Sebagai salah satu screener pertama dari Magnolia Pictures yang saya tonton, “Viva” mencoba mengurai emosi penonton lewat sebuah kehidupan seorang pria muda yang terlihat lemah, namun tangguh untuk bertahan hidup.

Ia adalah Jesύs, seorang penata rambut yang diperankan oleh Héctor Medina. Ia mengandalkan kehidupannya dengan menata rambut klien-kliennya yang mayoritas adalah perempuan-perempuan tua. Malangnya, mereka juga kadang tidak bisa membayar jasa Jesύs sewajarnya. Akan tetapi, namanya butuh uang, tidak ada cara lain untuk menolak bayaran ‘seikhlasnya.’

courtesy of treasure entertainment, radio telefís éireann, windmill lane pictures, island films, irish film board © 2015
Courtesy of Treasure Entertainment, Radio Telefís Éireann, Windmill Lane Pictures, Island Films, Irish Film Board © 2015

Jesύs telah ditinggal mati oleh Ibundanya. Ayahnya telah meninggalkan keluarga mereka sejak Ia berusia 3 tahun. Bisa dibilang kini hidupnya sebatang kara. Ia juga terlalu berbaik hati untuk meminjamkan apartemennya bagi sahabatnya, Cecilia, selama beberapa jam untuk bercumbu dengan kekasihnya.

Selain mengurus klien-kliennya, Ia juga merupakan penata ramut wig Mama, yang diperankan oleh Luis Alberto García. Mama merupakan seorang drag queen, yang hampir setiap malam ‘manggung’ di salah satu kabaret di Kota Havana. Suatu ketika, Mama mencari pengganti salah seorang penyanyi dengan mengadakan audisi. Tidak disangka, Jesύs mendaftarkan diri dan bertemu dengan seseorang yang sudah tidak diharapkannya.

courtesy of treasure entertainment, radio telefís éireann, windmill lane pictures, island films, irish film board © 2015
Courtesy of Treasure Entertainment, Radio Telefís Éireann, Windmill Lane Pictures, Island Films, Irish Film Board © 2015

Film ini merupakan film berbahasa Spanyol pertama yang saya tonton di tahun 2016. Menariknya, film ini disutradarai oleh Paddy Breathnach, sutradara asal Irlandia. Sedangkan kisahnya, ditulis oleh Mark O’Halloran. Walaupun berbahasa Spanyol, film ini merupakan utusan perwakilan Irlandia di ajang Academy Awards ke-88, dan berhasil sampai shortlist Top 9.

Awalnya saya mengira kalau “Viva” hanyalah sebuah kisah yang menceritakan suka duka seorang drag queen di Havana. Tidak lebih dari itu. Maklum, saya tidak menyaksikan trailer maupun sinopsisnya. Hanya berbekal ketertarikan setelah melihat poster film ini. Di tengah perjalanan, film ini bergerak secara perlahan-lahan untuk menyentuh emosi penonton lewat ‘pergulatan batin’ antara Jesύs dan Angel. In the end, it’s a story about a father and his son.

courtesy of treasure entertainment, radio telefís éireann, windmill lane pictures, island films, irish film board © 2015
Courtesy of Treasure Entertainment, Radio Telefís Éireann, Windmill Lane Pictures, Island Films, Irish Film Board © 2015

Penonton akan dikejutkan dengan karakter Angel yang serba meledak, namun sebetulnya tidak berdaya. Sebaliknya, Jesύs yang sebatang kara, tetap berusaha tangguh untuk menghidupi diri dan ayahnya. Pertentangan yang diangkat ceritanya sebetulnya cukup simpel. Angel tidak setuju kalau Jesύs menjadi drag queen bersama Mama. Padahal, dengan bekerja bersama Mama, Jesύs bisa mendapatkan bayaran lebih cukup untuk kehidupannya.

Penampilan Héctor Medina bersama Jorge Martínez Castillo benar-benar berkualitas. Keduanya bisa saling berkelahi, namun setelah itu bisa duduk manis bersama. Yang satu bisa mengamuk, yang satu hanya histeris sambil menangis, dan inilah kombinasi yang dihadirkan dalam perwatakan kedua pemeran utamanya. Selain itu, aksi Medina sebagai drag queen masih terbilang lebih baik dibanding Eddie Redmayne dalam “The Danish Girl.” Medina bisa membuat film ini berbobot.

courtesy of treasure entertainment, radio telefís éireann, windmill lane pictures, island films, irish film board © 2015
Courtesy of Treasure Entertainment, Radio Telefís Éireann, Windmill Lane Pictures, Island Films, Irish Film Board © 2015

Menariknya, Breathnach menghadirkan penggambaran masyarakat Havana, seperti keinginan mereka untuk dapat ke luar negri. Mereka juga hidup di rumah-rumah susun yang mulai tidak terawat, kumuh, hingga rumah sakit bersubsidi namun perlu membawa makanan untuk pasien secara mandiri. Breathnach juga menyentil prostitusi pria yang berkeliaran di tengah taman kota dan menargetkan para turis.

Anda akan cukup banyak mendengar banyak lantunan musik latin dalam film ini. Terutama adegan-adegan lipsync para penyanyi kabaret. Selingan kisah dan musik ini sedikit mengingatkan saya dengan “The Cabaret,” walaupun yang ini lebih menitikberatkan pada sebuah rekonsiliasi, bukan percintaan. Even he is just a drag queen who show his weakness, Jesύs still can be told as a good boy as his father said in the end of his life. Bravo!

Viva (2015)
R, 100 menit
Drama
Director: Paddy Breathnach
Writer: Mark O’Halloran
Full Cast: Luis Alberto García, Héctor Medina, Jorge Martínez Castillo, Luis Manuel Alvarez, Renat Makel Machin Blanco, Laura Alemán, Paula Andrea Ali Rivera, Luis Angel Batista Bruzón, Luis Daniel Ventura Garbendia, Maikol Villa Puey, Oscar Ibarra Napoles, Jorge Perugorría, Libia Batista, Tomás Cao, Jorge Eduardo Acosta Ordonez, Mark O’Halloran, Rayma Pérez, Carlos Enrique Riverón Rodríguez, Niruka Castellón, Carlos Calero Díaz, Karla M. Venereo, Anyeli Constanten, Josie Breathnach
#271 – Viva (2015) was last modified: Mei 29th, 2021 by Bavner Donaldo