Howdy! Ketika kalian mendengar kata “Amerika”, apa yang terbesit dalam pikiran kalian? Apakah gegam gempita kota New York? Kasino dan segala kemewahan kota Las Vegas seperti pada film The Great Gatsby? Atau keseruan pesta di pantai Miami? Lots of things popped out, right? Namun pasti “The Great Basin” bukanlah salah satu-nya.

Perjalanan liburan bersama keluarga melintasi Nevada di dataran tinggi bernama The Great Basin akhirnya membawa Chivas DeVinck kepada film dokumenter keduanya setelah The Poets (2017). Lewat The Great Basin”, DeVinck ingin mengajak penonton secara intim terlibat untuk menelusuri sebuah perjalanan tanpa ujung dan mendengarkan cerita dari mereka yang terpinggirkan di sebuah daerah yang menyandang gelar “the most loneliest road in America”.

the great basin
Courtesy of DialogueTalk © 2021

Secara geografis, The Great Basin adalah dataran tinggi di Amerika Serikat yang dihiasi dengan deretan pegunungan batu dan padang pasir yang tandus. Kalau kalian familiar dengan kota “Utah,” “Nevada”, “Oregon”, maka disinilah kota-kota tersebut bernaung. 95% wilayahnya adalah Nevada itu sendiri. Penduduknya juga tidak banyak. Tak ayal jika daerah ini disebut sebagai “the most loneliest road in America”, bahkan jika kamu melihat menggunakan google maps saja, di sepanjang perjalanan kita hanya akan melihat padang tandus, deretan pegunungan yang berbaris, mungkin beberapa pohon kaktus dan bekas tambang. But are there even people who live behind the great dessert? Well, there is. Siapa sangka terdapat sekelompok masyarakat yang berjuang untuk mempertahankan eksistensi di tengah gempuran ketimpangan sosial, kebijakan politik, modernisasi, dan krisis iklim. 

The Great Basin” dibuka dengan adegan penelusuran sekelompok orang yang diselimuti rasa ingin tahu di dalam sebuah gua yang gelap, kemudian film ditutup dengan pemandangan konstelasi bintang langit malam pada sebuah bioskop tak bertuan. Pemilihan awal dan akhir dokumenter ini bukanlah persoalan adegan atau estetika belaka. Karena penasaran, saya mencari tahu mengenai The Great Basin, dan ternyata wilayah ini terkenal dengan potensi sumber air yang luar biasa serta dinobatkan menjadi daerah dengan langit malam yang paling gelap di Amerika. So clearly it is something intentional. DeVinck mengelola fakta tersebut menjadi sebuah semiotika dan bahasa visual akan pesan mengenai eksistensi masyarakat rural yang termarginalkan itu sendiri. Gelap dan jauh dari sentuhan. Selain itu, pemilihan cara membuka dan menutup film seperti ingin menunjukkan urgensi cerita yang terjadi di masa lalu dan mendatang, melalui apa yang terjadi di masa kini.

the great basin
Courtesy of DialogueTalk © 2021

Seperti halnya langit malam, sepanjang film kita bagai mendengarkan dan membuka konstelasi cerita. Mulai dari cerita seorang peternak, pekerja prostitusi, hingga suku asli Amerika. Dengan menggunakan teknik interview serta pengambilan dialog antar masyarakat, DeVinck jelas tidak berfokus pada satu fokus isu dan mendalaminya secara utuh. Melainkan ia berusaha menangkap serangkaian cerita dari beragam individu untuk menekankan kondisi marginalisasi yang terjadi pada masyarakat secara besar. Mulai dari permasalahan distribusi air yang tidak merata, polemik pembangunan saluran pipa air untuk memompa kebutuhan air Las Vegas yang mengancam krisis ekologis, penjajahan oleh mormon dan propaganda Indian School yang melumpuhkan suku asli Amerika secara struktural dan kultural.

Dokumenter ini memberikan sebuah refleksi dan kritik akan konsep liberalisme dan esensi kebebasan yang dijual oleh Amerika, disaat komunitas rural tidak memiliki kebebasan yang utuh dan menuai kebijakan yang diskriminatif dalam mengatur hak, kebijakan, serta sumber daya alam mereka sendiri. Hal ini dapat dilihat dari rangkaian dialog yang memperlihatkan konflik politik dan ideologi antara pemerintah dan koalisi warga. Namun saking banyaknya yang ingin disampaikan, dokumenter ini seolah kehilangan tujuan konkrit. Beberapa bagian juga terasa dapat ditajamkan lagi, khususnya mengenai permasalahan air sebagai salah satu isu yang menurut saya sangat penting karena akan mempengaruhi kondisi ekologis dan eksistensi masyarakat. Well, mungkin memang itu tujuannya DeVinck. Memaksa kita untuk mendengar tanpa aksi dan solusi bak seorang martir yang sok tahu.

the great basin
Courtesy of DialogueTalk © 2021

Terlepas dari narasi yang ingin dibangun, salah satu aspek paling menarik dalam dokumenter ini (probably what keeps me going) adalah sinematografi dan visual yang memanjakan mata. It’s not just aesthetically pleasing, it speaks. Elemen visual yang disajikan memperkuat visualisasi hubungan antara masyarakat dengan lingkungan, kesenjangan, dan marginalisasi yang dihadapi masyarakat. Cinematographer Yoshio Kitagawa, secara brilian berhasil menangkap estetika panorama pemandangan alam, humanisme, dan kehampaan “The Great Basin” itu sendiri. Beautiful irony, if I must say.

Kitagawa banyak mengambil gambar wide shot dan still, menggabungkan antara panorama dan kehidupan masyarakat. Selain itu, pemilihan shot yang banyak mengambil pergerakan kereta tua yang berjalan, gedung teater tua yang masih beroperasi dan menayangkan Little Women (Yes, the people watch movies), game station yang kuno, motel yang masih dihiasi furniture dan artistik klasik, sampai kehadiran Mcdonalds dan Shell dalam sunyi. Pemandangan ini tentunya sangat jomplang jika kita bandingkan dengan kondisi masyarakat dan infrastruktur di Las Vegas ataupun Los Angeles. Elemen visual adalah representasi dilema, kekhawatiran akan eksistensi, dan ritme kehidupan masyarakat yang lambat dan stagnasi di tengah gempuran modernisasi serta kehidupan serba cepat dan grande.

the great basin
Courtesy of DialogueTalk © 2021

Oh, and one other thing that grabs my attention is the use of radio as a part of the storytelling! Latar suara radio yang digunakan pada setiap transisi cerita, dipadukan dengan pengambilan shot perjalanan dalam mobil seolah kita sedang mengendara, secara efektif menjadi pemberi informasi akan setting waktu dan peristiwa penting seperti virus Corona ataupun eleksi presiden tanpa perlu basa-basi. Felicia Atkinson juga dengan lugas mengelola musik secara eksperimental dan minimalis. Seolah kita sedang berada di sebuah lorong gua yang menggaung. Atkinson banyak bermain dengan konsep ruang dan waktu dimana ia banyak memberi jeda sebagai representasi kehampaan akan eksistensi komunitas rural yang kerap tak terlihat. Namun sayangnya tidak ada pola yang begitu menarik, musik cenderung repetitif dan masih dapat dieksplorasi untuk turut memperkuat narasi.

Selama 92 menit, bisa dikatakan tidak ada satu tujuan konkrit dari perjalanan ataupun cerita individu yang disuguhkan. DeVinck tidak secara khusus memberikan tokoh ataupun konflik sentral serta menawarkan sebuah resolusi. It is what is merupakan kalimat yang tepat. Hal ini juga terlihat pada editing dokumenter yang digarap oleh Matthieu Laclau dan Yam Shan Tsai. Tempo film ini begitu lambat, dan layaknya sebuah perjalanan, kita berpindah dari cerita satu ke cerita lain dengan waktu yang singkat. It’s like we’re passing by in our everyday lives. Mungkin ini adalah bagian dari konsep yang ingin dibawa oleh DeVinck. Seolah-olah kita menjadi seorang pelancong yang singgah dalam waktu yang singkat, tentunya tidak semerta secara utuh memahami apa yang ada, akan tetapi cerita-cerita itu layak untuk didengar sebagai teman perjalanan sebelum singgah ke tempat lain.

the great basin
Courtesy of DialogueTalk © 2021

Sehingga hal ini mengantar kita kepada satu pertanyaan besar. Mampukah mereka bertahan atau akankah “The Great Basin” kelak hanya menjadi sebuah bukti bahwa kehidupan rural disana pernah ada? Well, let the time reveal. Hanya ada satu konklusi pasti bahwa dari setiap elemen yang dirakit dalam film dokumenter ini, “The Great Basin” menyerukan satu seruan besar, yaitu, “Dengarkan.” Yes, the film wants us to listen to the depth of the Basin.

So, if The Great Basin is the one for you? Well, kalau kamu bukan seorang penggemar dokumenter dan alur yang lamban, then I bet in 10 minutes you’ll find yourself drooling. Tetapi jika kamu adalah seorang yang gemar sejarah, penggemar dokumenter, mengikuti perkembangan negeri paman Sam, atau mungkin sedang belajar sinematografi maka “The Great Basin” layak untuk diberi kesempatan.  

The Great Basin (2021)
92 menit
Documentary
Director: Chivas DeVinck
#650 – The Great Basin (2021) was last modified: Desember 15th, 2022 by Geani Istira