Gimana rasanya ketika kita sadar akan fakta masa lalu kita yang sebenarnya? Ada ungkapan yang mengatakan kalau ‘kebenaran itu kadang menyakitkan.’ Saya cukup percaya dengan ungkapan ini sih, dan pasti akan ada setidaknya penolakan akan kenyataan ini di awal. Begitupula yang terjadi dengan Tansen. Melalui “Madre,” penonton akan masuk ke dalam cerita seorang cowok berambut gimbal yang ngerasa orang asli Tasik, dan menyadari kalau Ia sebetulnya keturunan Cina dan India.

Itulah Tansen Roy Wuisan, surfer sekaligus blogger yang diperankan oleh Vino G. Bastian. Di suatu saat, Ia bertemu dengan seorang pengacara yang memberikannya sebuah warisan paling berharga milik Tan Sie Gie, kliennya. Amplop kertas tersebut kemudian dibawa Tansen ke Tan De Bakker, sebuah toko roti jadul yang sudah tidak beroperasi. Disana, Ia bertemu dengan Pak Hadi, seorang penjaga Tan De Bakker yang diperankan oleh Didi Petet. Di pertemuan pertama mereka, Hadi memperlihatkan sebuah kesan lama tak bertemu yang dirasa asing buat Tansen. Tansen kemudian memperlihatkan warisan yang didapatnya: sebuah kunci.

Courtesy of Mizan Productions © 2013

Alih-alih membuka sebuah peti berisi harta peninggalan, ternyata kunci ini mau membuka sebuah kulkas yang terletak di sudut toko. Mereka berdua membukanya, dan pria muda ini menyadari jika Ia diwariskan sebuah guci kaca bening yang berisi biang adonan roti, yang diberi nama “Madre.” Karena merasa tidak membutuhkan warisan tersebut, Ia kemudian menulis ceritanya dalam blog pribadinya. Ternyata, salah satu pembacanya, seorang CEO cantik bernama Meilan Tanuwidjaja, yang diperankan oleh Laura Basuki, sangat berminat untuk melihat dan terobsesi dengan “Madre.”

Personifikasi biang adonan yang seakan cukup diagungkan para pekerja lama, awalnya merasa saya sedikit risih. Tapi, ketika semakin masuk ke ceritanya, mencoba memaknai simbolisasi Madre sebagai Ibu, tetap masih membuat saya merasa kalau ini sedikit agak berlebihan. Apalagi saat menyaksikan adegan trio Titi Qadarsih-Savitri Nooringhati-Lisa H. Pandansari saat mau melepas Madre. Untung saja ada suasana humor yang mewarnai ceritanya. Jadinya, saya malah merasa sedikit ‘geli’ dengan kesedihan yang diperlihatkan.

Courtesy of Mizan Productions © 2013

Kisah “Madre” sebetulnya diangkat dari cerita berjudul sama dari sebuah anthology yang juga berjudul sama karangan penulis bestseller Dewi ‘Dee’ Lestari. Benni Setiawan, sutradara film ini kemudian mengadaptasinya ceritanya. Dengan berlatar di Bandung dan Bali, kisah Tansen berhasil terkesan cukup hidup ketika Anda sudah masuk ke dalam ceritanya. Walaupun tidak terasa terlalu outstanding dan penyajian yang dihadirkan masih sedikit di atas FTV, kisah “Madre” berhasil membuat saya antusias untuk mengetahui jalan ceritanya hingga akhir.

Bicara ceritanya, tentu kualitas dari seorang Dee sudah tidak perlu diragukan. Yang penting, tinggal bagaimana eksekusi ceritanya agar bisa sebanding dan mungkin lebih baik dari tulisan aslinya. Jujur, saya belum pernah membaca kisah ini. Tapi, tanpa membandingkan dengan versi tulisan, saya merasa ada 4 faktor yang membuat saya cukup betah dengan ceritanya.

Courtesy of Mizan Productions © 2013

Pertama, pasti karena ceritanya. Saya suka bagaimana film ini berhasil untuk membangun keingintahuan saya ketika sudah terbawa menikmati ceritanya. Kedua, penampilan Didi Petet. Petet yang memerankan sosok Hadi merupakan kunci bagaimana film ini terasa begitu hidup. Saya suka dengan celetukan khas Sunda seperti “Beleguk sia!” yang hadir mewarnai tingkah laku Tansen yang penuh kegalauan. Dengan kesan yang masih serius, Petet juga menghadirkan kejenakaannya melalui karakternya. Yang penting, Ia berhasil menyatu sebagai penghubung dengan segala karakter disini, terutama dengan Vino G. Bastian. Saya ragu, jika bukan seorang Didi Petet yang berperan sebagai Pak Hadi, pasti karakter Tansen sangat terasa dibuat-dibuat. Salah satu adegan yang menarik disini adalah saat Didi Petet memutar lagu “Keroncong Suka-Suka” dan Ia asik menari sendiri. Ketiga, saya suka penampilan three 60’s girls yang mungkin hanya tampil sebentar, tapi berkesan untuk menambah keceriaan dan peramai dalam ceritanya. Terakhir, Laras Basuki. Pesona Basuki dalam film ini cukup membuat saya terfokus menikmati ceritanya sebagai love interest disini.

Courtesy of Mizan Productions © 2013

Sayang pada beberapa bagian masih ada editan yang terasa kasar di adegannya. Begitupun saat transisi ending. Bicara bagian akhirnya, saya sebetulnya cukup memuji cara Benni Setiawan menutup ceritanya, yang seakan memberikan kesan kalau ending sebenarnya yang muncul bersama end credits adalah sebuah alternate ending. Tapi sayangnya musik keroncong yang menutup tanpa aba-aba langsung berlanjut dengan refrain “Jodoh Pasti Bertemu”-nya Afgan. What a shocking! “Madre” mungkin tidak sefenomenal film-film adaptasi karya Dee yang lain, tapi yang paling berkesan adalah ini merupakan film Didi Petet yang paling saya nikmati dan terbaik versi saya. Bravo!

Madre (2013)
PG-13, 102 menit
Comedy, Drama, Romance
Director: Benni Setiawan
Writer: Benni Setiawan, Dewi Lestari
Full Cast: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Savitri Nooringhati, Lisa H. Pandansari, Gatot W. Dwi Yono, Framly Nainggolan, Gangsar Sukrisno, R. Chaeruli, Roma Rombeng, Roni Gunawan, Nadhira Suryadi, Siri Hartayu, Madina Monicha, Eriekn Juragan, Saleh, Ng Ming Sim, Darwin Sofjan, Roy, Fajar Widia, Kodrat Widia, Toni, Rina, Ody, Syari Haditsyah, Bjorn Goenawan Schoeck, PORBA, Mustafa Jackson
#403 – Madre (2013) was last modified: Desember 28th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here