Setelah cukup teracuni dalam “Still Walking,” saya memutuskan untuk menyaksikan film ini. “Like Father, Like Son” merupakan peraih Jury Prize dalam Cannes Film Festival di tahun 2013. Ini merupakan film ketiga Hirokazu Koreeda dalam Cannes, yang juga mengangkat kisah drama keluarga dari bumi sakura.

Berjudul asli “Soshite chichi ni naru” ini mengisahkan tentang kehidupan sebuah keluarga mapan modern. Mereka adalah keluarga Nonomiya, yang terdiri dari Ryota, Midori, dan putra tunggal mereka, Keita. Ryota, yang diperankan Masaharu Fukuyama, adalah seorang eksekutif yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Walaupun demikian, Ia juga menerapkan banyak hal disiplin untuk putra tunggalnya. Baginya, mempersiapkan Keita untuk dapat hidup mandiri dan mampu bersaing adalah tujuannya.

Courtesy of Amuse, Fuji Television Network, GAGA © 2013

Mereka bertiga hidup di sebuah apartemen mewah. Midori, yang diperankan Machiko Ono, merupakan seorang Ibu yang sangat perhatian. Ia akan sangat memperhatikan Keita maupun suaminya. Jikalau Keita, yang diperankan Keita Ninomiya, menderita luka kecil, Midori akan benar-benar cemas dengan putranya.

Kisah film ini diawali ketika keluarga Nonomiya mendaftarkan putra mereka ke sekolah. Disana mereka di-interview, terutama Keita. Keita pun mengungkapkan banyak hal yang “tidak jujur.” Sosok Ryota yang terlalu sukses seakan memperlihatkan beban untuk Keita agar bisa berhasil seperti sang ayah.

Courtesy of Amuse, Fuji Television Network, GAGA © 2013

Masalah pun muncul. Pihak rumah sakit Maebashi, tempat dimana Midori melahirkan Keita menginformasikan jikalau putra mereka yang lahir pada 28 July telah tertukar. Pihak rumah sakit pun mempertemukan ketiganya dengan keluarga Saiki. Berbeda dengan keluarga mereka, keluarga Saiki punya kehidupan yang jauh dari kemapanan mereka dan punya anak yang lebih banyak. Perbincangan untuk menukar anak untuk kembali pada orangtua kandung pun menjadi hal yang terlihat sepele, namun ternyata tidak bisa semudah itu. Menukar anak tidak semudah membalikkan uang.

Film berdurasi 121 menit digambarkan Koreeda dengan penggambaran kehidupan keluarga modern Jepang yang menarik. Mulai dari kehidupan di Apartemen, lalu penggunaan gadget-gadget yang sudah tidak asing, hingga suasana pemandangan-pemandangan yang punya makna sama dengan perasaan karakter utamanya. Saya sangat menikmati setiap momen di film ini. Walaupun tidak se-observatif “Still Walking,” “Like Father, Like Son” adalah sebuah perjalanan evaluasi seorang ayah akan keluarganya.

Courtesy of Amuse, Fuji Television Network, GAGA © 2013

Bicara ceritanya, Koreeda menghadirkan beragam konflik-konflik yang cukup mengubah pemikiran tokoh utama kita. Beragam usaha telah dilakukan Ryota, hingga disaat Ia sudah tidak mampu untuk mengungkapkan kemarahan akibat merasa keluarganya sudah hancur. Selain itu, yang menarik dari penceritaan film ini adalah saat penonton difokuskan pada para orangtua, film ini juga tidak melupakan sudut pandang anak-anak mereka. Ini belum ditambah dengan iringan piano yang hadir di sela-sela adegan, yang menambah sentimentil drama ini.

Bicara penampilan para pemainnya, mungkin Masaharu Fukuyama yang menjadi sosok Ryota akan menjadi fokus utama. Namun, saya kurang terlalu menyukai penokohan Ryota. Saya lebih tertarik dengan karakter Keita, yang diperankan oleh Keita Ninomiya. Ninomiya berhasil menangkap hati penonton lewat karakternya sebagai anak manis yang pendiam, penurut, walaupun pintar menyimpan perasaan. Selain itu, saya juga penggambaran hubungan Midori dengan Yukari, yang diam-diam ternyata saling akrab. Saya tetap menyukai cara Koreeda untuk selalu menggambarkan ceritanya dari berbagai macam sudut pandang tokoh didalamnya.

Courtesy of Amuse, Fuji Television Network, GAGA © 2013

Salah satu favorit saya adalah ketika Ryota, Midori beserta Ryusei sedang berkemah di apartemen mereka. Ketiganya terbaring, Ryota mulai tertidur serta Midori dan Ryusei sedang menyebut rasi-rasi bintang. Saat Midori berkata ada bintang jatuh, keduanya langsung membuat permohonan. Ketika ditanya, Ryusei menjawab kalau permohonannya adalah untuk kembali pulang dan bertemu ayah dan ibunya. Ryota langsung kaget terbangun akan keinginan jujur ini.

Well, saya merasa film ini tidak hanya bagus dari cerita, maupun akting, tetapi juga penyajiannya. Koreeda patut diacungi dua jempol untuk menampilkan sebuah drama keluarga berbobot, yang kaya adegan-adegan sederhana namun kadang cukup menyakitkan. “Like Father, Like Son” adalah sebuah rekomendasi yang tepat sebagai tontonan. Film ini tidak hanya menyentil father and son relationship, tetapi juga sebuah refleksi pada ayah-ayah yang terlalu sibuk, yang kurang menyediakan waktu bagi anak-anak mereka. Mengutip ucapan Yudai pada Ryota, “There’s a lot of stuff you can’t buy with money.”

#297 – Like Father, Like Son [Soshite chichi ni naru] (2013) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here