Pernah mendengar Mister Rogers? Untuk orang Indonesia, sosok Rogers mungkin terdengar cukup asing. Beda buat para american. Mister Rogers adalah salah satu icon pertelevisian, khususnya untuk acara edukasi anak-anak. Perjalanan malang melintang di dunia pertelevisian sepanjang setengah abad berhasil kembali diceritakan melalui award-winning documentary berjudul “Won’t You Be My Neighbor.”

Judul film ini sendiri merupakan kalimat terakhir dari theme song “Mister Rogers’ Neighborhood,” sebuah acara anak-anak yang paling edukatif dan fenomenal di pertelevisian Amerika Serikat. Fred Rogers, yang lebih dikenal dengan Mister Rogers, mengawali kariernya sebagai puppetter untuk sebuah acara anak-anak di era 50-an. Ia yang memilih background pendidikan seminari ini lebih memilih untuk masuk ke dunia televisi yang kala itu baru berkembang. Akhirnya, melalui sebuah channel publik bernama CBC, Rogers memulai debut acaranya di tahun 1962.

466 picture3
Courtesy of Tremolo Productions, Focus Features © 2018

“Mister Rogers’ Neigborhood” merupakan sebuah acara yang membawa anak-anak untuk masuk ke dalam dua dunia. Dunia para puppet yang diisi dengan beberapa additional recurring character serta dunia Rogers. Di dalam acara ini, Rogers mampu menuai kepopulerannya saat Ia berhasil mengambil hati para penonton ciliknya. Rogers tidak perlu tampil memalukan, cukup menjadi dirinya sendiri. Ia mampu menaklukkan anak-anak dengan kebaikannya. Seperti salah satu kutipan di film ini, jika Ia merupakan kandidat presiden dan pendukungnya memilih hak suara, mungkin Ia akan jadi pemenang.

Film berdurasi 93 menit ini digarap oleh Morgan Neville, sutradara pemenang Academy Awards yang sebelumnya dikenal dengan “20 Feet from Stardom.” Di garapan teranyarnya ini, Neville memadukan beragam interview dengan banyak keluarga, sahabat hingga kru televisi, dengan kumpulan footage acara dan rekaman wawancara dengan Rogers. Sebagai sebuah dokumenter, apa yang disajikan Neville cukup memanjakan penonton untuk menelaah kehidupan Rogers, termasuk pandangan-pandangannya.

466 picture1
Courtesy of Tremolo Productions, Focus Features © 2018

Pandangan-pandangan Rogers sebagai pemerhati anak begitu menyentuh. Misalnya, saat Ia menjadi pemberi testimoni ke subkomite Senat AS. Saya masih mengingat bagaimana argumennya yang mampu menyegarkan John O. Pastore, ketua subkomite saat itu, yang tengah bosan mendengar testimoni-testimoni yang Cuma dibacakan. Usahanya untuk membela pertelevisian yang kala itu sempat hampir mendapat potongan budget dari pemerintahan jaman Nixon, malah berakhir sukses. Pendanaan televisi publik PBS malah berhasil mendapat budget tambahan setelahnya.

Film ini juga mengupas bagaimana banyak event-event penting dalam sejarah Amerika Serikat juga berpengaruh dengan nilai-nilai yang dikemas secara implisit dalam acara Rogers. Misalnya saja: pembunuhan Bobby Kennedy, kegagalan Challenger, sampai perkembangan tontonan anak yang dianggap ‘merusak’ karena tidak mendidik.

466 picture6
Courtesy of Tremolo Productions, Focus Features © 2018

Morgan Neville begitu rapi untuk menyusun alur film ini, sehingga tampak apik ketika dinikmati. Sama sekali tidak merasa bosan melihat cuplikan-cuplikan ataupun ungkapan yang memberi banyak keharuan. Yang paling menyentuh buat saya adalah ketika seorang gadis mendatangi Rogers dan mengucapkan terima kasih. Perempuan ini memiliki kelainan yang membuatnya tidak dapat mengikuti pendidikan usia dini. Menyaksikan acara Rogers semasa kecil terasa seperti sekolah penggati buatnya. Oh. Ini belum lagi ditambah score gubahan Jonathan Kirkscey yang mengalun manis nan dalam, sehingga saya terlalu hanyut dan haus akan kelanjutan alurnya.

Hebatnya, semenjak dirilis September lalu, film ini berhasil meraih pendapatan sebagai film dokumenter-biography terlaris sepanjang masa, sekaligus masuk ke dalam peringkat 21 untuk kategori dokumenter terlaris sepanjang masa. Melihat hasil ini, film yang diunggulkan Focus Features untuk awards season 2018 ini seakan memberi sinyal bahwa Rogers memang benar-benar berpengaruh untuk banyak hidup anak-anak di Amerika.

466 picture4
Courtesy of Tremolo Productions, Focus Features © 2018

“Won’t You Be My Neighbor?” adalah sebuah tontonan akan sebuah perjalanan karier yang begitu menginspirasi, mempesona dan hangat untuk dinikmati. Saya cukup tidak menyangka bagaimana film ini melalui narasumbernya membuka banyak simbol-simbol yang digunakan Rogers dalam acara televisinya. Simbolisasi akan pribadi Rogers dan sisi lain yang tidak pernah diungkap. Saya terkagum-kagum dengan cara Rogers yang berhasil menarik simpati anak-anak untuk terbuka dengan kebaikannya yang sederhana. Ia memandang setiap anak adalah spesial dan sepatutnya menyadari mereka unik, sebagaimana Ia selalu berusaha membuka dirinya untuk anak-anak. Mengutip kata Rogers, “Neighbour are people who close to us, and friends are people who close to our hearts. I like to think of you as my neighbour and my friend.” Radically inspiring!

Won’t You Be My Neighbor? (2018)
PG-13, 94 menit
Documentary, Biography
Director: Morgan Neville
Full Cast: Fred Rogers, Joanne Rogers, John Rogers, Jim Rogers, Bill Isler, Hedda Sharapan, Junlei Li, Max King, Margaret Whitmer, Tom Junod, Betty Seamans, Joe Negri, David Newell, Elaine Crozier, George Wirth, David Bianculli, François Scarborough Clemmons, Howard Erlanger, Pam Erlanger, Susan Stamberg, Nick Tallo, Yoyo Ma, Meara Malmberg, Howard Manask, Arielle Jae Rudd, Deisy Garcia, Eleanor Way, Lynden Liu, Mason Gloria, Lincoln Howell, Ayden Soria, McColm Cephas Jr., Sophjie Seifert
#466 – Won’t You Be My Neighbor? (2018) was last modified: Mei 28th, 2021 by Bavner Donaldo