Tentu cukup mengejutkan, ketika sineas-sineas muda asal Indonesia berani mengusung “Bumilangit Universe.” Awalnya, pertama kali mendengar istilah tersebut seraya memberi banyak kesan serupa dengan apa yang sudah dihadirkan Marvel dalam satu dekade lebih ini lewat MCU-nya. Meniru? Mungkin saja. Dengan embel-embel pahlawan dari Nusantara, penonton akan diperkenalkan dengan jagoan pertama seri ini. Dia adalah si putra petir, Gundala.

Latar belakang Gundala cukup banyak dijelaskan di awal film. Ia merupakan anak seorang buruh pabrik, yang spesialnya telah terbiasa untuk melihat perlawanan. Sang ayah, yang diperankan oleh Rio Dewanto, telah kerap kali berusaha menentang ketidakadilan yang dilakukan pemilik pabrik. Sedangkan Ibunya, Kurniati Dewi, yang diperankan oleh Marissa Anita, cukup terbilang lumayan mendukung aksi heroik sang suami. Alhasil, Sancaka kecil, yang diperankan Muzakki Ramdhan, harus menikmati banyak kepahitan hidup sedari dini.

Courtesy of Bumilangit Studios, Legacy Pictures, Screenplay Films © 2019

Singkat cerita, Sancaka dewasa, yang kemudian diperankan oleh Abimana Aryasatya, telah menjadi seorang pekerja pabrik biasa. Ia sudah independen, memiliki tempat tinggal di sebuah rusun, berkat perjalanan panjang hidup seorang diri. Sancaka besar dengan 2 nilai kehidupan dari kehidupan pahitnya: tidak merepotkan orang lain dan tidak mengurus urusan orang lain. Nilai tersebut begitu tersemat sehingga cukup menghiraukan banyak kejahatan di depan matanya. Hingga suatu hari, ketika petir memilihnya.

Saya tidak mau bercerita panjang lebar tentang “Gundala,” sebab saya ingin anda untuk menikmati jalan ceritanya di bioskop. Sebagai salah satu sutradara kebanggan Indonesia saat ini, Joko Anwar, terbilang lumayan untuk mengadaptasi cerita yang ditulis oleh Hasmi, dan kemudian menyutradarainya. Dari sisi cerita, apa yang ditawarkan “Gundala” terbilang cukup banyak memberi informasi-informasi yang akan berlanjut di seri berikutnya. Kalau bicara naskah dan dialog, saya cukup menyukai dialog-dialog lugas dan juga quoteable dari film ini. Salah satunya, “Karena setiap saat layak untuk dipertahankan. Yang tidak bertahan lama adalah perdamaian.”

Courtesy of Bumilangit Studios, Legacy Pictures, Screenplay Films © 2019

Dari sisi alur, Anwar menggunakan gaya cerita beralur maju, yang tidak akan bosan memperlihatkan penonton dengan banyak kekerasan. Aksi kebakaran, perkelahian, sampai kejar-kejaran yang dihadirkan melibatkan cukup banyak pemain tambahan, dan memberi kesan koordinasi yang cukup apik. Dari sisi sinematografi, saya sangat menikmati bagaimana Ical Tanjung memanfaatkan segala jenis shot demi mempertegas dan mempertajam adegan. Salah satu yang berkesan terutama bagaimana aksi kejar-kejaran dikombinasikan dengan shot-shot miring, ataupun selingan penggunaan bird’s eye view shot saat perkelahian Gundala di pabrik. Pengambilan sudut-sudut dalam set cukup maksimal. Saya cukup mengapresiasi kepiawaian Dinda Amanda, editor film ini, yang terbilang rapi menyatukan beragam adegan, terutama pada bagian aksi berkelahi. Film ini juga terasa cukup ambisius, terlihat dari bagaimana set-set yang dibuat, seperti pabrik koran dan logonya, gudang beras, sampai penggunaan stasiun kereta. Baiknya, cara berpromosi film ini tidak se-annoying film Indonesia biasanya. Penggunaan embel logo stasiun televisi menggunakan nama yang sebenarnya, dan tidak diplesetkan seperti yang sering kita saksikan.

Courtesy of Bumilangit Studios, Legacy Pictures, Screenplay Films © 2019

Minusnya, “Gundala” terasa lebih bersinar dari karakter-karakter pendukungnya.  Banyaknya karakter akan membawa penonton ke dalam banyak pertanyaan yang belum dapat diungkap film ini. Begitujuga dengan beberapa adegan yang terasa dikemas begitu cepat dan tidak jelas. Ini terlihat jelas saat karakter Gundala yang melakukan pertarungan dengan anak-anak Pengkor di dalam pabrik. Saya cukup menikmati aksi laga yang dihadirkan, namun secara rentetan adegannya seakan dipaksa untuk menghadirkan segala tarung dari setiap anak-anak Pengkor. Jadi, ketika Gundala sedang melakukan pertarungan dengan salah satu anak Pengkor, tidak diperlihatkan sampai selesai, dan kemudian scene tiba-tiba memperlihatkan Gundala bertarung dengan yang lain. Bagian ini memberikan banyak pertanyaan, sebetulnya bagaimana Gundala bisa menyelesaikan aksinya dan lalu berlanjut dengan anak Pengkor berikutnya.

Courtesy of Bumilangit Studios, Legacy Pictures, Screenplay Films © 2019

Yang juga membuat berkesan dari film ini adalah sentilan film ini tentang wakil rakyat di DPR. Para anggota dewan digambarkan sebagai para politikus yang akan berusaha dengan segala cara untuk merebut kursi mereka di parlemen. Walaupun tidak semuanya, sebagian dari mereka mulai melupakan kepentingan aspirasi berkat kendali mafia, penguasa, ataupun korupsi. Dengan embel amoral, film ini akan cukup menjernikan penonton bagaimana kata ini mampu untuk memutihkan para wakil rakyat dari berbagai kendali demi memikirkan nasib generasi mendatang.

Courtesy of Bumilangit Studios, Legacy Pictures, Screenplay Films © 2019

“Gundala” merupakan tontonan superhero yang cukup menghibur, membawa penonton untuk terbuai dengan aksi-aksi yang membuat kita deg-degan. Film pertama ini cukup memberi banyak rasa penasaran dengan kelanjutan ceritanya yang mungkin akan membahas Sri Asih, female superhero yang diperankan oleh Pevita Pearce. Overall? it’s still a nice try. Saya akan menutup salah satu kutipan favorit saya di film ini: “Kalau kita tidak melawan ketidakadilan, maka kita tidak ada kemanusiaan.”

#489 – Gundala (2019) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here