“A Little Pond” mengambil setting di Nogeun-ri, sebuah desa yang terletak di Provinsi Chungcheong Utara, Korea Selatan. Peristiwa yang terjadi disana pada 26-29 Juli 1950, akan menjadi salah satu tragedi yang tak terlupakan ketika tentara Amerika Serikat melakukan pembantaian besar-besaran pada penduduk setempat yang mayoritas wanita dan anak-anak.

Penduduk Nogeun-ri merupakan masyarakat pedesaan yang hidup dengan bertani. Mereka juga cukup ramah, terbukti dengan aksi sapa-menyapa antar warga desa. Ada sebuah mitos yang hidup disana bahwa desa mereka dilindungi oleh “Gate Rock.” Ini berawal ketika masa pejajahan Jepang, yang membawa jutaan samurai menuju Seoul berupaya menghancurkan desa tersebut hanya karena terdapat buah kesemek yang disebut “Kam”, yang terdengar mirip dengan “Kami” yang berarti dewa dalam bahasa Jepang. Aksi tersebut gagal ketika batu dari langit menutupi pintu masuk desa. Tradisi ini kemudian turun temurun membuat warga desa selalu memberikan penghormatan pada sebuah batu besar di pintu masuk desa.

a little pond
Courtesy MK Pictures © 2009

Suatu ketika, tentara Amerika Serikat, didampingi seorang tentara Asia yang berbahasa Jepang melakukan aksi keliling hingga ke desa mereka. Mereka menyerukan para warga untuk segera mengungsi, sebab akan ada pertempuran hebat disana dengan para komunis. Para warga yang ketakutan kemudian segera melarikan diri ke Bukit Gama. Akan tetapi, baru saja disana, para tentara menyuruh warga desa untuk lari ke arah Selatan, dengan iming-iming akan dijemput oleh sebuah truk yang telah disiapkan. Keluguan membuat mereka mengikuti instruksi ini, sebelum akhirnya berhadapan pembantaian besar-besaran di depan mereka.

Lee Sang-Woo, sutradara dan penulis naskah film ini, menghadirkan sebuah dramatisasi yang cukup mengenaskan. Film ini terinspirasi dari sebuah buku berjudul “Do You Know Our Sorrow?” karangan Chung Eun-Yong, salah seorang korban selamat dari peristiwa ini; dan juga sebuah buku berjudul “The Bridge at No Gun Ri”, yang ditulis oleh Associated Press.

171-picture6
Courtesy MK Pictures © 2009

Pusat cerita dalam film ini adalah warga desa Nogeun-ri. Cukup banyak tokoh-tokoh yang diperlihatkan, sehingga jarang ada dari antara mereka yang terkesan lebih bersinar di layar. Semuanya punya andil dalam cerita, sehingga penonton tidak perlu untuk terfokus siapa nama dan watak khas tiap karakter. Yang saya sukai bagaimana cara Lee Sang-Woo untuk menggambarkan situasi awal di desa yang hanya berbasis dua kejadian: suami-istri yang sedang bertengkar dan para bapak yang sedang asik main di sebuah saung. Dari dua kejadian ini, kehidupan penduduk desa menjadi semakin terjelajahi oleh penonton, seperti adanya pendatang, anak-anak yang pulang sekolah, anak yang dimarahi ibunya, hingga seorang warga yang baru datang dari kota.

171-picture3
Courtesy MK Pictures © 2009

Sungguh ironis. Kasus Nogeun-ri memang sempat membuka mata dunia ketika aksi para survivor kurang mendapatkan perhatian dan belum mendapatkan aksi maaf dari negara maupun pihak sekutu. Alhasil, setelah melakukan investigasi,pihak Korea Selatan melakukan aksi minta maaf dan membuat sebuah memorial berupa museum perdamaian, monumen  dan pemakaman.

Saya cukup menyukai penyajian film ini walaupun dikemas kurang dari 90 menit. Memang tidak akan ada aksi serang menyerang antar pihak militer, yang ada hanyalah menyerang penduduk sipil yang sebetulnya tidak melawan. Ironis! Mungkin tragedi ini akan menjadi berbeda bila penduduk setempat melakukan aksi serangan ke pihak Amerika Serikat. Tetapi mereka percaya bahwa Amerika Serikat berada di pihak yang sama. Sang-Woo melakukan dramatisasi yang luar biasa terutama ketika awal penyerangan di rel kereta, ketika para warga ditembaki dengan pesawat militer.

171-picture4
Courtesy MK Pictures © 2009

Menyaksikan film ini seperti menghadirkan sebuah kesan yang berbeda dari film perang lainnya. Bila banyak film menggambarkan sosok Amerika Serikat sebagai sekutu yang luar biasa, heroik akan kemenangan mereka di perang dunia kedua, ataupun terlihat lebih baik dibanding Jerman karena aksi Holocaust mereka, disini penonton akan dibukakan dengan sebuah pandangan yang cukup berbeda. Film yang dikemas indah ini akan cukup berbicara dengan penonton secara emosional, dan memberikan saya perspektif yang baru akan perang dan juga Amerika Serikat. Command is the number one, even though you need to kill innocent people.

A Little Pond [Jageun yeonmot] (2009)
86 menit
War
Director: Lee Sang-Woo
Writer: Lee Sang-Woo
Full Cast: Mun Seong-Kun, Kim Roe-Ha, Jeon Hye-Jin, Shin Myeong-Cheol, Michael Frederick Arnold, Bae Hye-Min, Goo Hye-Min, Hong Ji-Soo, Im Geum-Hee, Im San, Jeong Da-Eun, Jeong Hae-Won, Jeong Seong-Hoon, Joo Ye-Rin, Kang Ee-Cheol, Kang Hyo-Jeong, Kang Kyeong-Hee, Kim Deok-Eun, Kim Ee-Geon, Kim Ga-Yeong, Kim Jeong-Yeong, Kim Ji-Hoo, Kim Ji-Hyun, Kim Nam-Jim, Kim Ryoo-Na, Kim Seon-Yeon, Kim Soo-Jeong, Kim Yoo-Han, Ko Kwang-Soo, Ko Yeong-Jin, Lee An-Na, Lee Chae-Won, Lee Da-In, Lee Dae-Rin, Lee Hwa-Jin, Lee Ji-Hyun, Lee Ji-Won, Lee Po-Hyeong, Lee Tae-Hoon, Min Kyeong-Min, Park Chae-Yeon, Park Hie-Jin, Park Jeong-Joo, Park Kwang-Jung, Park Yoon-Kyeong, Seo Dong-Gap, Seo Hwa-Seok, Seo-ran, Seong Han-Kyeong, Son Ga-Hee, Son Hyeong-Soo, Song Jae-Hyo, Song Kang-Ho, Song Min-Seo, Song Woon-Yong, Mathieu Stewart, Yoon Ah-Reum, Yoon Yeong-Min

#171 – A Little Pond [Jageun yeonmot] (2009) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo