Apa ada orang yang tidak pernah merasa sepi? Agaknya issue tentang rasa kesepian selalu menjadi topik yang bisa di-relate dengan kehidupan siapa pun, mulai dari karyawan, bos perusahan, anak kuliahan, semua bisa merasa sepi. Di pertengahan Maret ini, Visinema Pictures dengan apik membingkai dinginnya rasa sepi melalui film terbarunya, “Love For Sale.” Film berdurasi 104 menit ini bercerita tentang Richard, bujang lapuk yang terlanjur nyaman dengan rutinitasnya yang datar nyaris tanpa tantangan. Hingga suatu hari, teman-teman Richard sepakat taruhan kalau Ia harus membawa teman kencan ke sebuah pernikahan. Dari situlah, Richard lantas terusik untuk mempertahankan harga diri yang terlanjur ia pertaruhkan.

Salah satu hal positif yang jelas terasa nyata dari film garapan Andibachtiar Yusuf, yang juga turut menulis skenario bersama M. Irfan Ramli, adalah bahwa film ini terasa sangat relevan, dan dekat dengan penonton millennial usia kerja. Seperti Richard, penonton diajak melongok kehidupan para pekerja di kota besar yang cenderung memiliki gaya hidup “no-life”, lantaran seluruh energi habis dengan pekerjaan. Ditengah-tengah deadline yang tak pernah sepi, urusan asmara jelas lebih baik dipilih yang tak-beresiko, cepat, tanpa usaha. Maka, sudah jelas, aplikasi Love.inc jawabannya!

love for sale
Courtesy of 13 Entertainment, Stay Connected Media, Visinema Pictures © 2018

Uniknya lagi, meskipun ide ‘taruhan’ dan ‘pacar sewaan’ bukan menu baru di dunia perfilman, ide cerita tetap terasa real dengan dihadirkannya ide aplikasi rental pacar, Love.Inc. Muda-mudi yang kerap iseng-iseng menginstall aplikasi serupa Tinder, atau OKCupid jelas tak asing dengan scene Richard sibuk swipe kanan-kiri, memilah-milah wanita idaman. Celetukan-celetukan tentang korupsi E-KTP dan kritik terhadap acara TV pagi yang menayangkan ribut-ribut rumah tangga terasa sejalan dengan maraknya isu ‘acara alay’ yang baru-baru ini heboh.

Alhasil, dunia Richard terasa bukan di awang-awang. Berbeda dengan film-film romantis pada umumnya yang mendewakan cinta pada pandangan pertama, hubungan Richard dan Arini dibangun dengan sangat baik dan perlahan. Richard yang tidak tiba-tiba naksir Arini saat kali pertama bersalaman, sangat jelas mengisyaratkan bahwa sebuah hubungan sejatinya adalah proses.

387 picture7
Courtesy of 13 Entertainment, Stay Connected Media, Visinema Pictures © 2018

Selain plot yang dibangun dengan sangat detail dan teliti, “Love for Sale” juga didukung oleh penampilan prima para pemeran utamanya, Gading Marten dan Della Dartyan. Sukses muncul perdana di dunia perfilman sebagai Richard, yang sangat jauh dari kesan tampan dan atraktif jelas membuat Gading patut diacungi jempol. Gading sekonyong-konyong hadir dengan fitur ‘ngenes’: pria 41 tahun berperut buncit dengan selera fashion jelek bukan main. Dibalut kaos belel, singlet bolong-bolong, rambut klimis belah pinggir, Gading berhasil menjelma menjadi sosok ketus, judes, jauh dari karakternya saat mejadi host yang ceria dan pecicilan.

Di sisi lain, Della Dartyan pun tak kalah apik memerankan Arini, seorang wanita bookingan aplikasi kencan online. Mata Della yang seolah terasa bicara, tidak hanya sukses membuat Richard tapi juga penonton jatuh hati pada wanita berambut panjang tersebut. Meski karakternya digambarkan layaknya sosok trophy-wife pada umumnya, pandai memasak, berbadan ramping nan indah, juga supel, sosok Arini terasa berkesan lantaran dibalik kesempurnaannya, Arini masih dengan jelas terasa fake. Misalnya, Arini digambarkan masih senyam-senyum bahagia saat menceritakan ayahnya yang amnesia setiap 24 jam. Padahal, Arini digambarkan sebagai anak tertua yang sayang keluarga. Masa iya, seorang anak bakal mesam-mesem dengan riang saat bercerita tentang ayah yang sakit keras? Oleh karenanya, jika Della memang sengaja menghadirkan kesempurnaan palsu, maka sukseslah ia mengusung inti bisnis jual beli perasaan, “It’s all fake, dude!”. 

Tema kepura-pura’an yang kental juga semakin diperkuat dengan kakunya aksen medhok Dayu Wijayanto saat menyapa Arnini, “Nduuuuuuk…” ketika putrinya berkunjung ke rumah kerabat. Penonton yang berasal dari Jawa akan tersenyum getir saat melihat scene tersebut seraya berkata, “Hahaha, dudu wong Jowo!”. Lagi-lagi, mungkin karena memang pada dasarnya ingin mengedepankan image bisnis rental pacar yang palsu belaka, penampilan Toro Margen yang kikuk, dan lolak-lolok sukses menggambarkan aktor kemarin sore yang sedang rajin-rajinnya casting dan sengaja dipakai pengembang aplikasi untuk mempercantik bisnis rental pasangan. Intinya, semua kan memang hanya pura-pura!

387 picture1
Courtesy of 13 Entertainment, Stay Connected Media, Visinema Pictures © 2018

Sayangnya, kisah cinta Richard-Arini tak akan bisa dinikmati semua orang. Selain karena ditampilkannya adegan seks yang terbilang cukup berani bagi film Indonesia; butuh jarak, usia, dan pengalaman agar penonton paham alasan-alasan di balik keputusan para tokoh utama. Sebagai contoh, penonton yang tinggal di Jakarta akan menggangguk setuju saat Richard menjelasakan keengganannya membeli Ducati. Jawaban santai Richard, “Mau dipakai ke mana? Orang nggak pernah ke mana-mana,” seakan mewakili kepasrahan kaum urban yang sudah gerah tinggal di kota yang selalu macet, hingga membikin penghuninya malas berpergian.

Apa guna punya Ducati jika di jalan masih harus berbaris antri bersama mikrolet dan kendaraan lainnya? Akhirnya, Love for Sale, ditutup dengan opsi rasional yang biasanya jarang ditawarkan roman-roman Indonesia serupa. Dengan ending yang tak melulu manis, Love for Sale mengajarkan bahwa sejatinya peristiwa apapun, termasuk bertemu cewek seperti Arini, baiknya mengubah setiap pribadi menjadi manusia yang lebih baik.

 

Love for Sale (2018)
R, 104 menit
Drama, Romance
Director: Andibachtiar Yusuf
Writer: Mohammad Irfan Ramly, Andibachtiar Yusuf
Full Cast: Gading Marten, Della Dartyan, Verdi Solaiman, Adriano Qalbi, Sabrina Rochelle, Albert Halim, Rukman Rosadi, Vanda Mutiara, Bowie Budianto, Hanif Reyzel, Natalius Chendana, Rizky Mocil, Cita Maharani, Ryoichi, Khiva Iskak, Kiki Narendra, Lady Dhiana, Faradina Mufti, Mabellista, Bitha Tanamal, Melissa Karim, Annisa Pagih, Dayu Wijanto, Torro Margens, Asmara Abigail

#387 – Love for Sale (2018) was last modified: Juli 11th, 2021 by Putri Kinasih