Dulu saat masih kuliah sastra inggris, di semester awal, dosen kami pernah bertanya, “Kenapa masuk jurusan sastra inggris?” Jawaban dari teman-teman yang masih kinyis-kinyis kala itu sangat beragam, ada yang ingin cepat naik gaji, ada yang ingin jadi pramugari, ada pula yang ingin masuk TV. Tapi saat itu saya ingat betul, salah satu teman menjawab dengan mantap, “Saya ingin menikah dengan bule.” Sontak tawa pun menggema di kelas.

Sama seperti teman saya di atas, “Kenapa Harus Bule juga” menceritakan kisah seorang wanita lajang bernama Pipin. Diperankan oleh Putri Ayudya, Pipin yang berusia 29 tahun digambarkan sebagai cewek ngebet nikah karena takut jadi perawan tua. Walaupun Pipin ‘dikejar deadline’, Pipin tidak sembarangan pilih calon suami. Pokoknya, Pipin harus menikah dengan bule. Alasannya? Banyak. Pipin merasa bahwa pria-pria bule jauh lebih romantis di banding pria lokal. Selain itu, bule juga dianggap lebih sopan, dan tidak kasar. Terlebih, Pipin dengan yakin seorang bule akan menerima dirinya yang berkulit sawo matang apa adanya. Pipin sadar betul, dengan kulitnya yang berwana coklat, ia jauh dari kata cantik. Alih-alih disayang, Pipin percaya dirinya hanya akan dianggap pembantu oleh pria lokal. Di benak Pipin, pendapat pria-pria lokal tentang cewek berkulit gelap akan jauh dari kata eksotis yang sering diumbar pria-pria kaukasian.

kenapa harus bule
Courtesy of Good Sheep Productions, Kalyana Shira Films © 2018

Oleh karena itu, Pipin pun dengan gigih berusaha mencari pacar melalui aplikasi-aplikasi online dating, hunting ke klub malam, hingga me-record teman-teman bule-nya dalam satu folder. Tak tanggung-tanggung, Pipin bahkan nekat pindah ke Bali, meninggalkan ibunya, pekerjaan dan teman-temannya demi bisa bersanding dengan bule. Masalah kemudian muncul ketika sahabat kecil Pipin, yakni Buyung (Natalius Chendana), pulang dari luar Australia dan akhirnya menetap di Bali.  Di saat yang bersamaan, Pipin juga sedang PDKT dengan seorang bule Italia bernama Gianfranco (Cornelius Sunny).

Diproduseri oleh Nia Dinata, penonton pasti tahu betul kalau filmmaker wanita kenamaan ini punya concern mengangkat tema sosial di Indonesia. Melalui “Arisan!,” Nia mengangkat tema LGBT dan gaya hidup sosialita; sedang dari “Berbagi Suami” isu poligami jelas diangkat total. Walapun tidak terjun langsung sebagai sutradara, lewat film “Kenapa Harus Bule,” Nia bersama Andri Cung, sang sutradara, nampak ingin bicara soal realitas masyarakat yang masih mendewakan bule. Tak bisa dipungkiri, melihat tingkah ‘norak’ Pipin yang secara irasional membanggakan bule, penonton jadi mengelus dada. Tapi, penonton tidak bisa protes, lantaran selama 89 menit diajak melihat realita dan berpikir. Siapa yang bisa mengelak saat Arik yang diperankan Michael Kho, nyinyir, menegur Pipin, “Ini soal white supremacy, merasa martabatnya naik kalau gaul atau digauli sama bule!” Diam-diam saya membatin, “Iya juga, ya.”

388 picture3
Courtesy of Good Sheep Productions, Kalyana Shira Films © 2018

Sayangnya ide cerita karya Andri Cung yang briliant terasa kurang menggigit karena tidak didukung maksimal oleh pemeran utamanya. Walaupun mengusung tema yang sama (manipulasi cinta) dan rilis di waktu yang hampir berdekatan, penokohan Pipin yang serba tanggung gagal membuat penonton bersimpati seperti penonton mengasiani Richard di film “Love For Sale”. Sebagai contoh, dengan make-up tebal, eye shadow biru terang, bulu mata palsu berkualitas rendah dan legging loreng-loreng, Pipin kekeuh menolak disamakan dengan ‘anak ayam.’

