saya dikejutkan dengan identitas Michael yang sebenarnya. Namanya ternyata adalah Laure, dan Ia memiliki tubuh seorang anak perempuan. Androgyny ternyata… Saya merasa cukup tertipu setelah menyaksikan full frontal nudity tokoh kita ini. Yah, agak sedikit percaya tidak percaya sih.

Courtesy of Hold Up Films, Arte France Cinéma, Lilies Film © 2011

Dalam lingkungan barunya, Michael bermain bersama teman-teman barunya yang mayoritas laki-laki. Juga ada sosok Lisa, diperankan oleh Jeanne Disson, yang bak putri diantara para jantan. Layaknya anak-anak lainnya, mereka senang untuk bermain bola, berenang, hingga bermain truth or dare yang kadang cukup di ’luar batas’. Agar penyamaran semakin afdol, Michael berusaha meniru rekan-rekannya. Ia juga ikut bermain bola tanpa memakai baju. Plus, yang membuat ceritanya menjadi semakin menarik adalah ketika karakter Lisa mulai tertarik dengan sosok Michael.

Tentu bila melihat premis yang telah saya utarakan, Anda mungkin akan menebak dengan gamblang bagaimana cerita film ini akan berlanjut. Yah, dengan durasi yang terbilang singkat, film Prancis ini berangkat dengan ide sederhana tapi cemerlang, dan berjalan dengan cukup wise. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Céline Sciamma ini terbilang efektif, untuk menyentil penonton dengan hal-hal yang kadang tidak terlalu kita sadari, tapi ini yang mungkin seringkali bisa terjadi pada anak-anak. Maksud saya, seperti bagaimana usaha Laure untuk menutupi identitasnya. Ataupun, bagaimana ‘kenakalan’ anak-anak yang tanpa kita sadari sedikit terkesan ‘menyerang’ hak.

Courtesy of Hold Up Films, Arte France Cinéma, Lilies Film © 2011

Dua jempol untuk penampilan Zoé Héran disini. Di featured film pertamanya, saya suka dengan tatapan wajahnya yang buat saya cukup cinematic. Héran dengan cukup terkendali bisa menyimpan segala emosi yang ingin diungkapkannya hanya lewat tatapan dan mimiknya. Tapi, penampilan Malonn Lévana juga terbilang mengesankan. Berbeda dengan karakter kakaknya yang lebih pendiam, Lévana yang berperan sebagai Jeanne disini hadir lebih ekspresif dengan wajah imutnya. Salah satu adegan yang saya sukai adalah ketika Ia cukup heran dan bingung ketika menyadari jika saudaranya sedang berpura-pura menjadi seorang laki-laki.

Seperti kata pepatah, “angin tak dapat ditangkap, asap tak dapat digenggam.” Namanya rahasia, tak akan bisa untuk selamanya. Secara keseluruhan, apa yang ingin disampaikan film ini cukup tersampaikan, bahwa sebetulnya tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Laure. Dalam catatan saya, mungkin Laure hanya terbilang kurang tepat saja. Yah, melakukan pembohongan publik patut dihindari, mengingat peluang akan adanya pihak yang merasa dirugikan ataupun tersakiti.

#357 – Tomboy (2011) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here