Ketika menyaksikan sebuah film independent, saya terkadang tidak mau untuk memberikan ekspektasi yang amat tinggi. Dalam artian yang lebih eksplisit, misalnya berharap visual efek yang sebanding dengan universe yang konon kini semakin dikembangkan oleh para studio besar. Akan tetapi, yang saya nantikan adalah kekuatan dari cerita yang dihadirkan. Tontonan saya kali ini, berjudul “Mass” merupakan salah satu film jebolan Sundance Film Festival di awal tahun ini, yang ternyata berhasil mencuri perhatian saya.

Kata “Mass” sendiri di dalam Bahasa Indonesia memiliki beberapa arti. Ini dapat diartikan sebagai perayaan misa yang biasanya dilakukan oleh umat Katolik; atau kumpulan orang banyak yang kadang kita artikan lewat sebutan ‘massa.’ Pada konteks film ini akan cenderung pada makna yang kedua, ketika orang dalam jumlah banyak (lebih dari satu), tepatnya 4 manusia yang dikumpulkan di suatu ruangan untuk melakukan sebuah perbincangan hangat.

mass
Courtesy of 7 Eccles Street, Circa 1888, 5B Productions, Bleecker Street © 2021

Keempat manusia ini merupakan kedua pasang suami istri. Pasangan yang pertama adalah Jay dan Gail Perry, diperankan oleh Jason Isaacs dan Martha Plimpton, yang diawal bagian film ini memperlihatkan bagaimana keraguan mereka untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Pasangan yang kedua adalah Richard dan Linda, yang diperankan oleh Reed Birney dan Ann Dowd, yang menghadiri kunjungan tersebut lewat sikap yang lebih terbuka.

Pada bagian awal film ini, penonton tidak akan langsung berhadapan dengan keempat pemain utama. 20 menit pertama kita akan melihat bagaimana persiapan ruangan ini yang disiapkan oleh petugas Gereja bernama Judy, yang diperankan oleh Breeda Wool, yang berupaya menjaga keramahtamahan-nya dan memastikan fasilitas yang mereka sediakan telah memadai.

mass
Courtesy of 7 Eccles Street, Circa 1888, 5B Productions, Bleecker Street © 2021

Jika Anda sebelumnya sudah menyaksikan trailer film “Mass” seperti saya, kita akan sama-sama mengetahui bahwa yang dibahas oleh keempat manusia ini adalah tentang sebuah tragedi yang memberi luka untuk semuanya. Namanya peristiwa, pasti ada yang jadi pelaku dan ada yang jadi korban. Dalam diskusi yang sangat emosional ini, penonton harus siap dengan segala kejutan dari setiap karakternya.

Jangan menyaksikan film ini jika Anda tidak terbiasa dengan film-film drama yang menonjolkan dialog ketimbang visualisasi. Apa yang Anda saksikan sepanjang hampir 115 menit akan mayoritas diisi dengan latar yang sama dan serta dinamika percakapan keempatnya yang luar biasa. Minimalis memang, namun faktor keunggulan “Mass” adalah konsep cerita dan penyampaian emosi yang amat kuat. Saya cukup merinding seusai menyaksikan film ini.

mass
Courtesy of 7 Eccles Street, Circa 1888, 5B Productions, Bleecker Street © 2021

Film ini ditulis dan disutradarai oleh Fran Kranz, yang memulai kariernya terlebih dahulu sebagai seorang aktor. Sebagai directorial debutnya, Kranz membangun cerita melalui detil-detil yang akan menyadarkan penonton sebagai bagian yang membuat seru ceritanya. Misalnya, saya amat menyukai bagaimana upaya yang dilakukan setiap pasangan untuk mau saling ‘melengkapi’ satu sama lain dari argumen mereka, termasuk ketika mereka berbohong.

Gerak-gerik tubuh yang terlihat juga menambah keseruan yang membuat penonton seperti saya untuk memvalidasi apakah itu memang benar atau dibuat-buat. Yang lebih menariknya lagi, seluruh karakter dalam film ini terasa amat berupaya menjadi ramah, terlihat dari bagaimana dialog serta ekspresi mereka yang mungkin seperti pasangan Perry yang lebih eksplisit.

mass
Courtesy of 7 Eccles Street, Circa 1888, 5B Productions, Bleecker Street © 2021

This is it! Saat momen di menit 34, ketika Gail berkata: “Why do I wanna know your son, because he killed mine” itu bagaikan sengatan listrik di siang hari. Perhatian-perhatian, “Mass” memang akan semenegangkan itu. Upaya setiap pemain dalam menghidupkan dialog terasa cukup diberi ruang yang seimbang. Masing-masing dari mereka bisa memberikan sentilan yang membuat kita tercengang dan beremosional. Masih terlalu dini, namun “Mass” is the Best Ensemble Cast from the 2021!

Permainan emosi dalam film ini akan cukup campur aduk. Tidak hanya sebatas upaya suami-istri yang saling menutupi dan menguatkan, tetapi juga ketika masing-masing dari mereka yang berupaya menjaga nama baik anak mereka masing-masing. Yang korban terlihat seperti melakukan interogasi, namun yang pelaku tetap berupaya bahwa kami juga korban. Memang sih, kalau tidak ada pemutusan rantai, masalah yang dibahas keempatnya bisa akan berlanjut sampai ke generasi-generasi berikutnya.

mass
Courtesy of 7 Eccles Street, Circa 1888, 5B Productions, Bleecker Street © 2021

Ngomongin karakterisasinya, saya suka paduan watak yang dihadirkan. Gail hadir dengan sosok yang kuat dan keras, dipadukan dengan Jay yang lebih sabar; serta Linda yang lebih terbuka, dipadukan dengan Richard yang cerdas namun gengsian. Selain Best Ensemble Case, walau masih terbilang amat dini, Saya akan mendukung keempatnya untuk dapat mencuri slot di masing-masing acting category: Jason Isaacs sebagai Best Actor in Leading Role, Martha Plimpton sebagai Best Actress in Leading Role, jebolan “Hereditary” Ann Dowd sebagai Best Actress in Supporting Role dan Reed Birney sebagai Best Actor in Supporting Role. Oh ya, Fran Kranz juga patut diunggulkan sebagai Best Original Screenplay dan Best Directorial Debut.

Secara penyajian, “Mass” amat memukau. So powerful! Konsep yang kuat, dialog yang tajam nan mencekik jiwa, serta penampilan yang tak akan pernah saya lupakan. Film ini memperlihatkan saya bagaimana besar kasih orangtua pada anak mereka masing-masing, terlepas sebaik-buruknya mereka. Dan tragisnya, it hurts for all of them. Akhir kata, ini semakin menguatkan saya bahwa masalah kehilangan juga amat menimpa para dewasa, apalagi jika itu diliputi dengan tragedi. After all, it’s hard to tell, hard to believe, and hard to watch. One of the best drama from 2021!

 

Mass (2021)
PG-13, 115 menit
Drama
Director: Fran Kranz
Writer: Fran Kranz
Full Cast: Jason Isaacs, Martha Plimpton, Ann Dowd, Reed Birney, Breeda Wool, Kagen Albright, Michelle N. Carter, Michael White, Campbell Spoor

#599 – Mass (2021) was last modified: Desember 12th, 2021 by Bavner Donaldo