Sebagai sebuah organisasi militan wanita yang aktif dari partai Women’s Social and Political Union (WSPU), “Suffragette” berhasil menjadi sebagai pionir perubahan para wanita demi mewujudkan keadilan gender yang terjadi. Perlu diakui, sampai awal abad ke-20, hanya Selandia Baru dan Australia yang memang benar-benar memberikan hak politik bagi para wanita.

Tokoh utama kita dalam film ini akan terpusat pada kehidupan seorang karakter wanita yang fiktif, bernama Maud Watts, yang diperankan Carey Mulligan. Maud, begitu panggilannya, setiap hari bekerja sebagai buruh cuci bersama sekumpulan wanita lainnya. Ia dilahirkan dari seorang Ibu yang bekerja, sekaligus dilecehkan di tempat kerjanya kini, dan lahir juga disana.

206-Picture1
Courtesy of Ruby Films, Pathé, Film4, British Film Institute, Canal+ France, Ciné +, Focus Features, Ingenious Media, Pathé International, Redgill Productions © 2015

Kini, Maud telah memiliki seorang suami bernama Sonny, yang juga menjadi buruh di tempat kerja yang sama. Mereka telah memiliki seorang anak bernama George, yang diperankan Adam Michael Dodd. Suatu ketika, Ia ditugaskan untuk mengirim kiriman dari tempat Ia bekerja. Di tengah perjalanan, tampak beberapa wanita yang disebut Suffragist sedang melakukan aksi mereka dengan melempari batu ke beberapa toko di tengah kota. Salah satunya adalah Violet Miller, seorang rekan kerjanya, yang diperankan Anne-Marie Duff. Maud yang bukan seorang Suffragist seakan mulai membuka pemikirannya dan memulai aksinya demi sebuah harapan akan kesetaraan.

Film yang disutradarai Sarah Gavron, membawa penonton ke dalam sebuah fiksi yang dikaitkan dengan sejarah pergerakan feminisme di Inggris. Kisahnya yang dikarang Abi Morgan, akan memperlihatkan penonton tentang begitu kejamnya perlakuan politik pada wanita di masa itu. Mulai dari bagaimana tidak adanya hak politik untuk memilih, ketidakadilan di tempat kerja, hingga pelecehan tempat kerja.

206-Picture6
Courtesy of Ruby Films, Pathé, Film4, British Film Institute, Canal+ France, Ciné +, Focus Features, Ingenious Media, Pathé International, Redgill Productions © 2015

Di Inggris, kegiatan Suffragist dipimpin oleh Emmeline dan Christabel Pankhurst. Dalam film ini, Meryl Streep akan tampil sebentar di film dengan adegan speech motivasi, memerankan karakter Emmeline Pankhurst. Sayang saja, aksi marketing film ini yang mengusung Streep sebagai salah satu pemain di film ini terlalu mengekspos dirinya. Padahal, Streep seperti tampil sebentar, namun memukau. Efek sampingnya, film ini seakan membuat penonton yang penasaran dengan Streep dalam film ini untuk terus menunggu, menunggu kemunculan yang sayangnya terlalu cepat.

Berlatar di Inggris sekitar awal abad ke-20, film ini cukup menggambarkan kehidupan masyarakat kelas bawah yang terwakili dari sosok Maud. Saya cukup mengapresiasi Carey Mulligan, yang tampil cukup serius dan jadi sosok pemberontak yang tangguh. Awalnya, saya tidak terlalu bisa mengikuti karakter Maud hingga pertengahan. Setelah masuk ke pertengahan, Mulligan akan mencuri empati penonton hingga akhir.

206-Picture7
Courtesy of Ruby Films, Pathé, Film4, British Film Institute, Canal+ France, Ciné +, Focus Features, Ingenious Media, Pathé International, Redgill Productions © 2015

Selain Mulligan, Helena Bonham-Carter, salah satu aktris favorit saya, kembali menghadirkan sesuatu yang berbeda. Bonham-Carter yang biasanya sering tampil quirky dan suka jadi antagonis, kali ini berperan sebagai protagonis yang memperlihatkan kenormalannya. She’s still became one of my favourite!

Tidak ketinggalan, karakter Violet yang diperankan Anne-Marie Duff, juga jadi pendukung yang patut diperhitungkan. Karakter ini sebetulnya punya durasi tampil yang lebih banyak, dibanding Bonham-Carter maupun Streep. Mungkin karena sempat adanya kemunduran dari karakternya, dan juga aktrisnya yang mungkin tidak se-menjual lainnya, Ia tidak di featured di dalam poster film ini. Padahal, Violet merupakan salah satu key cast yang seharusnya cukup diperhitungkan dibanding karakter Pankhurst.

206-Picture3
Courtesy of Ruby Films, Pathé, Film4, British Film Institute, Canal+ France, Ciné +, Focus Features, Ingenious Media, Pathé International, Redgill Productions © 2015

Di balik segala usaha Gavron dan Morgan untuk memberikan penggambaran historis, dengan cast-cast berwatak maupun aksi marketing yang terlalu mengekploitasi, film ini masih punya sedikit kelemahan, eksekusi ceritanya. Sepertinya, film ini sudah dikemas cukup kuat dengan cara untuk menampilkan fakta-fakta miris yang membangun empati penonton. Namun, saya masih merasa Gavron masih terlalu standar untuk menampilkan itu semua, yang berimbas pada sebuah kedataran dalam penceritaan. Gavron seakan hanyut dan meninggalkan banyak room for improvement dari potensi film ini, yang mungkin bisa punya impact dan jadi melebihi ini. Tentang wanita dan dibuat oleh para wanita, begitulah deskripsi singkat untuk “Suffragette.”

Suffragette (2015)
PG-13, 106 menit
Biography, Drama, History
Director: Sarah Gavron
Writer: Abi Morgan
Full Cast: Anne-Marie Duff, Grace Stottor, Geoff Bell, Carey Mulligan, Amanda Lawrence, Shelley Longworth, Adam Michael Dodd, Ben Whishaw, Sarah Finigan, Drew Edwards, Lorraine Stanley, Romola Garai, Adam Nagaitis, Helena Bonham Carter, Finbar Lynch, Samuel West, Nick Hendrix, Clive Wood, Brendan Gleeson, Morgan Watkins, Ross Green, Adrian Schiller, Col Needham, Jamie Ballard, Joyce Henderson, Raewyn Lippert, Natalie Press, Joanna Neary, Annabelle Dowler, Meryl Streep, Catherine Tomelty, Susie Baxter, Lisa Dillon Matt Blair Jacob Krichefski, Jonathan Cullen, Daniel Tatarsky, James Ward, Adam Harley, Simon Gifford
#206 – Suffragette (2015) was last modified: November 27th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here