Beberapa waktu lalu saya sempat menulis tentang “Transamerica,” kisah tentang seorang transgender yang bertemu dengan anak hasil ‘kecelakaan’-nya dengan kekasih saat SMA. Ternyata, Indonesia juga sempat punya film yang bertema serupa. Judulnya “Lovely Man,” sebuah film yang berkisah tentang kenekatan seorang perempuan untuk pergi ke Jakarta demi bertemu sang ayah.

Ia bernama Cahaya, perempuan berjilbab yang diperankan oleh Raihaanun Soeriaatmadja. Ia dibesarkan oleh Ibunya dan merupakan lulusan dari sebuah pesantren. Dengan hanya bermodal sebuah tas dan kenekatan, Ia menaiki kereta menuju Jakarta. Dalam ingatannya masih terngiang akan kenangan bermain hujan-hujanan bersama sang Ayah. Setiba di ibukota, Ia berkeliling dan mencari ‘Rumah Susun Sejahtera.’ Berbekal alamat yang dicatat di sebuah potongan kertas, Ia akhirnya menemukan lokasi tersebut.

Courtesy of Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia © 2012

Waktu sudah mulai malam, Cahaya mengetuk pintu tempat tinggal ayahnya, dan Ia tidak mendapatkan balasan. Yang ada, seorang Ibu yang merupakan penghuni seberang yang malah menanyakan dirinya. Ia memberikan informasi kalau sang ayah sudah berangkat kerja dan belum tentu pulang. Cahaya kemudian mengikuti arahan dari Ibu tersebut untuk mencari sebuah jembatan yang tidak terlalu jauh dari sana. Sesampai disana, Ia mencari sebuah kantor, toko ataupun warung, sebuah objek yang menurutnya sebagai tempat kerja. Ia kemudian bertanya kepada salah seorang waria yang sedang berkerumun disana. Tak lama kemudian, Ia menyadari sebuah fakta yang tidak pernah diketahuinya dari seseorang yang selalu mengiriminya uang untuk hidup setiap bulan.

Pada bagian awal, saya cukup sedikit terganggu dengan adegan muntah Cahaya yang diperlihatkan Teddy Soeriaatmadja dengan cukup realis. Dengan set di toilet kereta, serta menampilkan wastafel kotor dengan muntahan, ini cukup mengganggu snack yang menjadi pelengkap kegiatan menonton saya. Tanpa punya kecurigaan sedikitpun dengan karakter yang terkesan religius ini, saya sudah terlena untuk menggali karakter Ipul yang diperankan oleh Donny Damara.

Courtesy of Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia © 2012

Cerita yang dikemas dan disutradarai langsung oleh Soeriaatmadja ini tidak mengisahkan sebuah tontonan yang menyajikan lanskap menarik seperti film Indonesia lainnya. Sebaliknya, penonton akan menyaksikan tampilan Kota Jakarta dari sisi yang lain: kemacetan, kemiskinan, dan prostitusi. Dengan berbekal dua karakter saja sebagai sosok utamanya, film ini ternyata berhasil standout, walaupun dengan tempo cerita yang cukup pelan.

Film ini berdurasi hanya 76 menit, dan Soeriaatmadja berhasil menampilkan dinamika dari dua karakter yang sebetulnya sama-sama bermasalah dengan hidup mereka. Yang satu mencoba menikmati profesinya sebagai pemuas lelaki dan hidup terancam dikejar-kejar preman karena 30 juta Rupiah. Satunya lagi dari luar terlihat menjaga hidupnya dengan baik dan polos, tetapi terjebak dan ‘kebablasan,’ dan mencari jawaban untuk janin yang ada di dalam rahimnya. Komposisi keduanya baiknya bisa digabungkan dan terasa cukup saling melengkapi.

Courtesy of Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia © 2012

Saya cukup menyukai bagaimana cara Damara berusaha hidup sebagai Ipul. Walaupun Damara punya lengan yang cukup besar, Ia masih memberikan respek pada karakternya. Ini terlihat jelas dari bagaimana sebisa mungkin menampilkan Ipul dengan khas, dari cara Ia menggoda, nada berbicaranya yang khas, ataupun dengan penampilannya sebagai penghibur. Di sisi lain, Damara bisa kembali menampilkan ke’laki-laki’annya dari bagaimana kesan perhatian yang lambat laun terlihat, sebelum akhirnya tampil sebagai Bapak di akhir film.

Posisi orangtua dan anak di film ini terasa sangat kontras. Ipul akan sangat tidak senang jika Cahaya bersikap seakan menasihati. Ia akan berceloteh ataupun menyemburkan asap rokok dari mulutnya ke hadapan Cahaya. Ipul pun banyak memberikan banyak nasihat. Salah satunya, ‘Semakin deket kenal orang, semakin cepet lo sakit hati. Udahlah, kenal orang secukupnya aja.’  Jika diperhatikan, ucapannya ini sebetulnya cukup sejalan dengan suasana hatinya saat itu. Ia seperti tidak mau diinterogasi oleh putri yang tidak pernah dilihatnya lebih dari satu dekade.

Courtesy of Karuna Pictures, Investasi Film Indonesia © 2012

Kadang, saya merasa Ipul sama seperti banyak orang tua di sekitar kita. Mereka kadang berusaha untuk memberikan banyak nasihat untuk anak-anak mereka demi bisa menjalani kehidupan yang baik. Tetapi sayangnya, nasihat tersebut cuma terasa mudah mengalir dari mulut dan sulit dipraktikkan. Seperti kata Ipul kepada Cahaya disini, ‘Intinya adalah kamu jangan pernah kabur dari masalah … penyesalan itu pasti dateng terakhir.’ Dalam hati saya, ‘ngaca boss…’

Salah satu momen yang menarik di film ini adalah saat Soeriaatmadja bisa menghidupkan emosi dari kisah dan juga musik pendukung yang tepat. Momen favorit saya adalah ketika ‘Clair de lune’ milik Debussy keluar di penghujung film, dan terasa lengkap sambil menikmati nasihat terakhir dari Ipul yang menyiratkan akan kemana cerita ini akan berakhir. “Apapun yang Cahaya lakukan dalam hidup bukan masalah benar atau salah. Tapi itulah jalan hidup. Cahaya inget waktu kecil senang dan sering sekali main hujan bersama Bapak. Kurang lebih hidup seperti itu, bukan kita harus harus lari dan berteduh dari hujan, tetapi kita menikmati hujan ini. Kamu ingat itu.” Ipul memang bukan seorang contoh ataupun panutan yang baik, tetapi itu adalah jalan yang dipilihnya. “Lovely Man” terasa begitu pas!

#401 – Lovely Man (2012) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here