Kepulangannya ke Dungatar, ternyata bukanlah suatu hal yang diharapkan. “The Dressmaker” akan berkisah tentang kembalinya Myrtle ‘Tilly’ Dunnage, penonton akan menyelusuri rentetan peristiwa penuh drama akan para penduduk Dungatar.

Dungatar adalah sebuah tempat yang terletak di daerah kering Australia, yang didiami oleh sekelompok orang. Disana ada sebuah grocery store, seorang polisi, chemist, guru, hingga seorang wanita gila yang bernama Molly. Molly, yang diperankan oleh Judy Davis, bertahun-tahun hidup sendiri akibat masa lalu kelamnya.

Courtesy of Screen Australia, Ingenious Senior Film Fund, Film Art Media, Embankment Films, White Hot Productions © 2015

Film dimulai saat Tilly, yang diperankan Kate Winslet tiba ke Dungatar. Ia kembali dengan dress hitam ala Dior dan topi putih yang menonjol, sambil menenteng sebuah tas berisi mesin jahit Singer. Kedatangannya disadari oleh Sergeant Farrat, diperankan oleh Hugo Weaving. Malam itu, Tilly menemui kembali Ibunya, Molly, dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Rumahnya begitu kotor, berantakan, sampai-sampai menjadi sarang hewan seperti tupai.

Tibanya Tilly ternyata menjadi seperti suatu ancaman bagi para penduduk. Tilly ternyata dianggap bersalah atas sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang anak lelaki bernama Stewart Pettyman. Kematian ini membuat Tilly kecil dibawa oleh Sergeant Farrat untuk dipisahkan dari Ibu dan Dungatar. Kini, Ia kembali untuk menemui Ibu ‘gila’-nya dan membalas perlakuan para penduduk Dungatar yang membuatnya seperti orang yang terkutuk.

Courtesy of Screen Australia, Ingenious Senior Film Fund, Film Art Media, Embankment Films, White Hot Productions © 2015

Kisah film ini sebetulnya diangkat dari sebuah novel berjudul “The Dressmaker” karangan Rosalie Ham. Ceritanya kemudian diadaptasi oleh P.J. Hogan dan Jocelyn Moorehouse. Moorehouse kemudian menyutradarai film ini. Dengan ber-setting di tahun 50-an, di pedalaman Australia, penonton akan disuguhkan setting pemandangan yang cukup didominasi dengan suasana gersang, kering, dan menghadirkan rumah-rumah ala para westerner.

Bicara ceritanya, saya cukup tidak menyangka dengan sederetan peristiwa yang tidak akan terlihat manis. Film ini sebetulnya terkesan cukup unik, dari sederetan tokoh yang punya ciri khas dan watak yang berbeda-beda. Mulai dari Sergeant Farrat yang sebetulnya adalah seorang penggila fashion dan cross-dresses, kisah cinta Percival Almanac dan Irma Almanac, Marigold Pettyman yang mengalami cleaning disorder, perselingkuhan Una Pleasance, hingga kisah dibalik pernikahan Gertrude Pratt dan William Beaumont yang sebetulnya tidak mendapat dukungan Elsbeth Beaumont. Menariknya, kumpulan cerita yang terjadi di Dungatar selalu dikaitkan dengan Tilly.

Courtesy of Screen Australia, Ingenious Senior Film Fund, Film Art Media, Embankment Films, White Hot Productions © 2015

Saya suka bagaimana film ini digarap. Terutama adalah set dan kostum desain film ini. Kostum-kostum yang dikenakan oleh jajaran cast-nya mengalami transformasi dari yang sifatnya old country style hingga menjadi high fashion taste. Mata saya cukup terpukau dengan pakaian-pakaian, terutama yang dikenakan Kate Winslet, yang dirancang khusus oleh Margot Wilson. Saya cukup yakin kalau “The Dressmaker” patut disandang sebagai salah satu film dengan kostum terbaik di awards season 2016 ini.

Kisah cinta Tilly dan Teddy juga dihadirkan sebagai salah satu drama di film ini. Mulai dari bagaimana sosok Tilly berhasil memukau para pemain football, termasuk Teddy, lewat busana merah mentereng dan kacamata hitamnya. Kehadiran Tilly ternyata mampu menjadi talk of the town, yang sayangnya tidak seperti kisah cintanya. Bila saya membahas penampilan Winslet ataupun Hemsworth, kedua aktor yang punya rentang umur jauh ini cukup lumayan untuk hadir seakan dari satu generasi, walaupun masih terlihat jelas dari sosok Winslet hanya terlihat muda karena berhasil ditutupi dengan kostum indahnya. Wajah Winslet memang membuatnya sedikit muda, namun tidak berbohong. Sedangkan Hemsworth, lewat upaya karakternya yang brewokan, cukup membuatnya lebih jauh lebih tua. Cuma, walaupun demikian, saya tetap memuji upaya Winslet, yang selalu bisa bersanding dengan love interest-nya siapapun, termasuk dengan brondong David Kross dalam “The Reader.”

Courtesy of Screen Australia, Ingenious Senior Film Fund, Film Art Media, Embankment Films, White Hot Productions © 2015

Jajaran pemain film-film ini patut diperhatikan. Salah satunya adalah Judy Davis. Davis berhasil menampilkan sosok wanita tua yang gila, dengan penampilannya yang tidak pernah sekeren saat masa lalu. Davis unggul dengan karakter ceplas ceplos, rambut acak-acakan, yang nantinya punya posisi penting di cerita ini. Yang tidak disangka adalah karakter Sergeant Farrat, yang diperankan Hugo Weaving. Saya baru saja menyaksikan Weaving dalam “Hacksaw Ridge” sebagai Ayah bermasalah dengan masa lalu kelam, dan kini Ia hadir sebagai polisi yang berusaha menutupi hobi nyentriknya demi karier.

Sayangnya, “The Dressmaker” terlalu terbelit-belit dan setengah hati dalam menceritakan apa yang sebetulnya terjadi. Potongan-potongan ini tidak terangkai sebagai sebuah kesatuan yang kuat, dan alur ceritanya terasa cukup panjang. Menikmati film ini buat saya sama seperti saat saya menyaksikan black comedy “Hot Fuzz.” Saya merasa seperti ada kesamaan dari style yang dihadirkan namun “The Dressmaker” lebih buruk dan lama untuk menuturkan misterinya, walaupun hadir lebih berkelas.

Courtesy of Screen Australia, Ingenious Senior Film Fund, Film Art Media, Embankment Films, White Hot Productions © 2015

Film sajian berdurasi 119 menit dari Benua kangguru ini layak untuk jadi sebuah rekomendasi pelepas penat. Akan ada komedi, drama, romance, mystery, hingga thriller. Anda tidak akan merasa berat dengan ceritanya, dan akan terhibur dari  keberadaan para karakternya. Bicara ending-nya, saya sangat menikmati bagaimana “The Dressmaker” harus diakhiri.

#278 – The Dressmaker (2015) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

2 COMMENTS

  1. Halo Bavner, gue nonton film ini di pesawat dan cukup terhibur. Film yang bagus sekali dan kelihatan serius ya dibuatnya. Apalagi dress nya wow! You’ve got an astounding blog btw!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here