Peristiwa bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki menjadi salah satu kejadian kunci yang mengakhiri Perang Dunia Kedua. Tak hanya itu, peristiwa yang cukup familiar diajarkan pada kelas Sejarah di bangku sekolah ini juga membuat Amerika Serikat berubah menjadi salah satu negara adidaya hingga kini. Positifnya, adanya kejadian tersebut sebetulnya memberikan kesempatan bagi Bapak-bapak bangsa kita untuk melakukan proklamasi kemerdekaan. Sayangnya, nama Oppenheimer jarang ditulis di buku Sejarah. Padahal Ia yang menemukan bom atom. Dalam karya terbarunya, Christopher Nolan mengajak kita untuk masuk ke dalam kisah biografi “Oppenheimer”, sang penemu bom atom.

Robert Oppenheimer, diperankan oleh Cillian Murphy, merupakan seorang fisikawan yang amat menggeluti bidang fisika kuantum. Di negerinya, Amerika Serikat, bidang ini kurang diminati, dan membuatnya untuk belajar di Benua Eropa demi mendapatkan pengajaran dari ilmuwan-ilmuwan kuantum. Sebut saja seperti, Werner Heisenberg, Niels Bohr, sampai Patrick Blackett. Ketertarikan ini malah membawanya pulang untuk meneruskan ilmuwan-ilmuwan baru yang meminati bidangnya.

oppenheimer
Courtesy of Universal Pictures, Atlas Entertainment, Gadget Films, Syncopy © 2023

Singkat cerita, di tahun 1939, Oppenheimer mulai mengajar di University of California, Berkeley. Pada saat yang sama pula, Ia mulai aktif untuk mengikuti kelompok yang terafilisasi dengan partai komunis di Amerika. Tak lama kemudian, Ia diajak oleh seorang U.S. Army General bernama Leslie Groves, diperankan oleh Matt Damon, untuk memimpin the Manhattan Project, yaitu proyek militer rahasia yang bertujuan untuk mengembangkan bom atom.

Dalam dekade yang berbeda, Lewis Strauss, ketua dari U.S. Atomic Energy Commission, yang diperankan oleh Robert Downey Jr., sedang bersiap untuk melakukan senate hearing, seiring dengan pencalonannya sebagai calon menteri perdagangan. Pada saat itu, Strauss malah diungkit perihal permasalahannya akan security hearing yang dilakukannya pada Oppenheimer, setelah Ia dianggap memiliki koneksi dengan pihak komunis.

oppenheimer
Courtesy of Universal Pictures, Atlas Entertainment, Gadget Films, Syncopy © 2023

Cerita yang disajikan dalam “Oppenheimer” sebetulnya merupakan sebuah adaptasi yang dilakukan oleh Christopher Nolan dari buku biografi pemenang Pulitzer yang berjudul “American Prometheus,” yang ditulis oleh Kai Bird dan Martin J. Sherwin dalam kurun 25 tahun. Secara penggarapan, apa yang dihadirkan dari ceritanya terasa begitu ambisius. Tidak tanggung-tanggung, Nolan menghadirkan biopik ini ke dalam tontonan yang berdurasi 3 jam. Maka tak heran jikalau di minggu pertama penayangannya, “Barbie” buatan Greta Gerwig yang juga dirilis pada hari yang sama menjadi lebih komersil.

Secara alur, saya tidak terlalu mudah untuk mencerna ceritanya. Sampai di dua jam pertama film ini, masih ada beberapa bagian yang sedikit membingungkan bagi saya. Maklum, saya sama sekali belum membaca apapun ketika menyaksikan “Oppenheimer.” Sebetulnya, film ini dikemas dengan alur maju mundur dalam beberapa masa. Pertama, masa kenaikan Oppenheimer termasuk bagaimana kesuksesan Ia dengan penemuan bom atomnya. Kedua, ketika Oppenheimer sedang menjalani security hearing, dan terakhir adalah ketika hearing senate pada Lewis Strauss yang dikemas secara monokrom.

oppenheimer
Courtesy of Universal Pictures, Atlas Entertainment, Gadget Films, Syncopy © 2023

Aspek sinematografi dalam film ini juga menarik. Sinematografer Hoyte van Hoytema, yang sebetulnya sudah cukup sering berkolaborasi dengan Nolan, sejak “Interstellar,” “Tenet,” dan “Dunkirk,” disini Ia menyajikan tetap dengan kesan yang dark dan thrilling. Yang paling saya nikmati disini adalah walking shot pada karakter Oppenheimer itu sendiri, yang menjadikan adegan terasa begitu dinamis.

