Ini adalah sebuah revival! Setelah cukup berhasil di dunia pertunjukan, kisahnya kemudian digarap Denzel Washington ke layar lebar. “Fences” bercerita tentang kisah sebuah keluarga yang hidup di Pittsburgh, dengan segala dinamika yang ada. Mulai dari impian, masalah rasial, kerasnya hidup, hingga kehadiran orang ketiga dalam keluarga.

Troy Maxon, diperankan oleh Denzel Washington, adalah seorang petugas kebersihan. Ia bersama rekannya, Jim Bono, diperankan oleh Stephen Henderson, berdiri di belakang truk sampah yang dinaiki mereka setiap hari. Mereka mengambil kantung-kantung sampah penduduk, dan mendapatkan gaji mereka di setiap hari Jumat.

Courtesy of Bron Studios, MACRO, Paramount Pictures, Scott Rudin Productions © 2016

Troy hidup dengan istri dan seorang putra. Istrinya, Rose, diperankan oleh Viola Davis, adalah seorang ibu rumah tangga yang telaten dan setia. Dari pernikahannya dengan Troy, Ia memiliki seorang putra bernama Cory, diperankan oleh Jovan Adepo. Cory merupakan seorang pemain baseball yang punya potensi, meneruskan kemampuan sang ayah. Ia mendapat tawaran untuk bermain di salah satu tim. Namun, kecemasan Troy akan rasisme yang masih berlaku di NFL membuatnya berusaha untuk membatasi potensi Cory.

Troy sudah memiliki anak bernama Lysons, yang diperankan oleh Russell Hornsby. Lysons merupakan anak dari hubungan sebelumnya, dan Ia sering mengunjungi Troy di hari gajiannya. Walaupun Ia sudah berusia di pertengahan 30, Ia masih sering meminta uang pada ayahnya. Troy juga sebetulnya kesal dengan kebiasaan putranya ini karena pilihan Lysons: memilih menjadi seorang pemusik dibanding mencari pekerjaan tetap.

Courtesy of Bron Studios, MACRO, Paramount Pictures, Scott Rudin Productions © 2016

Film berdurasi lebih dari 2 jam ini berhasil memikat saya ketika sudah pertengahan kisahnya, dan memulai puncak krisis film ini: saat Troy melakukan pengakuannya pada Rose. Jika anda tidak sabar, mungkin Anda akan cukup merasa bosan dengan film ini. Adegan-adegan scene dalam film ini berdurasi panjang, dan berisi penuh dengan dialog. Kita akan sering menyaksikan Troy yang cerewet, bercakap dan bercerita berbagai macam hal. Mulai dari yang nyata, masa lalu, hingga fantasinya.

Cerita film ini diangkat dari naskah film yang ditulis sendiri oleh penulis aslinya, August Wilson. Walaupun sebetulnya telah ikut dikemas oleh Tony Kushner, yang pada akhirnya Cuma mendapat credit sebagai co-producer. Kisah film ini awalnya merupakan bagian dari The Pittsburgh Cycle, sebuah koleksi sepuluh drama Wilson yang bersetting di Pittsburgh Hill dengan periode zaman yang berbeda-beda. Kisah film ini bersetting di 1950. Menariknya, Wilson hanya mengingikan sutradara African-American saja yang pantas untuk menyutradarai film ini. Inilah salah satu alasan mengapa drama peraih Tony Awards tahun 1987 ini baru diadaptasi.

Courtesy of Bron Studios, MACRO, Paramount Pictures, Scott Rudin Productions © 2016

Membahas penampilan pemainnya, Washington dan Davis benar-benar memukau. Seusai menyaksikan film ini, saya menyadari kalau persaingan penghargaan Academy Awards tahun ini cukup ketat, khususnya kategori akting. Dari kategori aktor terbaik, Washington tentu jadi contender kuat untuk bersaing dengan Casey Affleck dengan “Manchester by the Sea”-nya. Apalagi dengan karakter Rose. Saya merasa Viola Davis merupakan salah satu aktris berkulit hitam terbaik masa kini. Davis selalu berhasil untuk menyentuh empati saya dengan penampilannya yang berkarakter.

Saya semakin tertarik ketika harus memaksa diri saya untuk memahami karakter Troy. Troy adalah seorang ayah yang berusaha untuk bertanggung jawab sebagai kepala keluarga, walaupun dengan sikap egoisnya yang tidak berpikir akan perasaan anggota keluarganya. Saya menyukai gaya pemikiran konvensionalnya, ketika Troy merasa Ia tidak wajib untuk mencintai anaknya. Namun merawat sang anak adalah sebuah kewajiban baginya.

Courtesy of Bron Studios, MACRO, Paramount Pictures, Scott Rudin Productions © 2016

It’s so powerful! Walaupun awalnya terasa bosan buat saya, banyak sekali hal yang coba diangkat film ini lewat karakterisasi tokoh-tokohnya yang jelas. Troy dengan keegoisannya dan kekhawatirannya akan kematian, Rose dengan kesetiannya, hingga Cory dengan sifat gengsinya. Belum lagi dengan alegori yang digambarkan sebagai judul cerita film ini. Salah satu adegan favorit saya adalah saat Rose menasihati Cory, “Your daddy wanted you to be everything he wasn’t, and at the same time he wanted you to be everything he was. I don’t know if he was right or wrong, but I do know he meant to do more good than he meant to do harm.” One of the best family drama from 2016!

Fences (2016)
PG-13, 139 menit
Drama
Director: Denzel Washington
Writer: August Wilson
Full Cast: Denzel Washington, Viola Davis, Stephen Henderson, Jovan Adepo, Russell Hornsby, Mykelti Williamson, Saniyya Sidney, Christopher Male, Lesley Boone, Jason Silvis
#296 – Fences (2016) was last modified: November 30th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here