Film Indonesia mungkin sudah cukup diwarnai banyak cerita cinta. Yang berbekas di benak saya mungkin kisah Rangga dan Cinta dalam “Ada Apa Dengan Cinta” yang selalu menggantung, ataupun cerita tragis Rachel dan Farel dalam “Heart.” Kali ini, sutradara senior Garin Nugroho akan membawa penonton ke sebuah drama nan puitis dengan judul “Aach… Aku Jatuh Cinta.”

Seperti judulnya, film ini mengawali cerita untuk mengabarkan penonton bila ini adalah sebuah flashback. Kita akan mengenali sosok Yulia, diperankan oleh Pevita Pearce, yang menceritakan bagaimana Ia sedang berada di Stasiun Tugu, pada era 90-an, sambil berusaha menulis cerita cintanya terhadap seseorang pria yang dikenalnya sejak lama. Pembuka puitisnya seperti ini: “Yang pasti, jika Adam dan Hawa dimulai dari sebuah apel, aku akan menulis buku harian ini dari botol ini, dari sari buah jeruk di negeri ini.” Dan begitulah Yulia memulai kisahnya.

526 picture4
Courtesy of MVP Pictures © 2016

“Buah apel dalam kisah Adam dan Hawa membawa kisah penuh drama tak terduga. Botol limun Rumi membawa cerita-cerita masa SMA yang bicara tentang keindahan tubuh dan bibir yang tak bisa dihentikan.” Kita akan berkenalan dengan Rumi, teman kecil Yulia yang diperankan oleh Chicco Jericco. Rumi selalu bersama dengan Yulia hingga SMA. Penonton pun akan mempelajari bagaimana kenakalan-kenakalan Rumi yang sudah ada sejak dini. Mulai dari mengintip celana dalam mbok Gudeg, usil pada bocah lain yang mendekati Yulia, sampai mengambil bra Yulia ketika mereka sedang adu judo. Dasar.

Walaupun terlihat badung, namun Yulia tetap masih berinteraksi dengan Rumi. Padahal, Ibunda Yulia kurang menyukai Rumi dikarenakan tragedi orangtua Rumi yang berpisah semasa kecil. Ibunda Yulia, yang diperankan oleh Annisa Hertami, berusaha menjaga nama baik keluarga. Menariknya, Yulia memiliki orangtua blasteran. Ayahnya adalah seorang Belanda, dan Ibunya yang berasal dari darah lokal. Akan tetapi, perubahan jaman membuat Ayah Yulia meninggalkan keluarga demi bisa menjadi benalu pada perempuan lain. Alhasil, Ibunda Yulia menjadi semakin keras dalam mendidik Yulia, termasuk bekerja keras menghidupi keluarga kecilnya.

526 picture2
Courtesy of MVP Pictures © 2016

Apa yang dihadirkan oleh Garin Nugroho terasa begitu puitis, termasuk dari dialog-dialog ataupun narasi para karakternya. Dari segi cerita, Nugroho terbilang berhasil mengurai dramatisasi kisah keluarga Yulia ataupun Rumi yang menurut saya mengena untuk orang Indonesia. Akan tetapi, saya kurang menyukai bagaimana Pevita berkata-kata dengan bahasa baku di film ini. Terasa kurang natural saja buat saya.

Kembali membahas alur ceritanya, film yang berdurasi 85 menit makin lama terasa sedikit agak membosankan. Tidak seperti yang saya jumpai pada karyanya seperti “Kucumbu Indah Tubuhmu.” Saking terlalu manis dan puitisnya cerita cinta mereka yang dibalut dengan drama masing-masing, menjelang pertengahan cerita jadi membosankan. Dalam cerita mereka Nugroho juga menyelipkan politik, bagaimana Rumi dibentuk untuk menjadi penentang produk impor akibat bangkrutnya usaha keluarganya. Cerita juga mulai kembali menarik ketika flashback berakhir dan melanjutkan kehidupan Yulia menjelang pertunangannya.

526 picture6
Courtesy of MVP Pictures © 2016

Dari sisi penyajian, setting 70-an yang dihidupkan terasa begitu berwarna. Saya menikmati desain produksi yang digawangi Ong Hari Wahyu, termasuk bagaimana paduan busana yang dirancang Retno Ratih Damayanti terasa begitu berkesan. Hal ini semakin diperkuat dengan selipan-selipan lagu Ismail Marzuki berjudul “Dari Mana Datangnya Asmara,” “Payung Fantasi,” ataupun lagu dari film klasik “Tiga Dara” berjudul “Siapa Namanya.” Menarique.

Salah satu yang menonjol di film ini adalah sinematografi yang digawangi Batara Goempar. Film ini berhasil merangkai banyak sketsa-sketsa indah, termasuk bagaimana Pevita Pearce menonjol dengan momen-momen solo nan sinematik. Penyajian gambar yang begitu indah. Saya juga menikmati sedikit sentuhan musikal nan komedi ketika lagu ‘Siapa Namanya’ hadir.

526 picture5
Courtesy of MVP Pictures © 2016

Dari penampilan, sosok Pevita mungkin terasa paling pas untuk memerankan karakter Yulia yang setengah blasteran. Namun apa yang ditampilkannya dengan Chicco terasa biasa saja. Saya kurang menikmati chemistry keduanya yang sebetulnya sudah dibalut dengan banyak dialog puitis. Cuma, yang paling mencuri perhatian saya penampilan Ibunda Yulia yang diperankan begitu kuat oleh Annisa Hertami. Awalnya, saya sudah merasa wow dengan apa yang diperlihatkan oleh Nova Eliza, namun semuanya berubah ketika babak drama keluarga Yulia dimulai.

Secara keseluruhan, “Aach… Aku Jatuh Cinta” digarap dengan begitu manis, puitis dengan setting oldies yang menarik. Terlepas dari alur yang sempat membuat saya bosan untuk sementara, film yang merupakan official selection di Busan Film Festival ini terasa lebih mending untuk disaksikan ketimbang kisah menye’-menye’ yang lebih baik muncul di FTV. Andai saja chemistry kedua pemeran utamanya lebih oke dan penyampaian cerita yang tidak terasa seperti selipan-selipan nanggung, “Aach.. Aku Jatuh Cinta” pasti akan lebih berkesan. Poetically sweet!

Aach… Aku Jatuh Cinta (2016)
85 menit
Drama, Romance
Director: Garin Nugroho
Writer: Garin Nugroho
Full Cast: Chicco Jericho, Pevita Pearce, Nova Eliza, Annisa Hertami, Joko Kamto, Tony Soekardi, Angelista, Bima Azriel, Gati Andoko, Rukman Rosadi
#526 – Aach… Aku Jatuh Cinta (2016) was last modified: Juni 2nd, 2021 by Bavner Donaldo