Segi production set film ini juga dikemas menawan. Terutama, adalah ketika penggambaran Los Alamos, yang merupakan markas penelitian Oppenheimer. Akan tetapi, yang paling membuat saya pangling dari film ini adalah sisi makeup-nya. Kita tidak akan hampir mengenali Robert Downey Jr. si Ironman dari franchise Avengers,” yang kini malah hadir mirip seperti Al Pacino dalam “The Godfather Part III.”

oppenheimer
Courtesy of Universal Pictures, Atlas Entertainment, Gadget Films, Syncopy © 2023

Hal lain yang juga menarik dari “Oppenheimer” adalah kualitas ensemble cast-nya. Cillian Murphy yang cukup mendominasi cerita memang terbilang hadir dengan cukup total, akan tetapi sosok-sosok pendukung yang dihadirkan juga tidak kacang-kacang. Sebut saja Emily Blunt yang menjadi Kitty, istri dari Oppenheimer. Juga ada Florence Pugh, Matt Damon, Kenneth Branagh, Dane DeHaan sampai James D’Arcy. Buat saya, Cillian Murphy dan Robert Downey Jr terbilang dapat dikatakan untuk memberikan salah satu penampilan terbaik di tahun ini.

Secara karakterisasi, “Oppenheimer” sedikit mengingatkan saya dengan film pemenang Best Picture Oscar tahun 1984, “Amadeus.” Keduanya punya dasar cerita yang sama, sama-sama tentang drama dan biografi dari seorang jenius. Bedanya, satu ilmuwan, dan satunya pemusik. Juga, keduanya punya rival yang menurut mereka bukan rival. Walaupun pada realitanya, konflik Oppenheimer dan Strauss memang tidak berakhir sekeji Mozart dan Salieri. Oppenheimer tidak mati muda, tetapi harus menanggung moral sosial yang amat tinggi.

oppenheimer
Courtesy of Universal Pictures, Atlas Entertainment, Gadget Films, Syncopy © 2023

Terlepas dari penggambaran Oppenheimer yang tidak sempurna, kisah ini juga memberikan banyak pesan. Mulai dari bagaimana ketamakan manusia untuk mengumpulkan kuasa, sampai membuat kita untuk berpikir apakah perlu kita mengembangkan senjata pemusnah yang lebih canggih? Mungkin Oppenheimer dan Einstein tahu jawabannya, tetapi mereka enggan untuk mengumbarnya, seperti ketika Ia berujar, “When I came to you with those calculations, we thought we might start a chain reaction that might destroy the entire world.”

Alhasil, “Oppenheimer” merupakan salah satu film terbaik yang pernah dibuat. Bagian favorit saya adalah upaya dramatisasi yang dilakukan saat mereka sedang melakukan uji coba bom atom. Sayangnya, “Oppenheimer” terasa bukan sebagai film untuk semua. Dengan kesan yang amat serius, saya menyarankan Anda untuk setidaknya minimal membaca sinopsisnya agar mengerti dengan konteks yang diceritakan Nolan disini. Brilliant!

Oppenheimer (2023)
R, 180 menit
Biography, Drama, History
Director: Christopher Nolan
Writer: Christopher Nolan, Kai Bird, Martin Sherwin
Full Cast: Cillian Murphy, Emily Blunt, Robert Downey Jr., Alden Ehrenreich, Scott Grimes, Jason Clarke, Kurt Koehler, Tony Goldwyn, John Gowans, Macon Blair, James D’Arcy, Kenneth Branagh, Harry Groener, Gregory Jbara, Ted King, Tim DeKay, Steven Houska, Tom Conti, David Krumholtz, Petrie Willink, Matthias Schweighöfer, Josh Hartnett, Alex Wolff, Josh Zuckerman, Rory Keane, Michael Angarano, Dylan Arnold, Emma Dumont, Florence Pugh, Sadie Stratton, Jefferson Hall, Britt Kyle, Guy Burnet, Tom Jenkins, Matthew Modine, Louise Lombard, David Dastmalchian, Michael Andrew Baker, Jeff Hephner, Matt Damon, Dane DeHaan, Olli Haaskivi, David Rysdahl
#730 – Oppenheimer (2023) was last modified: Juli 25th, 2023 by Bavner Donaldo