Sudah bukan suatu kejutan bila menyaksikan orang-orang dari daerah yang mencari peruntungan di kota besar. Begitupun dengan tema yang coba diangkat dari film ini. “Midnight Cowboy” akan membawa penonton ke dalam perjalanan seorang koboi naif dari Texas dan mimpi besarnya.

Film ini dimulai dengan kepergian Joe Buck meninggalkan kampung halaman tercintanya di Texas. Joe, diperankan oleh Jon Voight, bercita-cita untuk mengumpulkan banyak uang dengan menjadi pria prostitusi di New York. Ternyata, setiba disana, Ia tidak bisa menemukan wanita lebih tua yang mau dengannya. Tidak seperti yang Ia pikirkan dan ketahui selama ini.

Saat sedang beraksi di pinggiran kota New York, Ia bertemu dengan Cass, yang diperankan Sylvia Miles. Pertemuan dimulai dengan basa-basi Joe yang ingin menanyakan navigasi menuju Liberty Statue. Namun, kode mata Cass membawanya ke sebuah apartemen mewah sekaligus ‘permainan’ pertamanya. Setelah menyelesaikan aksinya, ternyata Cass tidak memiliki uang. Tanpa disadarinya, Cass pun sebetulnya hanyalah seorang wanita panggilan.

Yah, tidak semanis harapan. Ia pun kemudian bertemu dengan Ratzo Rizzo, yang diperankan Dustin Hoffman. Dengan membayar beberapa dollar, Ratzo menjanjikan Joe untuk memperkenalkannya dengan seseorang yang dapat membantunya. Alhasil, Joe merasa tertipu dan menjadi kesialan berikutnya di kota besar ini.

Courtesy of Jerome Hellman Productions, Florin Productions © 1969

Film yang dirilis pada 25 Mei 1969 ini merupakan satu-satunya film Best Picture Academy Awards yang memiliki rating X, sebelum akhirnya dirating kembali menjadi R dua tahun kemudian tanpa ada penyensoran. Ini disebabkan oleh karena konten film yang punya unsur pornografi dan tema homoseksual yang lumayan kental. Film ini disutradarai oleh John Schlesinger, yang sebelumnya telah dikenal lewat film “Darling.” Setelah mengetahui profil Schlesinger, saya tidak terlalu heran dengan tema yang diangkatnya di film ini. Ia cukup terinspirasi dari film Yugoslavia buatan Zivojn Pavlovic yang berjudul “Kad budem mrtav I beo” aka “When I Am Dead and Gone,” dan sedikit style film garapan Andy Warhol.

Penampilan Jon Voight di film ini memang akan terbilang cukup menjengkelkan. Bukan salahnya, tapi karena pewatakan karakternya yang memang dibuat seperti itu. Ia berhasil menghadirkan sosok Joe Buck yang lugu, naif, dan bodoh. Tapi saya suka dengan kesetiakawanan Joe yang sebetulnya terbilang agak ‘berlebihan.’ Kalau Dustin Hoffman, saya lumayan salut dengan kemampuan aktingnya. Penampilannya disini sedikit mengingatkan saya pada sosoknya di film “Rain Man.” Aktor ini lihai dalam menghadirkan sosok Rizzo yang punya kelemahan dalam berjalan, dan punya otak yang picik dalam segala hal.

Courtesy of Jerome Hellman Productions, Florin Productions © 1969

Walaupun dikemas dengan arah penceritaan yang tidak jelas, “Midnight Cowboy” agak sedikit menghibur. Kita akan menelusuri beragam halusinasi, memori, ekspektasi dan realita kesengsaraan tokoh utama kita. Mungkin inilah yang membuat kadang kita akan tertawa dengan ‘kedangkalan’ Joe Buck.

Bicara setting film ini, saya suka dengan penggambaran realistis kota New York yang dihadirkan dengan suasana padat, dekil, dan kotor. Terutama pada apartemen Rizzo yang terbilang kumuh dan menjijikkan. Film ini mencoba memperlihatkan kesulitan yang dihadapi kedua aktornya ditambah dengan adegan memasak mereka yang terbilang tidak bersih. Dalam benak saya, cukup terbayang nyata seperti apa kejorokan yang diperlihatkan.

Courtesy of Jerome Hellman Productions, Florin Productions © 1969

Kembali bicara ceritanya, film ini memberikan ending yang berkesan. Akan tetapi, saya cukup mempertanyakan hubungan Rizzo dan Joe. Apa yang sebetulnya membuat pertemuan mereka yang terbilang sebentar saja bisa berubah seperti persahabatan yang telah dijalin bertahun-tahun. Faktor inilah yang membuat saya ‘cukup’ mencurigai karakter Joe Buck. Apalagi saat Ia akhirnya juga bersedia untuk melayani pelanggan pria. Mungkin inilah yang membuat film ini lebih pantas dikatakan sebagai sebuah kisah coming of age.

Secara keseluruhan, film peraih 3 Academy Awards dapat saya analogikan seperti sebuah kue yang dikemas seadanya, seasalnya, dan tinggal diartikan sendiri oleh para penikmatnya. Kalau saya, mungkin akan seperti orang yang masih mencicipi kue tersebut karena merasa tidak enak untuk ditolak setelah ditawari.

#303 – Midnight Cowboy (1969) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here