Stanley Kubrick menghadirkan sebuah kisah dongeng indah dalam sosok seorang pria bernama Barry Lyndon. Kisah film ini merupakan sebuah adaptasi sebuah novel seri tahun 1844 berjudul “The Luck of Barry Lyndon”, yang dikarang oleh William Makepeace Thackeray. Adaptasi Kubrick ini cukup panjang, dengan durasi kisahnya yang mencapai 187 menit, yang dibagi ke dalam dua bagian.

Bagian pertama film ini diberi judul “By What Means Redmond Barry Acquired the Style and Title of Barry Lyndon.” Dari judulnya, kisah akan terfokus mengenai kisah masa lalu Barry. Barry, yang diperankan oleh Ryan O’Neal, mengalami sebuah rentetan tragedi yang berawal dari sepupunya, Nora Brady, yang diperankan oleh Gay Hamilton. Brady berusaha merayu Barry yang merupakan sepupunya dan mengkhianatinya dengan hubungan affair dengan Captain John Quin, yang diperankan oleh Leonard Rossiter. Menurut Brady, Ia hanya memandang Barry sebagai anak laki-laki. Namun cukup aneh, bagaimana mungkin Ia bisa memberikan sebuah barang yang cukup intim pada seorang laki-laki yang tidak dianggapnya sebagai pria dewasa?

107-Picture2
Courtesy of Warner Bros., Hawk Films, Peregrine © 1975

            Redmond Barry yang masih polos dan punya emosi “jiwa muda” memberanikan diri untuk menantang Captain John Quin ke dalam sebuah duel maut, sebuah cara terakhir pada zaman itu untuk menyelesaikan masalah. Alhasil, “duel” tersebut membawa Barry ke dalam sebuah rentetan peristiwa sebelum mengubah namanya menjadi Barry Lyndon.

            Satu lagi adaptasi Kubrick yang menurut saya sangat indah. Kubrick berusaha menampilkan cerita ini dengan tampilan pemandangan natural Eropa yang cukup memukau. Ia memainkan komposisi warna langit, awan, dan suasana yang asri ke dalam setting film ini. Perlu diakui, sinematografi film ini, yang dilakukan oleh John Alcott diatur selaras mungkin dan se-alami mungkin untuk menghasilkan gambar-gambar yang menarik. Salah satunya adalah teknik natural yang sering dilakukan Kubrick, dengan berusaha memanfaatkan sumber cahaya alami, yaitu dengan penggunaan banyak lilin pada adegan-adegan malam hari.

107-Picture1
Courtesy of Warner Bros., Hawk Films, Peregrine © 1975

            Dari sisi penceritaan, Kubrick tidak hanya sekedar menampilkan sepotong kisah saja. Ia menghadirkan cerita Barry Lyndon layaknya sebuah epik, sebuah biografi yang menceritakan transformasi Lyndon. Setting perang Eropa di abad 18, juga mewarnai kisahnya. Juga, penonton akan lebih diperkenalkan dengan bagaimana kehidupan bangsawan di masanya. Dapat dikatakan bahwa film ini merupakan gaya penceritaan terbaik di banding film Kubrick lainnya.

107-Picture4
Courtesy of Warner Bros., Hawk Films, Peregrine © 1975

            Apa yang membuat film ini menjadi sebuah tontonan yang patut ditonton? Pertama, aksi duel ikonik dari film ini. Duel antara Lyndon dan Captain Quin merunut saya adalah salah satu hal yang cukup epik di dalam film ini. Walaupun adegan tersebut diambil dari cukup jauh, di sisi penceritaan ini merupakan sebuah skandal besar. Saya cukup kaget ketika mengetahui kebenaran yang sebetulnya nanti akan diungkapkan di pertengahan cerita. Kedua, penceritaan Kubrick di film ini yang paling mudah di cerna, tetapi akan terlalu mengenyangkan penonton. Memang agak sedikit membutuhkan usaha bagi saya untuk menyelesaikan film ini, setelah dua kali harus terhenti. Selain alasan durasi panjang dan pemain utama yang kurang greget. Ketiga, bagaimana film ini dikemas. Mulai dari sinematografi yang indah, komposisi warna yang menarik, naturalis, sampai ke setting lokasi, dekorasi, kostum hingga make up ala abad ke 18 di Inggris. Tidak ketinggalan juga, bagaimana musik kembali berperan besar di dalam film ini. Leonard Rosenman memberikan sebuah suguhan score indah pelengkap tontonan, dengan sentuhan Irish folk music lewat harpischord, hingga alunan klasik Bach hingga Schubert.

107-Picture7
Courtesy of Warner Bros., Hawk Films, Peregrine © 1975

            Film yang dirilis tahun 1975 ini memang tidak hasil yang memuaskan buat Warner Bros. kalau dari segi pendapatan. Walaupun tidak rugi, film ini cukup menuai banyak nominasi dalam perhelatan Oscar tahun tersebut, dan menjadi film kedua dengan nominasi terbanyak. Alhasil, film ini memenangkan 4 piala Oscar, yaitu: Best Original Score (Leonard Rosenman), Best Art Direction (Ken Adam, Roy Walker, Vernon Dixon), Best Cinematography (John Alcott), dan Best Costume Design (Milena Canonero dan Ulla-Britt Söderlund). Sayangnya, film ini juga menjadi salah satu kekalahan terbesar di Oscar secara perorangan di tahun yang sama untuk Stanley Kubrick yang meraih 3 nominasi (Best Picture, Best Director, dan Best Adapted Screenplay), yang kesemuanya harus dilibas film Milos Forman “One Flew Over the Cuckoo’s Nest.”

107-Picture6
Courtesy of Warner Bros., Hawk Films, Peregrine © 1975

At the end, saya cukup menyukai epilog dari film ini yang berkata, ”It was in the reign of George III that a foresaid personages lived and quarreled; good or bad, handsome or ugly, rich or poor they are all equal now.”

Barry Lyndon (1975)
PG, 184 menit
Adventure, Drama, History
Director: Stanley Kubrick
Writer: Stanley Kubrick, William Makepeace Thackeray
Full Cast : Ryan O’Neal, Marisa Berenson, Patrick Magee, Hardy Krüger, Steven Berkoff, Gay Hamilton, Marie Kean, Diana Körner, Murray Melvin, Frank Middlemass, André Morell, Arthur O’Sullivan, Godfrey Quigley, Leonard Rossiter, Philip Stone, Leon Vitali, John Bindon, Roger Booth, Billy Boyle, Jonathan Cecil, Peter Cellier, Geoffrey Chater, Anthony Dawes, Patrick Dawson, Bernard Hepton, Anthony Herrick, Barry Jackson, Wolf Kahler, Pat Laffan, Hans Meyer, Ferdy Mayne, David Morley, Liam Redmond, Pat Roach, Dominic Savage, Frederick Schiller, George Sewell, Anthony Sharp, John Sharp, Roy Spencer, John Sullivan, Harry Towb, Michael Hordern
#107 – Barry Lyndon (1975) was last modified: November 18th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here