^Sejak pertengahan tahun lalu, saya sudah mengetahui teaser film ini melalui sebuah postingan Laura Basuki di akun Instagramnya. Pada gambar tersebut, Ia menggunakan daster Ibu rumahan dan sedang memasak sesuatu di pojok dapur. Tampak depannya ada seorang pria, yang diperankan Dion Wiyoko, sedang duduk di meja makan kecil sambil memikirkan sesuatu. Demi menjawab rasa penasaran saya, saya memutuskan untuk tidak menyaksikan trailer film ini. Sama sekali. Dengan melihat cuplikan-cuplikan foto dari Laura Basuki sudah memberikan ekspektasi kalau “Terbang: Menembus Batas” patut ditunggu. Belum percaya? Ini review saya.

Cerita film ini terpusat pada karakter A Chun, seorang anak bungsu dari sebuah keluarga besar keturunan Tionghoa di Tarakan. Ayahnya, yang diperankan Kin Wah Chew, adalah seorang penjaga toko kelontong. Keluarga mereka hidup rukun dan kompak. Salah satunya kebiasaan utama keluarga dalam menghargai kebersamaan untuk saling mendukung. Sederhananya, jika satu tidak makan maka semua tidak makan. Sebagai keluarga mereka akan bersama-sama, dan rela untuk menunggu hingga semuanya hadir.

Courtesy of Demi Istri Production © 2018

Tidak hanya Ayahnya saja, ada juga karakter A Li, kakak A Chun yang pintar. Semangat A Chun kecil seakan hampir sirna ketika kedua orangtuanya sedang mengalami masalah keuangan. Untung saja, A Li pintar di sekolah, Ia bisa meminta tolong kepada pengurus sekolah dalam mewujudkan keinginan A Chun. Sebab, A Chun mengerti. Hanya dengan pendidikan Ia dapat menjadi orang yang berhasil.

Kurang lebih itu hanyalah sepotong bagian awal dari kisah film ini. Film ini seperti dapat dibagi ke dalam 3 bagian besar yang dikemas dengan alur maju, yakni Masa Kecil, Surabaya, dan Jakarta. Bagian pertama akan memperkenalkan penonton dengan latar belakang keluarga A Chun. Lalu masuk ke kisah Surabaya, yang akan bercerita tentang perjalanan merantau di kota Pahlawan, hingga akhirnya berakhir di Ibukota dan menyentil sedikit tragedi 98.

Courtesy of Demi Istri Production © 2018

Yang menarik, film ini tidak terlalu ‘heboh’ untuk menjual sosok asli pemeran utama A Chun aka Onggy Hianata. Ya, tidak seperti film-film mainstream Indonesia lainnya. Juga, jika hanya menilai dari posternya, Anda hanya akan merasa kalau film ini B aja. Tapi tunggu dulu. Saya cukup mudah untuk masuk ke ceritanya sedari bagian pertama. Sutradara sekaligus penulis skenario film ini, Fajar Nugros, tahu betul bagaimana meracik film ini agar tidak terasa bosan hampir selama 2 jam.

Mengangkat kisah masyarakat keturunan Tionghoa memang sudah tidak asing. Apalagi saat Ernest Prakasa yang sering membahas kehidupan etnis yang dianggap minoritas ini dalam stand up ataupun film-filmnya, misalnya seperti, “Cek Toko Sebelah.” Bedanya, “Terbang” menyajikan sesuatu yang berbeda, walaupun sebetulnya sama-sama memiliki Dion Wiyoko dan Kin Wah Chew sebagai pemerannya, yang juga memiliki hubungan karakter yang sama. Saya menyukai cara Nugros mengangkat kehidupan orang Indonesia keturunan Tionghoa dalam ceritanya. Film ini cukup terasa berbumbu nasionalis, yang kerapkali singgah dalam beberapa adegan. Yang saya sukai, ini bisa dihadirkan dalam bentuk komedi ataupun dramatis disini. Yah, sebagai penonton kita tetap akan diingatkan kembali dengan konsep kebhinekaan: berbeda-beda tapi tetap satu.

Courtesy of Demi Istri Production © 2018

Bicara filmnya, saya memuji keindahan gambar dan adegan yang disajikan Padri Nadeak. Begitupun dengan color grading film ini yang membuat kita akan ‘cukup betah.’ Sebagai film periode, “Terbang” akan cukup berhasil membawa penonton masuk ke dalam zaman tersebut. Semua berkat production design, makeup, hingga costume design yang sangat terasa menyatu. Penonton akan masuk kembali ke jaman 80-an dan 90-an. Kita akan melihat uang-uang lama, telepon umum, AC eksternal, kotak Khong Guan jadul, kalendar-kalendar sampai busana masa tersebut. Yang pasti, setelah berhasil menghidupkan suasana lewat cara tersebut, iringan score gubahan Aria Prayogi dan Andreas Arianto akan semakin membangun emosi penonton.

Tentu, peranan cast-nya juga amat penting di dalam eksekusi film ini. Dion Wiyoko adalah bintangnya disini. Sungguh mengesankan. Tanpa berlebihan, Ia terasa cukup pantas disebut sebagai salah satu aktor pria terbaik Indonesia saat ini. Transformasi masa SMA hingga menjadi ayah seorang putra berhasil digambarkannya dengan mulus, penuh penjiwaan, dan tidak terkesan dibuat-buat.

Di balik seorang pria hebat, pasti ada perempuan hebat di sisinya. Ini mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan Candra, istri A Chun yang diperankan Laura Basuki. Saya memang belum banyak menyaksikan filmnya, tapi penampilannya disini mungkin adalah yang terbaik. Karakter Candra buat saya terasa begitu ideal. Cantik, mau menerima apa adanya, serta tidak banyak menuntut. Menariknya, walaupun terkesan sosok istri ideal, memerankan seorang Candra ternyata tidak mudah. Karakter Candra di awal terasa begitu mudah untuk memikat saya, dan lambat laun seiring berjalannya cerita sosok ini semakin keluar dari zona kenyamanannya.

Yang paling saya sukai dari film ini adalah semangat seorang Onggy yang tak pernah padam. Ia selalu punya mantra andalan “percaya sama koko” pada istrinya. Saya merasa Onggy merupakan seorang risk-taker, terbukti dari bagaimana pengambilan keputusan yang diceritakan. Bagian paling menyentuh saya adalah ketika Ia merasa bahwa segala yang dijalaninya terasa tidak berarti dan selalu gagal, Ia akhirnya berserah kepada Sang Pencipta. Untung saja ini bukan film religi, dan film ini memantapkan dengan apa yang saya percayai sejak dulu. Sebagai manusia, kadangkali kita merasa sudah melakukan berbagai macam hal yang ternyata tidak berhasil dan sejalan dari apa yang kita harapkan. Melalui berserah kepada Tuhan, kita dibentuk untuk tidak mempercayai akan takdir tetapi menunjukkan jika kita berharap senantiasa akan usaha yang kita lakukan dapat berbuah. Yang saya yakini, Tuhan pasti tidak akan menutup mata selama kita mau untuk terus menabur dan akan menuainya di suatu hari nanti.

Courtesy of Demi Istri Production © 2018

“Terbang” berhasil menembus batas langit ekspektasi saya. Drama ini berhasil mengemas banyak pesan moral lewat kisah kehidupan jatuh bangun Onggy Hianata yang dirangkai dengan solid dan meyakinkan. Saya menjadi terinspirasi dengan semangatnya yang tak pantang menyerah, selalu berani mengambil resiko, hingga keyakinan yang gigih bahwa selalu ada harapan.  Film ini merupakan sebuah rekomendasi, dan saya menjadi semakin yakin dengan kualitas film karya anak bangsa. Stunning!

Terbang: Menembus Langit (2018)
PG-13, 111 menit
Biography, Drama
Director: Fajar Nugros
Writer: Fajar Nugros
Full Cast: Dion Wiyoko, Laura Basuki, Baim Wong, Kin Wah Chew, Delon Thamrin, Aline Adita, Melissa Karim, Dinda Hauw, Marcell Darwin, Dayu Wijanto, Erick Estrada, Indra Jegel, Mamat Alkatiri, Fajar Nugra, Cak Kartolo, Ibnu Jamil, Christiando Gunardi, Albee Felia Sukintjo
#397 – Terbang: Menembus Langit (2018) was last modified: Desember 28th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here