Menyusul kesuksesan “The Fault in Our Stars”, “Paper Towns” merupakan adaptasi kedua dari novel young adult John Green. Berbeda dengan kisah sebelumnya yang menceritakan kesedihan dengan cara yang menyenangkan, film ini lebih banyak membahas masa-masa akhir high school, persahabatan dan juga misteri.

             Quentin Jacobsen, atau yang biasa disapa Q ini, mendapati sesuatu yang berbeda ketika Ia mengenal Margo Roth Spiegelman. Q, yang diperankan oleh Nat Wolff, menyukai Margo sejak Ia pertama kali tiba di Orlando, lingkungan tempat tinggal mereka. Keduanya menjalani pertemanan mereka sebagai anak kecil, bersepeda bareng, hingga suatu ketika mereka menemukan sebuah jasad di sekitaran kompleks. Margo, yang diperankan oleh Cara Delevingne, adalah seorang perempuan yang punya ingin tahu untuk memecahkan misteri dari jasad tersebut. Berbeda halnya dengan Q yang merasa tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut. Sejak saat itu, perbedaan keduanya membuat mereka menjadi hidup dengan pilihan mereka masing-masing hingga mencapai masa high school. Tetapi, Q tetap menyimpan perasaannya.

paper towns
Courtesy Fox 2000 Pictures, Temple Hill Entertainment © 2015

            Suatu malam, Q baru saja membuka baju dan berniat segera tidur. Tiba-tiba sosok Margo menyelinap masuk ke kamarnya. Margo meminta tolong Q untuk mengantarnya dengan menggunakan mobil milik Ibu Q. Q kemudian mengikuti permintaan Margo, dan menjalani 9 aksi pembalasan dendam Margo. Ternyata, Margo dikhianati kekasihnya Jase, dan juga sahabat-sahabatnya. Mereka berdua memulai kegiatan onar mereka, mulai dari mengacaukan kegiatan seks Becca dan Jase, membungkus mobil Lacey, hingga menghilangkan alis Chuck dengan hair removal cream. Q seakan merasa semakin dekat dengan Margo. Apalagi ketika Margo dan dirinya berdansa di SunTrust Center sambil menikmati keindahan kota Orlando.

            Petualangan semalam suntuk bersama Margo seakan begitu berkesan bagi Q. Ini juga merupakan kesempatan dirinya untuk menaklukkan Margo. Tidak seperti biasanya, Q berusaha tampil beda di sekolah. Akan tetapi, Margo menghilang. Q dibantu kedua sahabatnya Ben dan Radar, berusaha untuk mencari petunjuk kemana Margo. Ini semua berkat kebiasaan Margo yang selalu meninggalkan petunjuk kemanapun Ia pergi. Petualangan pun dimulai.

169-picture4
Courtesy Fox 2000 Pictures, Temple Hill Entertainment © 2015

            Kisah young adult yang satu ini sebetulnya dikemas lebih cukup menarik. Nat Wolff, yang berperan sebagai Q, hadir cukup menarik untuk menghadirkan sosok Q yang super ragu dan memang tidak terlalu dapat diandalkan. Tetapi yang cukup saya sukai dari karakternya adalah bagaimana Q pantang menyerah untuk memecahkan segala misteri Margo, dan mempelihatkan sisi intelejensia-nya. Berbeda dengan Cara Delevingne yang memerankan sosok Margo. Delevingne cukup hadir begitu memikat di babak pertama film ini, ketika mereka menjalani aksi pembalasan dendam. Selebihnya, Wolff yang cukup punya andil hingga penutup cerita. Sayang saja ketika karakter Margo yang merupakan pusat cerita hanya dikemas begitu saja.

169-picture5
Courtesy Fox 2000 Pictures, Temple Hill Entertainment © 2015

Aksi kocak kehidupan remaja juga cukup tergambar jelas di film ini. Mulai dari party, road trip, having first time sex, peeing in a can, hingga aksi nyanyi lagu Pokemon saat mereka takut. Well, this is 90’s gen. Q dan teman-temannya yang sebetulnya lebih alim, ternyata masih memiliki ke-koplak-an yang seru untuk dinikmati.

                Yang membuat menarik kisah ini, bagi saya, hanya terdapat di bagian awal cerita hingga memasuki titik klimaks cerita. Babak pertama film ini dikemas begitu matang, dan seiring perjalanannya berjalan semakin menurun. Saya juga menyukai bagaimana kisah ini menggunakan paper towns sebagai judul ceritanya. Istilah ini dibuat oleh para pembuat peta, ketika mereka menghadirkan lokasi-lokasi fiktif dalam peta mereka, guna melindungi hak cipta karya mereka. Dengan demikian, ketika ada pihak yang menduplikasi peta karya mereka akan terlihat jelas dengan keberadaan paper towns.

169-picture3
Courtesy Fox 2000 Pictures, Temple Hill Entertainment © 2015

                Sayang saja, film ini tidak terlalu nge-hits seperti karya adaptasi John Green sebelumnya. “Paper Towns” cukup rubuh pasca klimaks dan memasuki ending, walaupun akan memberikan pandangan baru bagi penontonnya lewat karakter utama yang tiba-tiba dengan seketika sok bijak akan keputusannya. Anyway, ada satu pendapat yang saya sukai di film ini mengenai hilangnya Margo, yaitu dari Ibunya sendiri yang bilang: “She’s not missing. She’s gone. If she was gone, she wouldn’t be find until she wanted to be.”

Paper Towns (2015)
PG-13, 109 menit
Drama, Mystery, Romance
Director: Jake Scheier
Writer: John Green, Scott Neustadter, Michael H. Weber
Full Cast: Nat Wolff, Cara Delevingne, Austin Abrams, Justice Smith, Halston Sage, Jaz Sinclair, Cara Buono, Josiah Cerio, Hannah Alligood, Meg Crosbie, Griffin Freeman, Caitlin Carver, RJ Shearer, Susan Macke Miller, Tom Hillmann, Stevie Ray Dallimore, Jay Duplass, Kendall McIntyre, Emma O’Loughlin, Yossie Mulyadi, Drew Matthews, Marta Martin, Virginia Riggsbee, Bailey Nemirow, Christopher Pell, Jim R. Coleman, Sophia Grillo, Rob C. Baldwin

#169 – Paper Towns (2015) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo