Buat generasi yang terlahir setelah 90-an seperti saya, mungkin akan terasa asing ketika mendengar “Losmen Bu Broto.” Mungkin, yang lebih senior dari saya sudah cukup familiar dengan salah satu serial televisi TVRI yang kala itu being the one and only. Dalam versi layar peraknya, Ideosource Entertainment selangkah membawa sajian klasik ini ke dalam tampilan versi modern.

Melihat situasinya, Losmen Bu Broto terletak di Yogyakarta, dimana Ibu Deborah Broto, diperankan oleh Maudy Koesnadi, menjadi tuan rumah dari para wisatawan yang melancong. Ia dibantu kedua putrinya. Yang sulung, Pur, diperankan oleh Putri Marino, bertanggung jawab untuk urusan dapur. Putri yang lebih muda, Sri, diperankan oleh Maudy Ayunda, lebih terfokus dalam mengatur urusan non-dapur. Oh ya, Bu Broto juga masih ditemani Pak Broto, diperankan oleh Mathias Muchus, serta anak bungsu mereka, Tarjo, yang diperankan oleh Baskara Hendra.

losmen bu broto
Courtesy of Ideosource Entertainment, Paragon Pictures, Fourcolours Films, Ideoworks © 2021

Apa yang dihadirkan di awal, penonton akan melihat sebuah gambaran kehebohan losmen yang diwarnai dengan karakter-karakter pendukung yang merupakan tamu losmen. Akan lebih dari pada itu, sosok Jarot, yang diperankan oleh Marthino Lio, menjadi “pembawa bencana.” Sri terpikat pada seniman muda itu, hingga akhirnya Ia harus mengandung dan memberikan tamparan keras bagi Bu Broto.

Secara penyajian, film yang disutradarai Ifa Isfansyah dan Eddie Cahyono ini menawarkan rasa yang sederhana dengan estetika yang menjulang. Ornamen-ornamen Jawa yang kental nan modern akan tampil menghiasi shot demi shot dengan kesan yang cerah. Opening credit film ini juga terasa khas, dan cukup kreatif, dimana memainkan beragam perabot dan alat sebagai media penampil yang diselingi dengan aktivitas perkenalan dari para karakternya.

losmen bu broto
Courtesy of Ideosource Entertainment, Paragon Pictures, Fourcolours Films, Ideoworks © 2021

Sejujurnya, saya belum pernah menyaksikan serial “Losmen Bu Broto,” sehingga mungkin kesan nostalgia tidak terlalu akan mempengaruhi saya. Akan tetapi, yang paling saya nikmati adalah pengembangan karakter yang terasa cukup berbobot, melalui pengemasan karakter-karakter berwatak keras seperti Bu Broto yang kian lama memegang peranan cerita, sampai Sri yang sepertinya jadi pusat cerita di film ini.

Pada tontonan yang berdurasi 113 menit ini, bagian terfavorit saya adalah bagaimana Bu Broto memegang peranan klimaks untuk membuat kejutan yang menggegerkan mereka sekeluarga. Momen tersebut membuat saya berpikir dalam hati, “This is it.” Simbol peran wanita Jawa yang kuat dan berprinsip dari sosok Bu Broto adalah semangat yang hadir. Oh ya, saya amat kagum dengan penampilan Maudy Koenadi, aktris senior yang saya ikuti sejak masih kanak-kanak menyaksikan sinetron “Si Doel Anak Sekolahan.”

Menjadi Bu Broto, Maudy benar-benar menghadirkan bagaimana permainan ekspresi yang cukup rumit, ketika karakternya yang selalu diperhadapkan dengan situasi kontras. Ketegasan Bu Broto juga menjadi poin penting di film ini, yang sebetulnya juga memperlihatkan sisi lain hati Ibu Broto yang mungkin tak mudah diperlihatkannya. Ia terlihat kuat namun sebetulnya rapuh akan segala kekuatiran.

losmen bu broto
Courtesy of Ideosource Entertainment, Paragon Pictures, Fourcolours Films, Ideoworks © 2021

Dari penyajian, saya amat menikmati bagaimana tata busana tradisional yang amat cantik di film ini. Pakaian-pakaian tradisional yang dikenakan para pemain utama, sebagai bagian menjaga adat di Losmen menjadi pemandangan yang menarik. Ini belum ditambah penyajian keroncong modern ataupun keindahan makanan-makanan Indonesia yang berhasil dihadirkan dengan apik dan sangat menggoda.

Kalau bicara musik, original soundtrack film ini bagus semua. Mulai dari main soundtrack berjudul “Pulang” dari Maudy Ayunda, ataupun lagu-lagu lain seperti “Semakin Jauh” dan “Sayangnya” yang dinyanyikan Maudy Ayunda dan Danilla.

losmen bu broto
Courtesy of Ideosource Entertainment, Paragon Pictures, Fourcolours Films, Ideoworks © 2021

Sayangnya, usaha film ini untuk mencampuradukkan emosi penonton kurang begitu mengena pada saya. Usaha para pemainnya untuk menghadirkan situasi luka para karakternya sudah amat menonjol, tetapi entah kenapa, ada sedikit yang kurang membuat pol dari rangkaian adegan tangis menangis di film ini.

Secara keseluruhan, saya tidak melihat cerita Sri, Pur ataupun Bu Broto sebagai isi dari film ini. Saya melihat apa yang disajikan film ini tidak lebih berkisah mengenai Losmen ini, ya bangunan ini. Losmen Bu Broto merupakan sebuah kotak kenangan, yang menjadi saksi bisu, yang menghipnotis saya seakan tak peduli dengan plot cerita akan berlanjut seperti apa. Keberadaan Losmen ini menciptakan karakter para wanita-wanita kuat berprinsip yang akan menginspirasi penontonnya. Tanpa Losmen, mungkin Bu Broto tidak akan keras hati pada Sri. Sebuah tontonan yang begitu hidup dan indah. What a lovely!

 

Losmen Bu Broto (2021)
PG-13, 109 menit
Drama
Director: Eddie Cahyono, Ifa Isfansyah
Writer: Kamila Andini, Pandu Birantoro, Andi Boediman, Eddie Cahyono, Ifa Isfansyah, Robert Ronny, Alim Sudio
Full Cast: Maudy Koesnadi, Mathias Muchus, Putri Marino, Maudy Ayunda, Baskara Mahendra, Danilla Riyadi, Marthino Lio, Kenes Andari, Erick Estrada, Teuku Rizky Muhammad, Muhammad Marzuki, Mbok Tun, Kinanti Sekar, Resti Praditaningtyas, Thomi Baraqbah, Landung Simatupang, Darius Sinathrya, Karina Suwandhi

#593 – Losmen Bu Broto (2021) was last modified: November 29th, 2021 by Bavner Donaldo