Saya langsung terpaku dan merenung dengan apa yang diceritakan film ini. “Moonlight” berkisah tentang Chiron, mulai dari masa kecil hingga dewasa yang dibagi ke dalam tiga bagian. Drama coming of age ini menghadirkan sebuah potret yang sering terjadi di sekitar kita.

Chiron kecil, yang sering dipanggil Little, diperankan oleh Alex R. Hibbert, sudah mengalami kekerasan sejak dini. Ia dikejar-kejar oleh kawanannya sambil diteriaki, “faggot… faggot,” yang membawa dirinya untuk kabur ke sebuah rumah kosong. Masuk ke rumah itulah yang membawanya bertemu dengan Juan, seorang penjual narkoba yang diperankan Mahershala Ali. Pertemuan pertama mereka yang cukup dingin ini membawa Juan masuk ke dalam kehidupan Little. Termasuk bersama kekasihnya, Teresa, yang diperankan Janelle Monáe.

Courtesy of A24, Plan B Entertainment © 2016

Juan dan Teresa awalnya bersedia untuk memberikan tumpangan bagi Little. Namun segala niat baik tersebut tidak seiring dengan reaksi ibu Little, Paula, yang diperankan oleh Naomie Harris. Paula yang mengalami ketergantungan obat tidak menyukai bila Juan mendekati Little, namun di sisi lain pun Ia tetap melakukan kekerasan padanya. Anak yang pendiam ini pun tetap nekat untuk terus bertemu Juan dan Teresa, tempat dimana Ia merasa diterima.

Beranjak remaja, Chiron, yang diperankan Ashton Sanders, maasih hidup dengan kondisinya yang dialaminya. Bedanya, sekarang sudah tak ada lagi Juan. Ia pun juga masih berteman dengan teman masa kecilnya yang bernama Kevin, diperankan Jharrel Jerome. Suatu ketika terjadi peristiwa yang tidak terduga antara Chiron dan Kevin. Lebih buruknya lagi, Chiron terjebak dalam sebuah permainan Terrel, yang akhirnya membawanya ke sebuah pelampiasan emosi yang tak tertahankan.

Courtesy of A24, Plan B Entertainment © 2016

Sutradara dan penulis naskah film ini, Barry Jenkins, akan membawa penonton ke sebuah transformasi penuh emosi. Mulai dari Little yang pendiam, lalu menjadi Chiron yang meledak-ledak, hingga berubah menjadi Black yang tidak dikenal. Setiap bagian dari karakter Chiron buat saya cukup menarik. Little yang pendiam berhasil membuat saya untuk terus menebak dengan aksi berikutnya. Ketika remaja, Ia seakan menabung-nabung keinginannya untuk meledak dan mencari jati dirinya. Tidak hanya Chiron, namun orang-orang di sekitar kita pun demikian. Saat masih kecil terkesan tidak berdaya, lalu beranjak remaja untuk mulai belajar menjadi pemberontak, dan berubah seiring menjadi dewasa.

Tokoh-tokoh disekitar Chiron pun menarik disimak. Seperti Kevin yang sebetulnya cinta pertama Chiron, Teresa yang baik hati ataupun Juan yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Termasuk kisah kurang harmonis keluarganya, ketika Paula sering bertindak sebagai seorang Ibu namun kadang berubah menjadi seorang yang jahat. Salah satu kutipan Paula yang selalu jadi tamengnya: “I’m your mama.” What a kind of bullsh*t! Hingga suatu ketika Ia pun berkata: ”You ain’t got to love me, but you gonna know that I love you.” Karakter Paula yang diperankan Naomie Harris sedikit mengingatkan saya dengan film “Precious,” yang cukup serupa dengan Ibu Precious yang diperankan Mo’Nique, namun hadir dalam versi yang lebih soft.

Courtesy of A24, Plan B Entertainment © 2016

Bicara penampilan pemainnya, yang paling saya sukai adalah pendukung film ini. Mahershala Ali, yang cuma tampil sepertiga di film ini berhasil memikat dengan karakternya yang sebetulnya bad boy namun terlihat good boy dan bisa menaklukan Chiron. Salah satu yang jadi adegan menarik disini ketika Juan menjawab pertanyaan Little tentang faggot: “A faggot is… a word used to make gay people feel bad. … No, you’re not a faggot. You can be gay, but you don’t have to let nobody call you a faggot.”

Yang juga jadi catatan saya adalah bagaimana Jenkins berhasil membuat saya tercengang dengan adegan yang biasa menjadi tidak biasa. Seperti adegan berkelahi Kevin dan Little yang didramatisasi seakan-akan cukup parah. Ataupun kegiatan berenang antara Juan dan Little. Lewat pengambilan gambar yang sengaja dibuat tidak rapi, lewat banyaknya gangguan gelombang, menjadikannya seperti sebuah kejadian live yang sedang disaksikan.

Courtesy of A24, Plan B Entertainment © 2016

“Moonlight” adalah cerita pencarian jati diri yang menyentuh. Kekerasan fisik dan mental lengkap dialami Chiron, baik di dalam keluarganya ataupun lingkungan sekolahnya. Ia juga memiliki orientasi seksual gay, walaupun film ini tidak terlalu fokus untuk menggali ranah tersebut. Terlihat jelas dari perbedaan naskah dengan yang dihadirkan. Kalau “La La Land” berhasil untuk jadi sebuah film yang mudah disukai, “Moonlight” unggul dalam penyajian dramanya yang begitu emosional dan powerful. Mengutip ucapan Juan pada Chiron: “At some point, you gotta decide for yourself who you’re going to be. Can’t let nobody make that decision for you.” Dunia ini terus berputar dan semua orang pun terus berubah sesuai keputusan mereka. Kadang kita tidak akan menyangka pada orang yang kita anggap ‘cupu’ saat ini ternyata berhasil menjadi seorang yang ‘kuat’ di masa depan, vice versa. That’s how “Moonlight” tells the story, and that’s why I’m so impressed with it.

#289 – Moonlight (2016) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here