Jadi film unggulan The Weinstein Company di tahun 2016, “Lion” akan membawa penonton ke sebuah perjalanan anak adopsi asal India bernama Saroo. Saroo tidak sepintar Baby Bink di “Baby’s Days Out” ataupun secerdik Kevin McCallister dalam “Home Alone.” Inilah yang membuat mengapa film ini mencoba mengusik sentimentil penonton dari bagian awalnya.

Saroo kecil, diperankan oleh Sunny Pawar, adalah seorang anak laki-laki yang sering bersama kakaknya, Guddu, diperankan oleh Abhishek Brahate, untuk mencari uang. Mereka memanjat kereta pembawa batu bara, mencuri sebagian, dan menukarkannya untuk beberapa gelas susu. Susu tersebut dibawanya ke rumah, dan dibagikan untuk adik perempuannya, Shekila, yang diperankan oleh Khushi Solanki. Mereka hidup bersama Ibu mereka, Kamla, diperankan Priyanka Bose, yang bekerja sebagai pengumpul batu. Mereka tinggal di sebuah desa bernama Ganesh Talai, terletak di tengah jantung India.

lion
Courtesy of The Weinstein Company, Screen Australia, See-Saw Films, Aquarius Films, Sunstar Entertainment, Narrative Capital © 2016

Suatu saat, Guddu berniat untuk melakukan aksinya kembali dan meninggalkan rumah untuk seminggu. Saroo ingin ikut. Tapi Ia tidak diajak. Saroo mencoba meyakinkan kalau Ia cukup kuat. Ia mengangkat kursi sampai sepeda. Guddu pun mengiyakan. Mereka kemudian menaiki sepeda menuju stasiun Khandwa. Setiba disana sudah cukup malam. Saroo terlalu mengantuk untuk membantu Guddu untuk melancarkan aksinya. Saat Ia terbangun, Guddu tidak menghampirinya kembali dan Saroo melewati perjalanan kereta api tanpa penumpang yang membawanya ke kota Calcutta.

Setiba di Calcutta, Ia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Ia hanya mengetahui namanya, itupun panggilan, tidak bisa membaca, dan tidak bisa berbahasa Bengali. Ia hanya bisa berkata-kata dalam Hindi, dan membuatnya harus bertahan hidup di kerasnya kehidupan Calcutta. Hingga suatu ketika, Ia dimasukkan ke dalam sebuah panti asuhan dan diadopsi oleh orangtua asuh asal Australia yang membawanya ke kehidupan yang lebih layak.

293 picture2
Courtesy of The Weinstein Company, Screen Australia, See-Saw Films, Aquarius Films, Sunstar Entertainment, Narrative Capital © 2016

Menjadi featured film pertamanya, Garth Davis sudah berhasil untuk meraih sebuah DGA Award dan meraih 6 nominasi di Academy Awards, termasuk Best Picture dan Best Director. Davis menangkap kehidupan kumuh masyarakat India, terutama saat perjuangan Saroo kecil untuk bertahan hidup. Ia harus tidur di jalan dengan tidak nyaman dan dibawah bayang-bayang para penculik. Saya pun baru menyadari kalau India pun terdiri dari berbagai bahasa, yang belum tentu dimengerti orang yang sama-sama dari India.

Cerita film ini diangkat dari sebuah travelouges berjudul “A Long Way Home” karangan Saroo Brierley dan Larry Buttrose, yang dirilis pada 24 Juni 2013. Ceritanya mengisahkan bagaimana perjalanan Saroo dewasa untuk mencari kampung halamannya lewat bantuan mesin pencari Google Earth. Walaupun penonton tentu dengan mudah bisa menebak akhir ceritanya, kisah perjalanan Saroo tetap bisa menyentuh akan suka duka yang dialaminya.

293 picture4
Courtesy of The Weinstein Company, Screen Australia, See-Saw Films, Aquarius Films, Sunstar Entertainment, Narrative Capital © 2016

Saya suka dengan penyutradaraan, sinematografi dan editing film ini. Davis senang bermain-main dengan banyak shot pendek dalam sebuah scene. Ini memberikan kesan rumit dan berhasil mendramatisir adegannya. Salah satunya saat Saroo kecil sedang mencari Ghaddu di stasiun, sebelum akhirnya tertidur di kereta yang membawanya ke Calcutta. Termasuk dengan score film yang digubah Hauschka dan Dustin O’Halloran yang lumayan menonjol dari opening-nya.

Bicara alur ceritanya, sebetulnya bagian awal lumayan membuat saya terfokus. Namun, ketika cerita mulai memasuki babak kedua, saat mengisahkan kehidupan dewasanya malah mulai agak membosankan buat saya. Menurut saya, Saroo dewasa yang diperankan Dev Patel, tampil mengesankan, namun terlalu tampan untuk memerankan karakter ini. Momen yang paling menancap buat saya adalah saat mencapai klimaks di film ini, ketika Saroo akhirnya bertemu dengan sang Ibu. Sebuah momen yang penuh kedalaman emosi. Patel dan Bose bisa membuat saya cukup tersentuh, setelah cukup lelah menyaksikan babak kedua yang sebetulnya agak begitu saja.

293 picture3
Courtesy of The Weinstein Company, Screen Australia, See-Saw Films, Aquarius Films, Sunstar Entertainment, Narrative Capital © 2016

Sebetulnya, saya lebih menyukai peran Sunny Pawar disini. Pawar menampilkan sesuatu yang luar biasa. Pawar harus tampil lusuh sebagai anak jalanan, pendiam, namun juga seorang pejuang tangguh. Karakter Sue Brierley yang diperankan Nicole Kidman juga menarik perhatian. Tidak hanya dengan tampilan yang ‘benar-benar bukan’ seorang Kidman, hingga bagaimana Ia menyentuh penonton kala Ia merasa ‘down’ saat mengadopsi Mantosh yang seperti punya kelainan kejiwaan.

Untuk ukuran penonton Indonesia, “Lion” mungkin tidak akan mampu menuai simpati seperti orang luar. Mengingat potret realita yang ditampilkan masih sedikit serupa. “Lion” mengangkat issues tentang anak-anak terlantar di India yang setiap tahunnya hilang, dan juga mengangkat kisah kehidupan anak-anak yang diadopsi. Yang saya sukai dari cerita Saroo Brierley ini kalau pencarian keluarga kandungnya tidak mengartikan bahwa Ia akan meninggalkan keluarga yang merawatnya selama ini.

Lion (2016)
PG-13, 118 menit
Drama
Director: Garth Davis
Writer: Saroo Brierley, Luke Davies
Full Cast: Sunny Pawar, Abhishek Bharate, Priyanka Bose, Khushi Solanki, Shankar Nisode, Tannishtha Chatterjee, Nawazuddin Siddiqui, Riddhi Sen, Koushik Sen, Rita Boy, Udayshankar Pal, Surojit Das, Deepti Naval, Menik Gooneratne, David Wenham, Nicole Kidman, Keshav Jadhav, Dev Patel, Benjamin Rigby, Divian Ladwa, Todd Sampson, Rooney Mara, Daniela Farinacc, Pallavi Sharda, Sachin Joab, Arka Das, Emilie Cocquerel, Vinod Chauhan, Babli Pandey, Madhukar Narlwade, Rohini Kargaiya

#293 – Lion (2016) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo