Tidak perlu untuk berpikir panjang dalam memutuskan untuk menyaksikan film ini. “Dangal” sudah terlalu menarik dari trailer-nya, lewat premis cerita yang diangkatnya. Apalagi ketika embel based on true story-nya yang semakin menjamin kalau ini bukanlah sebuah fiksi yang sok inspiratif.

Film ini berkisah tentang Mahavir Singh Phogat, diperankan oleh Aamir Khan, adalah seorang pria yang pernah menjuarai gulat tingkat nasional. Suatu ketika, di kala Olimpiade Seoul 1988, Ia mulai memiliki mimpi. Mimpi tersebut adalah memiliki seorang anak laki-laki dan melatihnya untuk menjadi pegulat yang mampu mengharumkan nama India. Sungguh mulia. Sayangnya, di kelahiran anaknya yang pertama, ternyata adalah perempuan. Putri sulungnya ini diberi nama Geeta Phogat.

Courtesy of Aamir Khan Productions, Walt Disney Pictures © 2016

Semenjak itu, penduduk desa Balali, tempat dimana Mahavir tinggal berusaha untuk mendukung keinginan tersebut. Mereka memberitahukan berbagai macam cara agar Ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Malangnya, kelahiran berikutnya Ia mendapat seorang putri lagi yang diberi nama Babita Kumari. Belum sampai disitu, Mahavir kemudian mencoba peruntungan dengan punya anak lagi. Anak ketiganya ternyata perempuan, dan yang bungsu pun jugalah perempuan. Semenjak itu Ia memutuskan untuk mengubur impiannya.

Namun, kadang kita tidak menyadari bagaimana alam bekerja. Sebuah insiden berhasil memberi pencerahan baginya. Geeta dan Babita suatu ketika dirundung masalah, ketika mereka ketahuan berhasil membuat dua anak laki-laki di kampungnya babak belur. Ini berawal karena keduanya yang tidak terima akan olok-olokkan anak-anak tersebut. Akan tetapi buat Mahavir, but what didn’t occur to me was that gold is gold. Ia mulai melatih Geeta dan Babita untuk menjadi pegulat kelas internasional. Disinilah perjalanan itu berawal.

Courtesy of Aamir Khan Productions, Walt Disney Pictures © 2016

Nama Aamir Khan sudah lumayan melekat dalam ingatan saya, semenjak menyaksikan “Three Idiots” ataupun “PK.” Menariknya, penampilan Khan disini berhasil karena transformasi, mulai dari memerankan sosok Mahavir tua dengan body fat yang lebih dari 30%, dan berubah menjadi Mahavir muda dengan proporsi body fat  9%. Luar biasa! Khan tidak mau menggunakan bantalan agar Ia terlihat gendut. Walaupun cukup sulit untuk melakukan gulat ketika Ia memerankan Mahavir tua, baginya itu adalah sebuah proses yang lebih mudah untuk menghayati karakternya. Buat saya, langkah ini memang cukup berisiko. Coba bayangkan kalau saja Aamir tiba-tiba gagal melakukan transformasinya. Pasti “Dangal” akan selesai cukup lama dan bisa tidak terselesaikan, mengingat proses pengambilan gambar dimulai ketika Mahavir tua terlebih dahulu. Yang juga menarik, film ini diproduksi oleh Aamir sendiri dan menggandeng Walt Disney Pictures.

Kisah dalam film ini sebetulnya ingin mengangkat semangat emansipasi wanita di India yang terhalang dengan budaya yang begitu melekat. Anak perempuan diberikan edukasi, namun lebih terfokus untuk melakukan bersih-bersih dan memasak, serta mengurus urusan rumah lainnya. Ketika mereka berusia 14 tahun, mereka kemudian menikah, itupun masih banyak yang dijodohkan orangtua mereka dengan pria yang tidak mereka kenali.