Rasanya sulit membayangkan Pipin sebagai wanita karir Jakarta dengan bedak tebal yang warnanya tak sama pada wajah dan leher. Andaikan, Pipin digambarkan sebagai wanita ndeso yang udik, norak, dan ‘kampungan’ yang tanpa babibu kesengsem buta dengan bule, penonton mungkin akan bisa merasa lebih supportive. Sayang, logat betawi Pipin yang kental serta merta menggagalkan pembenaran di atas. Pipin bahkan bercakap-cakap dengan Ibu-nya menggunakan sapaan gue elu. Jadi siapa sebenarnya Pipin? Belum usai rasa gemas mendera, penonton lagi- lagi disuguhi adegan Pipin dipelonco bule, bersih-bersih rumah, menggosok bak mandi tapi masih tetap mengenakan high heels pink terang menyala. Segitunya, Pin?

Uniknya lagi, ujug-ujug tanpa ada penjelasan, make-up tebal kebangsaan Pipin itu luntur seusai putus dengan bule pilihannya. Apa iya teman dekatnya tidak penasaran? Harusnya jika terbiasa melihat Pipin ber-make-up maksimal, melihat Pipin dengan teguh hati mendadak ganti haluan tampil polosan hampir di seperempat terakhir film, paling tidak bolehlah kenekatan Pipin dipuji.

388 picture2
Courtesy of Good Sheep Productions, Kalyana Shira Films © 2018

Di sisi lain ada karakter Arik yang ditampilkan dengan sangat total oleh Michael Kho. Dialog-dialog cerdas, celetukan-celetukan nakal dan kritis selalu muncul setiap kali Michael Kho membuka mulut. mulai dari mempelesetkan applikasi Tinder dengan kata minder, mengkritik Pipin yang menyamakan manusia dengan tas palsu KW super hingga saat ia dengan semangat berapi-api meluruskan pemahaman yang keliru tentang feminisme. “Jangan minta-minta setara aja. Lo mau disuruh kerja, nganter-jemput ke mana-mana?”. Kemampuan Michael Kho bertransformasi menjadi Arik yang alami: nakal tapi tidak berlebihan, nyinyir krtitis tapi juga cerdas, harus diakui membuatnya bersinar hingga menutupi porsi Putri Ayudya yang didapuk sebagai pemeran utama. Dari cara Arik menjadi corong suara rakyat dan kebenaran, penonton diperdaya seolah-olah Arik memang benar nyata ada. Di luar itu, penampilan aktor lainnya tidak begitu berkesan selain kemunculan aktor Cornelio Sunny yang paling tidak, sebagai bad guy, sukses membuat penonton geleng-geleng walau tidak sampai gondok dan menyumpah dalam hati.

Berbeda dengan film “Sekala Niskala” yang gambarnya memang khusus dibuat untuk ditonton di layar lebar, saat menonton “Kenapa Harus Bule” penonton agaknya harus siap menerima cinematography ala film televisi. Bisa jadi, karena film ini merupakan film original pertama karya VIU; ke depannya film “Kenapa Harus Bule” diperuntukkan bagi penikmat film-film streaming yang biasa nonton melalui layar 15-inch telepon genggam. Jika benar, maka bisa dipahami mengapa pengambilan gambar dan nuansa yang disodorkan terasa kurang ‘niat’ untuk layar lebar biokskop sekalipun setting yang dipilih adalah Bali. Tak ketinggalan, jika saja di beberapa momen tertentu, diselipkan lagu tema yang khas, atau paling tidak yang bisa membuat penonton makin tergugah seperti “Love For Sale” yang konsisten membubuhkan lagu ‘Hidupku Sunyi’-nya The Mercys, beberapa adegan tidak akan terasa kering. Akhir kata, “Kenapa Harus Bule” tetap bisa dijadikan opsi untuk penonton yang bosan dengan kisah cinta ala-ala remaja, dan mencari film drama yang lebih dewasa.

Kenapa Harus Bule (2018)
R, 89 menit
Drama
Director: Andri Cung
Writer: Andri Cung
Full Cast: Putri Ayudya, Paul Agusta, Djenar Maesa Ayu, Natalius Chendana, Chicco Kurniawan, Kho Michael, Cornelio Sunny

#388 – Kenapa Harus Bule (2018) was last modified: Juli 11th, 2021 by Putri Kinasih