Sudah hampir lebih dari sepuluh bulan lalu, Jeff Witzeman memberikan harapan baru bagi para penderita kanker lewat “Cancer Can Be Killed.” Kali ini, Ia akan kembali mengajak penontonnya untuk menyingkapi hal selalu dikaitkan dengan para penderita kanker. Kemo. Ya, kemoterapi. Di dokumenter teranyarnya ini, Witzeman kembali mengkritisi bagaimana aksi medis ini begitu mempengaruhi sistem industri kesehatan di Amerika Serikat, tentunya pada pasien anak-anak.

Pada film keduanya, perjalanan Witzeman berlanjut ketika beberapa orangtua pengidap kanker menghubunginya pasca film pertamanya. Mereka menceritakan bagaimana upaya kemoterapi menjadi sebuah ‘kewajiban’ bagi para pasien anak yang tidak dapat dihindari. Apalagi ketika sebuah rekaman di awal film yang menghadirkan suara seorang dokter yang menjelaskan dampak yang terjadi jika orangtua pasien menolak untuk memberikan persetujuan untuk aksi medis mematikan ini.

Courtesy of Sinker Swim Productions, LLC. © 2018

Amerika Serikat, negara adidaya yang sangat menjamin hak-hak hidup atas setiap warganya ini, ternyata punya efek samping dari kebaikan jaminan tersebut. Khususnya para orangtua. Ketika anak mendapatkan perlakuan yang tidak wajar, tentu telah menjadi tanggung jawab negara lewat child protection service (CPS) untuk merawatnya dan mengambilnya dari orangtua. Namun, apa jadinya ketika CPS berusaha dijadikan tameng para dokter sebagai alat untuk memaksa orangtua menyetujui tindakan kemo buat anak mereka?

Witzeman telah berhasil memberikan harapan, lewat upaya inisiatifnya dalam menyebarluaskan kembali bagaimana metode alami, seperti konsumsi alkali ataupun pil ganja mampu berhasil memberikan kekuatan kembali kepada para penderita kanker. Berbeda dengan film sebelumnya, disini Witzeman lebih condong untuk menceritakan bagaimana orangtua-orangtua ini berupaya berjuang demi menyembuhkan anak mereka, cuma tanpa upaya kemoterapi.

Courtesy of Sinker Swim Productions, LLC. © 2018

Dokumenter yang hampir berdurasi 2 jam ini, akan membawa penonton ke banyak daerah di Amerika. Mulai dari Illinois, ketika penonton berkenalan dengan keluarga Nickel yang sedang berupaya menghentikan aksi kemoterapi pada anaknya. Sampai ke Missouri, bertemu dengan Chandler Jo & Raoul Santiago, yang sampai nekat kabur ke Mexico demi menghindari kelakuan pelaku industri kesehatan disana yang mau mengambil anaknya.

Yang saya sukai, Witzeman tidak hanya menangkap kisah dari para orangtua yang ingin terbebas dari ‘jebakan sistem’ seperti halnya keluarga Nickel, tetapi juga menghadirkan para ‘korban’ dan ‘yang berhasil kabur.’ Akan ada banyak kisah, terutama bagaimana peran Ibu yang sangat tidak sembarangan dalam mencari solusi demi menyembuhkan buah hati mereka. Hati saya begitu tersentuh, ketika seorang Ibu dalam film ini bercerita jika masa depan anak mereka adalah tanggung jawab mereka, dan keputusan mereka untuk tidak memilih kemoterapi adalah sebuah yang baik. Buat mereka, dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk menjalani kemoterapi adalah sebuah langkah yang mempercepat anak mereka pada kematian.

Courtesy of Sinker Swim Productions, LLC. © 2018

Ketakutan, kecemasan, ancaman, sampai harapan berhasil digambarkan film ini. Begitupula bagaimana kekompakan antara dokter, CPS, dan pemerintah, yang seakan dibayangi oleh produsen obat untuk menjadikan kemoterapi sebagai satu-satunya alat penolong. Penonton pun akan menyaksikan bagaimana sedikitnya pengacara yang berani membela saking ‘jelimet’-nya politik permainan uang ini. Belum ditambah kejanggalan-kejanggalan seperti usaha memaksa penderita kanker mengkonsumsi gula ataupun junk food yang mayoritas tidak disetujui oleh orangtua mereka.

Ada satu pertanyaan yang saya sukai disini, ketika Witzeman mempertanyakan mengapa kemoterapi menjadi alat yang wajib untuk pasien anak, sedangkan belum tentu bagi para dewasa. Bagian paling berkesan buat saya adalah saat Sierra Riddle, seorang Ibu dari Oregon, menceritakan dengan penuh semangat bagaimana Ia berhasil memenangkan haknya sebagai orangtua untuk menentukan pengobatan anaknya. Riddle hanyalah satu dari sekian beberapa cerita yang dihadirkan dan harus menyadarkan dengan apa yang sebetulnya benar-benar terjadi.

Courtesy of Sinker Swim Productions, LLC. © 2018

“Flipping the Script” merupakan sebuah tontonan penuh pesan dan inspirasi yang perlu ditonton para orangtua. Sama seperti pendahulunya, ‘ada banyak jalan ke Roma.’ Kita kembali disadarkan dengan perjalanan Witzeman, bahwa ketimpangan ini semua berujung dengan urusan uang, yang akhirnya juga membatasi berkembangnya industri ini. Indeed, the truth must have be revealed.

#441 – Flipping the Script (2018) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here