Courtesy of Aamir Khan Productions, Walt Disney Pictures © 2016

Lewat sosok Geeta dan Babita, Mahavir menghadirkan semangat tersebut. Saya ingat salah satu penggalan ucapan Mahavir kalau Ia ingin kedua anaknya sukses, sehingga mereka tidak perlu mencari pria, namun mereka mampu memilih pria karena kemapanan mereka. Walaupun demikian, sosok Mahavir yang terlalu keras malah membuat saya merasa semangat yang ingin dihadirkan film ini masih terhalang dengan aksi Geeta dan Babita yang terlalu menuruti kemauan Ayahnya. Buktinya, mereka masih rela untuk mengikuti arahan Ayah mereka, seperti dipotong rambutnya menjadi pendek ataupun mengiyakan program atlit yang super disiplin. Ini masih terlihat kalau peran pria masih mendominasi wanita. Positifnya, saya mengingat ucapan Babita pada Geeta, yang mengartikan walaupun hal-hal tersebut terasa tidak mengenakkan, tetapi Ayah mereka sebetulnya bermaksud baik akan kehidupan mereka berdua.

Namanya film India, pasti cukup panjang. Film ini pun begitu, dengan durasi 161 menit. Di sisi pertengahan akan ada intermission, yang sayangnya hanya dilewatkan begitu saja di bioskop yang saya tonton. Secara garis besar, film ini bisa dibagi ke dalam dua babak. Babak pertama akan berkisah tentang perjalanan awal Mahavir, Geeta dan Babita. Sedangkan babak kedua lebih memberi penekanan pada suka duka perjalanan karier atlit kedua putri Mahavir. Baiknya, film ini tidak akan membuat penonton bosan. Drama film yang dihadirkan berhasil dipadukan dengan komedi, terutama kehadiran Omkar, keponakan Mahavir, yang kadang jadi tempat pelampiasannya.

Courtesy of Aamir Khan Productions, Walt Disney Pictures © 2016

Saya menyukai tampilan yang dihadirkan film ini, terutama di babak pertama, yang memperlihatkan kehidupan masyarakat di Haryana, India. Salah satu momen yang saya sukai adalah ketika Mahavir mulai melatih kedua putrinya. Ada adegan mereka berlari melewati wilayah pertanian, jembatan, hingga adanya arena gulat buatan di tengah wilayah tersebut yang dibuat Mahavir. Sinematografi yang digawangi Satyajit Pande akan membuat penonton terkesima dengan sudut-sudut perkotaan India yang indah.

Bicara penampilannya, selain Aamir yang sudah saya bahas sebelumnya, saya memuji dengan penampilan empat putri Mahavir, dua versi muda yang diperankan Zaira Wasim dan Suhani Bhatnagar, serta dua versi dewasa yang diperankan Fatima Sana Shaikh dan Sanya Malhotra. Keempatnya perlu diapresiasi karena persiapan mereka selama 6 bulan untuk menampilkan adegan bergulat layaknya pegulat professional.

Courtesy of Aamir Khan Productions, Walt Disney Pictures © 2016

Sutradara film ini, Nitesh Tiwari, tahu betul untuk menampilkan suasana pertandingan agar menjadi seru. Menikmati pertandingan demi pertandingan Geeta, terutama saat Ia bertanding dengan Mahavir, benar-benar memainkan emosi saya. Saya lumayan terfokus dengan aksi gulat Geeta, apalagi disaat momen klimaks film ini yang mudah tertebak tapi memuaskan.

Selain itu, unsur musik juga tidak dapat dipisahkan di film ini. Ada sebanyak tujuh lagu di dalam OST film ini, dan yang paling menarik buat saya adalah track “Dangal” yang dinyanyikan Daler Mehndi. Lagu ini sangat bersemangat dan buat saya autis sendiri. Hahaha… Saya juga menyukai suara merdu Jonita Gandhi di track “Gilehriyaan” yang punya alunan pelan berulang namun hadir begitu manis.

Overall¸ “Dangal” adalah sebuah tontonan berbobot penuh pesan yang menghibur saya. Anda akan tertawa hingga terharu dengan cerita keluarga yang ditawarkan. I really recommend this one… Remember: “Always remember… If you win silver, sooner or later people will forget you. But if you win gold, you will become an examples. And examples are given are not forgotten.”

#285 – Dangal (2016) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here