Sudah berhasil melanglang ke berbagai festival, termasuk Venice Film Festival, film ini kembali ke tanah air. Sebagai karya teranyar dari sutradara kenamaan Indonesia, Garin Nugroho, kali ini mengangkat tema yang cukup berani. Terinspirasi dari kisah-kisah para penari Lengger Lanang, salah satunya Rianto, Garin mengangkat ceritanya ke dalam film yang berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku.”

Film ini dimulai dengan membawa penonton menyimak ke seorang penari, yang diperankan oleh Rianto, yang menatap penonton dan berkisah tentang kehidupannya. Tak disangka, dari menirukan bagaimana Ia mengingat cara kedua orangtuanya memanggilnya, film ini menjadikannya sebagai transisi untuk masuk ke dalam masa kecil Juno. Ya, penari ini bernama Juno Wahyo, yang bermakna air dan gunung. Dari arti namanya, Juno mengartikan bagaimana Ia diinginkan untuk dapat setenang air dan sekuat gunung.

kucumbu tubuh indahku
Courtesy of Fourcolours Films, Go-Studio © 2018

Masa kecil Juno terbilang tidak menyenangkan. Juno kecil, yang diperankan sangat apik oleh Raditya Evandra, hanya hidup berdua dengan sang ayah yang depresif. Untuk ukuran anak kecil, Ia terbilang sudah begitu mandiri. Suatu ketika, Ayahnya yang sering bertingkah aneh di depan sungai, memutuskan untuk pergi mencari nafkah. Ditinggal sang Ayah, Juno pun berkenalan dengan guru lengger, yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Guru lengger melihat potensi yang besar dari kelembutan dan tubuh Juno. Potensi ini kemudian diteruskannya dengan melatih putra didiknya ini. Sayang, tak lama, terjadi tragedi yang membuat Juno perlu pergi.

Kehidupan Juno memang dibilang penuh dengan banyak tragedi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh sang penari, tubuhnya adalah hasrat, sekaligus pembawa kebaikan sekaligus tragedi. Kekerasan cukup banyak menyelimuti masa-masa kehidupannya. Mulai dari bagaimana kekerasan di sekolah yang cukup kental di masa lalu, lalu kekerasan dalam keluarga yang juga terbilang biasa di jaman dulu, sampai menjadi saksi kekerasan penghabisan nyawa seseorang.

479 picture6
Courtesy of Fourcolours Films, Go-Studio © 2018

Film yang ditulis dan disutradarai oleh Garin Nugroho ini punya banyak tema cerita yang melekat dari karakter Juno. Garin membawa penonton menikmati sepotong demi sepotong ceritanya lewat selipan-selipan monolog aksi penari yang bercerita singkat, sekaligus memainkan koreografi tari dari ucapan penari yang lambat laun bergerak cepet, serta memperlihatkan aksi pengulangan sambil mengartikan makna gerakannya. Sosok Rianto begitu terasa cukup teatrikal, apalagi ketika Ia memperlihatkan banyak gerakan yang amat tak terduga. Seperti dengan sekilas membalikkan badan sekaligus membuka sarungnya, sampai terasa meledak-ledak saat diatas kumpulan jagung kering.

Secara penceritaan, apa yang diramu terasa cukup pas. Apalagi dengan beberapa cerita pendukung yang dengan tema masing-masing, namun terasa seperti yang nampak di realita. Beranjak dewasa, Juno yang kini diperankan oleh Muhammad Khan, membawa ceritanya menjadi semakin serius. Mulai dari bagaimana Ia berteman dengan sang petinju, yang diperankan oleh Randy Pangalila. Sekaligus bagaimana intrik-intrik Juno dalam memanfaatkan segala kesempatan dari pria bertubuh kekar ini. Walau tak banyak dialog, namun ekspresi dan gerak-gerik Juno dengan mudah cukup terbaca untuk penonton.

