Kali ini saya mengajak Anda ke dalam suguhan film independen dari Filipina. Berjudul “I’m Drunk, I Love You,” film ini akan membawa kita ke sebuah road trip sekelompok sahabat dengan cerita cinta dan masa depan mereka. Di negara asalnya, film ini sempat membuat kontroversi. Bukan dikarenakan adanya adegan syur dalam kontennya, tetapi karena merasa perlunya adanya kesempatan untuk jatah film independen dapat bersaing terkait slot layar di bioskop.

Caridad Sonja aka ‘Carson’, diperankan oleh Maja Salvador, adalah seorang mahasiswa jurusan Public Policy yang sebentar lagi akan menjalani wisuda. Akan tetapi, hari-harinya yang sebentar lagi bakal wisuda menjadi mulai rumit ketika Dio, yang diperankan oleh Paulo Avelino, salah satu sahabatnya, mengajaknya untuk menghadiri sebuah festival musik bernama Daluyon Music Festival, yang lokasinya jauh dari Manila. Berhubung menjelang hari ulang tahunnya, Ia juga berniat mentraktir sekaligus bermalam 2 hari disana. Awalnya Carson cukup concern dengan kegiatan wisuda yang tidak boleh batal dihadirinya. Baginya, wisuda seperti apresiasi bagi Ibu yang telah membiayainya selama ini. Akan tetapi, Carson telah jatuh hati pada Dio, sehingga Ia dengan mudah menyetujuinya.

Courtesy of TBA Studios, Buchi Boy Entertainment, Tuko Film Productions © 2017

Eits, mereka tidak berdua, sepasang sahabat ini juga dilengkapi Jason Ty, diperankan oleh Dominic Roco, yang merupakan ATM aka ‘Always There Man’-nya Carson. Ketiganya kemudian meninggalkan kota Manila yang padat menuju ke sebuah resort yang ditempuh semalam suntuk. Keesokan harinya, betapa terkejutnya Carson ketika menyaksikan Dio bertemu dengan Pathy, diperankan oleh Jasmin Curtis Smith, perempuan yang merupakan mantan Dio.

Dari premis yang ditawarkan, pasti kalian akan berpikir dengan cerita yang mudah ditebak. Yup, “I’m Drunk, I Love You” menawarkan kisah yang mungkin bisa kita jumpai di sinetron ataupun FTV, namun yang berbeda adalah pengemasan dalam bentuk genre drama road trip-nya. Dari sisi cerita, mungkin secara sekilas tidak ada yang terlalu spesial. Namun, bila kita semakin jeli, apa yang ditulis oleh Giancarlo Abraham dan Jaime Habac Jr. ini adalah model-model cerita yang sering terjadi di realita. Kisah seseorang yang mencintai sahabatnya. Mungkin ekstrimnya bisa menjadi ‘Teman Tapi Menikah,’ tapi disini kita enggak bakal se-ekstrim itu.

Courtesy of TBA Studios, Buchi Boy Entertainment, Tuko Film Productions © 2017

Cerita yang semakin berjalan ternyata mulai mengeksplorasi bagaimana Carson sebetulnya telah menyukai Dio sejak lama. Dan, mabuk menjadi trigger kejujuran. Untung saja dalam ceritanya kita dihadirkan sosok Jason, pria gay yang menjadi tempat curahan hati Carson, yang mendengar dan memberi dukungan untuk sahabatnya yang jatuh cinta. Lewat mabuk, kejujuran terungkap, dan ini mungkin yang kadang membuat beberapa orang akan berhati-hati untuk mabuk di depan pasangannya, sebab mereka bisa membeberkan hal-hal yang mungkin tidak pernah diketahui. Di film ini, karakter sentral kita terasa sudah cukup terbiasa dengan mabuk, dan sudah menjadi alat pelampiasan emosinya.

Well, film ini juga menggali karakter Dio. Mahasiswa perfilman yang sebentar lagi mau melanjutkan kuliah hukum, sebagai kelanjutan dinasti turun temurun dari keluarganya yang kaya. Sosoknya yang selalu meminta pendapat pada Carson ternyata diartikan sebagai hal yang berbeda dan menjadi bumbu penyedap di ceritanya. Tapi, yang juga menarik, film ini berani memasukkan tema LGBT dalam cerita dari sosok Jason. Sebab nantinya, kisah percintaan Jason juga diselipkan tanpa menghilangkan fokus antara hubungan Carson dan Dio. Ini sedikit mengingatkan saya pada film romcom lawas ‘My Best Friend’s Wedding,’ dimana karakter Julia Roberts juga ditemani sohib gay yang diperankan oleh Rupert Everett.

Courtesy of TBA Studios, Buchi Boy Entertainment, Tuko Film Productions © 2017

Film ini sendiri berdurasi hampir 2 jam dan disutradarai oleh Jaime Habac Jr. Ini mungkin film pertamanya yang saya tonton, dan saya menikmati bagaimana penyajian gambar yang cukup sinematik walaupun dengan set yang terasa minimalis. Kalau dari penampilannya, saya menikmati chemistry antara Salvador dan Avelino. Tidak heran chemistry keduanya terasa cukup natural, apa mungkin dikarenakan ini sudah merupakan kolaborasi mereka yang kesekian kali. Tapi dari sisi perannya, saya menyukai penampilan Maja Salvador disini. Salvador hadir sebagai wanita periang terbilang hampir mendominasi semua adegan dari tingkah lakunya.

Salah satu poin menarik dari film ini juga adalah bagaimana cerita road trip ini disajikan dengan selingan-selingan musik OPM aka ‘Original Pilipino Music’ yang lagunya dinyanyikan kembali oleh kedua karakter sentral ataupun selingan karena setting di dalam festival. Tapi yang sedikit berkesan adalah ketika ketiganya memainkan random music via iPod untuk menentukan nasib mereka dari lyric lagu yang terpilih.

Courtesy of TBA Studios, Buchi Boy Entertainment, Tuko Film Productions © 2017

Terakhir, saya menyukai bagaimana ‘I’m Drunk, I Love You’ menutup ceritanya. Cerita cinta tak berbalas dari sepasang sahabat yang ternyata bisa ditutup sesuai ekspektasi saya. Memang sih, menyukai seseorang dalam jangka waktu yang lama bukan hal yang bisa diakhiri dengan waktu yang cepat. Namun, yang paling penting adalah walaupun hati tidak dapat berbohong, kita tetap tidak dapat memaksakan hati orang lain. It took 7 years for Carson to wait, but it took same years for Dio to feel free before his life will became more serious. What a nice execution!

I’m Drunk, I Love You (2017)
110 menit
Romance
Director: Jaime Habac, Jr.
Writer: Giancarlo Abrahan, Jaime Habac, Jr.
Full Cast: Maja Salvador, Paulo Avelino, Dominic Roco, Jasmin Curtis Smith, Jim Paredes, Irma Adlawan, Juan Miguel Severo
#524 – I’m Drunk, I Love You (2017) was last modified: November 12th, 2020 by Bavner Donaldo

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here