Disney kembali cukup sensasional untuk menutup tahun lewat “Moana,” hampir sama seperti “Frozen” 3 tahun lalu. Setelah “Mulan” dari China, “Pocahontas” dari pedalaman Amerika, hingga “Lilo” dari Hawaii-nya, kali ini kehidupan para penghuni kepulauan pasifik menjadi inspirasi untuk penduduk penjelajah kepulauan sebuah dunia fiksi baru yang diangkat oleh kisahnya.

Namanya adalah Moana, disuarakan oleh Auli’I Cravalho. Semenjak kecil, Moana bersama para penduduk cilik telah diceritakan mengenai Maui, manusia setengah dewa yang mampu berubah wujud berbagai jenis hewan. Maui, yang disuarakan oleh Dwayne Johnson, dianggap telah membuat ulah. Dengan kemampuannya yang luar biasa, Ia telah berhasil merebut jantung Te Fiti, dewa yang merupakan godmother of earth. Akibatnya, muncul serupa sosok makhluk penghancur bumi bernama Te Kā. Akibat ulahnya itu Maui juga kehilangan kekuatannya. Kail raksasa pemberian para dewa miliknya lenyap beserta jantung Te Fiti.

Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016
Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016

Moana sebetulnya adalah anak kepala suku Motunui, yang telah mendiami pulau mereka semenjak ekspedisi yang dilakukan oleh kakeknya. Saat kecil, Moana tiba-tiba terpanggil dengan lautan. Oleh karena sifat baik hatinya menolong seekor penyu yang terlepas, Ia kemudian diberikan jantung Te Fiti oleh lautan. Sayang Moana kecil tidak menyadari ini. Ini karena kedatangan sang Ayah, Chief Tui Waialiki, yang disuarakan oleh Temuera Morrison, yang tidak mau Moana untuk mengalami pengalaman pahit sepertinya. Itulah mengapa Ia selalu menentang putri dan penduduknya untuk berinteraksi dengan lautan.

Masalah dalam kisah film ini ketika penduduk Motunui mengalami kesulitan. Segala hasil panen mereka busuk, termasuk hasil panen ikan di lautan yang tidak ada hasil. Disaat krisis tersebut, sang Ayah tetap melarang penduduknya untuk melewati batas lautan. Lain dengan Moana, Ia merasa para penduduk perlu mencari lokasi baru yang berada dari batas tersebut. Sayang, upaya itu tetap tidak mendapatkan restu, sampai akhirnya Ia bertemu neneknya yang kemudian menceritakan kisah yang sebetulnya. Disinilah perjalanan Moana berawal.

Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016
Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016

Cerita film ini yang ditulis oleh Jared Bush, menghadirkan sosok karakter tangguh dan bersemangat dari seorang perempuan muda. Saya suka ketika karakternya dihadirkan sebagai seseorang yang otodidak, yang sebetulnya tidak harus berbuat apa, namun mendapatkan penyertaan dari lautan. Ketertarikan saya semakin bertambah ketika Moana ditunjukkan dalam kondisi yang lebih buntu, saat Ia benar-benar menyerah, dan menampilkan kalau Ia memang hanya seorang perempuan biasa.

Yang juga menarik, petualangan Moana tidak sendirian. Ia ditemani Maui yang luar biasa angkuh dan menyebalkan. Selain Maui, juga ada Heihei, seekor ayam bodoh yang selalu berhasil selamat di dalam petualangan mereka yang sangat berbahaya. Kehadiran Maui tidak hanya menjadi pencair keseriusan cerita, lewat tattoo-nya yang bisa berinteraksi, tetapi juga suka bertingkah konyol. Lain dengan Heihei, sosok yang sebetulnya tidak terlalu berguna ini selalu berhasil memecah tawa penonton dengan aksi tingkahnya. Ia cukup serupa seperti Scrat dalam franchise “Ice Age” yang memang ditujukan untuk menambah unsur komedi dalam ceritanya.

Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016
Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016

Dari faktor cerita, film yang disutradarai Ron Clement dan John Musker ini berhasil membuat saya tertawa kecil hingga kadang pecah sepanjang film. Begitupula dengan visualisasi animasi yang dihadirkan. Keindahan yang mirip seperti kepulauan Pasifik ditampilkan dengan cukup detil, lewat suasana tropis dan alam yang didominasi warna-warna cerah. Saya juga menyukai bagaimana Disney benar-benar ‘unggul’ untuk bermain-main dengan air. Saya cukup teringat dengan bagaimana kehebatan Ang Lee untuk mengatur gerak-gerik ombak dalam “Life of Pi” yang membuahkan sebuah nominasi sutradara terbaik dalam Academy Awards. Dalam film ini, Moana berhasil menghadirkan suasana tersebut dalam bentuk animasi.

Yang juga menarik adalah ketika Moana dan Maui harus bertemu dengan serangkaian kelompok besar yang terdiri dari makhluk berwujud kelapa bersenjata yang dikenal sebagai Kakamora. Adegan ini mengingatkan saya dengan “Mad Max: Fury Road”-nya George Miller dalam versi yang lebih cute dalam setting penyerangan di lelautan.

Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016
Courtesy of Walt Disney Animation Studios, Walt Disney Pictures © 2016

Musik dalam film Moana juga terasa begitu musikal. Maklum, musiknya digubah oleh Lin-Manuel Garcia, penata musik kenamaan yang sedang dikenal lewat Broadway “Hamilton”-nya. Lagu utama film ini, “How Far I’ll Go” bisa punya peluang untuk mengamankan sebuah nominasi untuk Best Original Song di tahun ini. Bila berhasil menang seperti “Frozen,” Garcia akan menjadi orang berikutnya yang berhasil memenangi EGOT awards (Emmy-Grammy-Oscar-Tony).

Sungguh tidak terasa menikmati film ini. Saya rela menikmati petualangan penuh fantasi. Bila membandingkan dengan produksi Disney lainnya di tahun ini, “Zootopia,” saya akan lebih memilih film ini kalau menimbang dari bagaimana musikalisasi, semangat yang tersampaikan, hingga visualisasi yang ditawarkan. Namun, saya akan lebih memilih “Zootopia” jika berbicara dari kedalaman makna dan penghadiran realita dalam versi animasi. Moana pantas menjadi next Disney’s Princesses setelah Elsa dan Anna, serta menjadi klasik Disney berikutnya dari era modern ini. Berikutnya yang terbenam di dalam kepala saya adalah: Akankah Disney mengangkat seorang princess yang terinspirasi dari Nusantara? We’ll see…

#276 – Moana (2016) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here