479 picture1
Courtesy of Fourcolours Films, Go-Studio © 2018

Masuk ke bagian petinju akan membawa penonton mengenal lebih jauh orientasi Juno seperti apa. Cerita pun kemudian berlanjut ke babak yang lebih serius. Bagaimana Juno bisa mencuri perhatian sang Bupati sekaligus menjadi gemblak (kekasih pemberi kekuatan) seorang dukun. Intrik yang tadinya hanya didasari hasrat, kini bercampur dengan nafsu, politik, sekaligus dunia magis.

“Kucumbu Tubuh Indahku” dikemas dengan penyajian setting yang sederhana, namun berani untuk penggambaran visual yang artistik dan berani. Anda akan cukup jarang menjumpai unsur kehidupan modern dalam film ini. Salah satu yang menarik dari pengamatan saya adalah ketika Raditya Evandra memperlihatkan kebolehannya untuk menari saat Ia sedang sendiri dirumah. Akan tetapi, cukup banyak disturbing scene yang hampir membuat kita menutup mata. Misalnya saat aksi geram si guru lengger yang menusuk-nusukkan celuritnya dengan sadis, ataupun ketika Juno menyakiti jari-jarinya dengan jarum mesin jahit. Dan kesemuanya ini berhasil diperlihatkan serealis mungkin.

479 picture2
Courtesy of Fourcolours Films, Go-Studio © 2018

Tidak ketinggalan, lewat tema film yang terbilang queer ini, Garin cukup berani membawa film ini ke tingkat yang lebih tinggi. Unsur nudity cukup mewarnai film ini, lewat beberapa tampilan rear male nudity dari beberapa pemainnya. Walau tidak memasukkan adegan seks dalam ceritanya, Garin terbilang begitu berhasil membangun ambience ceritanya tuk jadi begitu sensual dan lembut.

Kalau membahas penyajian adegan, tentu kualitas yang dihadirkan Garin dalam film ini cukup kaya. Tata artistik film ini juga dikombinasikan dengan dialog yang kadang dikemas sedikit musikal. Yang lebih menarik lagi, musik yang dihadirkan dalam film ini terkesan cukup vintage, terutama pemilihan lagu-lagu lawas yang dikemas ulang oleh Mondo Gascaro. Salah satu favorit saya adalah ketika muncul lagi “Bimbang Tanpa Pegangan” versi Danilla, yang muncul seraya kehidupan Juno kecil. Lagu ini sendiri pertama kali saya dengar dari nyanyian Mieke Widjaja dalam film klasik “Tiga Dara.” Tidak hanya itu saja, ada banyak tembang lawas mulai dari “Hanya Semalam,” “Rindu Lukisan,” sampai “Apatis,” yang kesemuanya seperti membawa penonton ke dalam keindahan Indonesia di masa lalu.

479 picture7
Courtesy of Fourcolours Films, Go-Studio © 2018

“Kucumbu Tubuh Indahku” menyajikan sebuah kisah yang berhasil dikombinasikan dengan bahasa, tarian serta adat Jawa. Saya senang menyaksikan bagaimana film ini mengapresiasi budaya, sampai memaknai hidup dari seorang penari lanang. So far, ini merupakan queer cinema dari Indonesia yang paling artistik dan sensual. Film ini membawa kualitas potret sinema queer Indonesia ke level yang lebih tinggi, yang tidak hanya lagi bicara tentang cerita kloset ataupun kehidupan transgender melainkan bagaimana budaya Indonesia juga berperan didalamnya. Excellent!

 

Memories of My Body [Kucumbu Tubuh Indahku] (2018)
17+,105 menit
Drama
Director: Garin Nugroho
Writer: Garin Nugroho
Full Cast: Muhammad Khan, Raditya Evandra, Rianto, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Randy Pangalila, Whani Dharmawan, Dorothea Quin Haryati, Endah Laras, Mbok Tun, Cahwati Sugiarto, Windarti, Fajar Suharno, Anneke Fitriani

#479 – Memories of My Body [Kucumbu Tubuh Indahku] (2018) was last modified: Juli 12th, 2021 by Bavner Donaldo