Setelah sukses dengan kesan remake dan nostalgia pada edisi sebelumnya, “22 Jump Street” hadir dengan lebih matang. Mengusung kembali duo maut Jonah Hill dan Channing Tatum, penonton akan dihibur dengan aksi-aksi konyol keduanya.

Pada installment yang kedua ini, Phil Lord dan Christopher Miller, kedua sutradara film ini berusaha menampilkan sebuah tontonan yang lebih menarik, walaupun dibuat dengan formula yang sama: cast yang sama, alur cerita yang sejenis, serta jenis guyonan yang sama. Yang berbeda, naskah film ini hanya dilanjutkan oleh Michael Bacall (tanpa Jonah Hill), dan dibantu oleh Oren Uziel dan Rodney Rothman. Mungkin faktor ini yang membuat mengapa kisah “22 Jump Street” lebih menarik.

97-picture2
Courtesy of Columbia Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer, LStar Capital, Media Rights Capital, Original Film, Stephen J. Cannell Productions, Storyville, 75 Year Plan Productions, 33andOut Productions, JHF © 2014

Film ini dibuka dengan awal layaknya serial TV, dengan segment “Previously on 21 Jump Street”, yang memberikan sederetan adegan singkat tentang apa yang terjadi pada film sebelumnya. Yup, film ini dikesankan layaknya sebuah episode. Seperti yang sudah di spoiler pada film sebelumnya, status penyamaran Jenko dan Schmidt pun naik pangkat. Dari yang tadinya hanya sebagai anak SMA, sekarang naik tingkat menjadi College.

Dengan model yang sama, keduanya ditugaskan untuk mencari penyebar narkoba yang dikenal dengan nama “Whyphy”, yang namanya cukup similar dengan Wi-Fi yang kita kenal. Usaha penyamaran keduanya menjadi semakin menarik ketika film ini ketika keduanya masing-masing menyamar sebagai identitas mereka, tidak seperti film sebelumnya dimana identitas mereka tertukar. Alhasil, Jenko menemukan teman-teman yang punya minat yang sama, dan Schmidt menemukan seseorang kekasih.

97-picture1
Courtesy of Columbia Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer, LStar Capital, Media Rights Capital, Original Film, Stephen J. Cannell Productions, Storyville, 75 Year Plan Productions, 33andOut Productions, JHF © 2014

Pada seri kedua ini, cukup tampak kontras usaha Lord dan Miller beserta Bacall untuk memperbaiki beberapa unsur negatif dari film sebelumnya. Salah satunya adalah memberikan sedikit porsi untuk peran Ice Cube, seperti seakan lebih baik namun tetap tidak menarik. Selain itu, Schmidt yang ditampilkan memiliki “good times” lebih banyak dari Jenko pada film sebelumnya, ditampilkan sebaliknya.

Tatum dan Hill menghadirkan sebuah chemistry yang semakin kuat, lewat kisah persahabatan yang akan sempat disinggung nantinya di dalam film ini. Tatum akan kembali menampilkan sosok strong and good looking, but dumb; dan Hill juga kembali menampilkan sosok weak, so so, but smart. Keduanya menampilkan penggambaran karakter keduanya yang lebih nampak dan jelas dari film sebelumnya. Penonton juga akan diperlihatkan dengan aksi parkour Tatum dan aksi konyol Hill yang mengacaukan segalanya.

97-picture3
Courtesy of Columbia Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer, LStar Capital, Media Rights Capital, Original Film, Stephen J. Cannell Productions, Storyville, 75 Year Plan Productions, 33andOut Productions, JHF © 2014

Salah satu kunci dari film ini adalah bagaimana komposisi background music dengan dialog diatur sedemikian rupa sehingga cukup memainkan emosi penonton. Seperti bagaimana banyaknya kesan-kesan yang sering berubah antara sudut kedua pemain dengan kejadian sebenarnya di dalam film. Porsi dialog pun menjadi unsur yang sangat penting di dalam film ini, terutama kekonyolan keduanya. Salah satunya adalah kebiasaan Schmidt dan Jenko yang sering berargumen ketika di depan villain mereka, dan konyolnya kadang para penjahat mereka malah ikut terdiam dan mendengarkan argumen mereka. Dan salah satu favorit saya adalah ketika Schmidt melakukan perlawanan onebyone dengan main villain dalam film ini, namun sempat diwarnai dengan adu mulut yang cukup jenaka…

Sepanjang film ini, ada satu karakter yang cukup mencuri perhatian selain Tatum dan Hill. Yaitu sosok Maya, yang diperankan oleh Amber Stevens. Walaupun Maya tidak terlalu punya porsi yang cukup penting di dalam ceritanya, namun Ia punya peran yang besar dalam ukuran penambah keseruan cerita.

97-picture5
Courtesy of Columbia Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer, LStar Capital, Media Rights Capital, Original Film, Stephen J. Cannell Productions, Storyville, 75 Year Plan Productions, 33andOut Productions, JHF © 2014

Film ini juga akan sedikit mengingatkan kita dengan main villain di film sebelumnya, yang diperankan oleh Dave Franco dan Rob Riggle, yang hadir sebentar namun sebetulnya berusaha menggambarkan post condition keduanya setelah film pertama.

Sekali lagi, “22 Jump Street” cukup berhasil dengan segala kelucuan, aksi, hingga dramatisasi yang dilakukan dan secara keseluruhan terlihat lebih baik. Tetapi yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, “What will happen with the next installment? Will it show the same formula?” Kita tunggu saja “23rd Jump Street” yang konon kabarnya sedang digarap dan di release pada 2016 atau 2017 mendatang.

22 Jump Street (2014)
R, 109 menit
Action, Comedy, Crime
Director: Phil Lord, Christopher Miller
Writer: Michael Bacall, Oren Uziel, Rodney Rothman, Jonah Hill, Patrick Hasburgh, Stephen J. Cannell
Full Cast : Jonah Hill, Channing Tatum, Peter Stormare, Wyatt Russell, Amber Stevens, Jillian Bell, Ice Cube, The Lucas Brothers, Nick Offerman, Jimmy Tatro, Caroline Aaron, Craig Roberts, Marc Evan Jackson, Joe Chrest, Eddie J. Fernandez, Rye Rye, Johnny Pemberton, Stanley Wong, Dax Flame, Diplo, Tyler Forrest, John Bostic, Richard Grieco, Dustin Nguyen, Ian Hoch, Kate Adair, Drew Cross, Katrina Despain, Oscar Gale, Janeline Hayes, Jackie Bohne, Jason Richard Allan Foster, Toby Nichols, Toby Holguin, Eddie Perez, Mickey Facchinello, Tom Ventura, Brian Schacter, Sam Schweikert, Jack Maloney
#97 – 22 Jump Street (2014) was last modified: Mei 29th, 2021 by Bavner Donaldo