Sejak memenangkan Golden Lion dalam Venice Film Festival, pada Agustus lalu, “Roma” menjadi sorotan sekaligus awards bait di akhir tahun ini. Setelah hiatus selama 5 tahun, Alfonso Cuarón kembali lewat drama kehidupan dari salah satu sudut kota di Mexico City, bernama Colonia Roma, dengan setting tahun 1970.

Dari adegan pertama, Cuarón membawa penonton untuk menikmati aliran air dari siraman sekaligus menyaksikan opening credits film ini. Aliran air ini kemudian membawa penonton melihat sebuah bangunan yang memantul darinya, yang memberi kode tentang apa yang akan diceritakan film ini. Cukup lama memang. Menyaksikan siraman dan genangan air lebih dari beberapa menit.

Courtesy of Esperanto Filmoj, Participant Media, Netflix © 2018

Sedari sana, film kemudian memperkenalkan sosok Cleo, seorang asisten rumah tangga, diperankan oleh Yalitza Aparicio. Siraman air yang tadi kita tonton merupakan siraman Cleo untuk membersihkan garasi dalam rumah yang sering dikotori oleh kotoran anjing. Kesibukannya sehari-hari adalah mendukung kegiatan anggota keluarga majikannya. Setiap hari, Ia membantu keluarga tersebut untuk membangunkan anak-anak mereka di pagi hari, sampai mengatur makan malam dan menidurkan anak-anak tersebut. Di keluarga ini, ada empat orang anak. Mereka adalah Toño, Pepe, Sofi, dan Paco.

Rumah bergaya kolonial yang ditinggali Cleo terbilang cukup besar. Dua lantai untuk gedung utama, belum termasuk dengan tempat jemuran di rooftop ataupun kamar Cleo yang berada di luar gedung utama. Tentu, Cleo juga mempunyai hari libur. Biasanya Ia habiskan untuk menemui Fermin, sosok kekasihnya yang diperankan oleh Jorge Antonio Guerrero. Masalah kemudian muncul ketika Cleo menyadari jika Ia tengah hamil.

Courtesy of Esperanto Filmoj, Participant Media, Netflix © 2018

Alfonso Cuarón memang belum banyak sekali membuat film. Termasuk “Roma,” Ia sudah membuat 8 film. Walaupun sedikit, yang menjadi menarik adalah karya-karya Cuarón terbilang fenomenal. Sebut saja “Y Tu Mamá También,” “Children of Men,” sampai “Gravity.” Dari judul-judul sebelum “Roma” saja sudah memenangkan 7 Academy Awards, 10 BAFTA, dan 1 Golden Globe. Cukup prestatif!

Sama seperti film-film original buatannya, Cuarón berperan banyak dalam penggarapannya. Ia menjadi penulis cerita, sutradara, editor, sinematografer sekaligus produser di film-filmnya. Untuk “Roma,” Ia membawa kembali suasana negeri asalnya, dengan menghadirkan film berbahasa Spanish dan Mixtec. Untuk coloring, kesan monokrom digunakan sebagai penambah kedalaman drama ceritanya.

Courtesy of Esperanto Filmoj, Participant Media, Netflix © 2018

Film yang berdurasi 135 menit ini ditampilkan Cuarón dengan pace yang cukup lambat. Ia cukup detil dan dinamis dalam menghidupkan adegan demi adegan. Terutama ketika memadukan banyak unsur ke dalam sebuah adegan. Terasa complicated, namun “Roma” terbilang berhasil lewat formula ini. Saya selalu menyadari dari sebuah adegan yang dihadirkan, selalu ada banyak kegiatan yang terjadi pada saat bersamaan, yang menyadari saya dengan bagaimana yang terjadi di dunia nyata, dan memberikan kesan yang begitu natural. Untuk tata pengambilan gambar, Cuarón juga memperkuat film ini lewat banyak long shot yang dipadu dengan movement kamera yang bergerak searah. Hasilnya: Fantastic! Adegan-adegan yang mungkin terbilang sederhana atau sulit untuk dijelaskan secara bersamaan, berhasil digambarkan secara gamblang dan artistik. Salah satu favorit saya adalah saat adegan Cleo akan menutup harinya. Ia mulai meniduri anak-anak sampai mematikan satu per lampu dari lantai atas, dan kemudian beres-beres sampai ke lantai bawah dalam satu shot.

Courtesy of Esperanto Filmoj, Participant Media, Netflix © 2018

Yang saya sukai dari ceritanya, Cuarón menghadirkan sosok Cleo yang punya hubungan dekat dengan anak-anak, terutama Pepe yang paling bungsu. Hubungan yang terasa penuh kasih sayang ini terasa jelas ketika Pepe dan Cleo saling berpelukan, atapun saat Cleo menantang kelemahannya demi menyelamatkan Paco dan Sofi. Lambat laun, pengembangan karakter antara Cleo dan majikannya, Sofia, yang diperankan oleh Marina de Tavira, pun melunak. Apalagi ketika keduanya terbilang ‘sama-sama senasib.’

Courtesy of Esperanto Filmoj, Participant Media, Netflix © 2018

Dari ensemble cast film ini, Yalitza Aparicio menjadi yang terfavorit versi saya! Karakter Cleo tidak perlu banyak ucapan, namun dari gerak-geriknya dan dengan wajahnya yang sepintas polos, akan membawa penonton ke dalam banyak hal. Untuk ukuran seorang pengasuh, Ia bisa untuk memberi perhatian dan kasih sayang. Untuk ukuran seorang Ibu, Ia mampu bisa bangkit dari keguguran walaupun tanpa dukungan sang kekasih semasa kehamilan. Serta, sebagai seorang perempuan, ketulusan Cleo mampu melawan segala ketakutannya. Dari ketiga poin tersebut, Aparicio berhasil memerankan Cleo dengan begitu natural sekaligus menyentuh.

“Roma” terlalu hidup dengan momen-momen yang dibuatnya. Kotoran anjing, pelatihan terselubung, menyanyi saat kebakaran hutan, sampai detik-detik menyelamatkan bayi Cleo. Kesemuanya dikemas dengan amat matang dan terasa begitu nyata. Perfecto!

#461 – Roma (2018) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here