Pernah mendengar stand up comedy? Untuk penonton Indonesia, sebutan ini harusnya sudah tidak asing di masyarakat. Sejak 2011, salah satu saluran nasional sudah mulai rutin menayangkannya di televisi dan hingga kini sampai sudah berkembang menjadi sebuah reality show di saluran lainnya. Sekarang, saya akan membahas sebuah film mengenai stand up comedian yang sudah rilis dua dekade sebelum menjadi salah satu hiburan populer di tanah air. Mungkin tidak terlalu diingat, lewat “Punchline,” Tom Hanks dan Sally Field sempat menghibur penonton layar lebar dengan stand up  mereka.

Steven Gold, diperankan oleh Tom Hanks, adalah seorang mahasiswa kedokteran yang setiap malam juga menghibur di sebuah klub bernama The Gas Station. Hampir setiap malam, Ia menjadi salah satu lineup bar ini bersama para stand up comedian lainnya. Disana, juga ada seorang Ibu rumah tangga yang baru beberapa belas minggu mencoba peruntungannya. Ia adalah Lilah Krystick, diperankan oleh Sally Field. Sayang, Ia masih merasa dirinya tidak lucu, sehingga Ia rela untuk menghabiskan $500 hanya untuk membeli lelucon. Konyol.

Courtesy of Columbia Pictures Corporation, Fogwood, IndieProd Company Productions © 1988

Lilah, begitu sebutannya, adalah seorang Ibu dari tiga putri. Menjadi seorang stand up adalah pilihan sekaligus juga membuat babak belur keluarganya. Ia meninggalkan tugasnya mengurus rumah tangga, hingga membuat seisi kondisi di dalam rumah menjadi kurang harmonis. Demi mencapai impiannya, di suatu malam di The Gas Station, Ia menyaksikan penampilan Steven Gold. Terpesona dengan penampilan Gold yang berhasil membuat seisi ruangan terhibur, Ia kemudian mendekati Gold dengan satu tujuan: melatih lelucon-leluconnya.

Dari sekian puluh film yang pernah dibintangi Tom Hanks, mungkin anda akan cukup melupakan atau tidak pernah mendengar judul ini. Pasti. Hanks sudah lebih dikenal di mata penonton melalui “Saving Private Ryan,” “Philadelphia,” ataupun ‘Captain Phillips.” Film ini merupakan kolaborasi pertamanya dengan Field, sepasang sepasang stand up comedian, sebelum akhirnya menjadi Ibu dan anak dalam “Forrest Gump.” Dalam film ini, Hanks menghadirkan sosok stand up yang cukup ekspresif, terutama dengan punchline-punchline satirnya. Sayang, entah kenapa line-line yang diceritakannya kurang sreg menghibur saya.

Courtesy of Columbia Pictures Corporation, Fogwood, IndieProd Company Productions © 1988

Di sisi lain, Sally Field menampilkan sesuatu yang tidak terduga. Sebelum bermain di film ini, kita tahu kalau Field sangat cocok untuk memerankan peran seorang Ibu, sehingga bukanlah sebuah kesulitan berarti untuk memerankan karakter Lilah. Tidak seperti dalam “Places in the Heart,” di film ini Ia hadir dalam versi sebaliknya. Akan tetapi, yang menarik disini, Field masih bisa membuat penonton tertawa dengan jokes-jokesnya.

Film ini ditulis dan disutradarai David Seltzer, yang menulis ceritanya dari pengalamannya mengunjungi klub-klub komedi. Bicara ceritanya, film ini seperti terdiri dari 3 babak secara garis besar. Babak pertama, terdiri dari 30 menit pertama yang bersetting di The Gas Station. Lalu dilanjutkan dengan Perkenalan Lilah dan Steven, dan berlanjut dengan babak terakhir yang kembali di The Gas Station. Ceritanya memang tidak bersifat edukatif tentang stand up comedy, tetapi yang menarik adalah bagaimana Seltzer menggali kehidupan Lilah dalam melewati rintangan-rintangannya. Cuma yang saya sesali, kadang humor yang diangkat terasa kurang terlalu pas saja, mengingat sebetulnya sudah diperankan cukup baik oleh 2 aktor sekelas Oscar.

Courtesy of Columbia Pictures Corporation, Fogwood, IndieProd Company Productions © 1988

Secara keseluruhan, this is not a bad movie afterall… “Punchline” menyadarkan kita kalau profesi para stand up comedian ini bukanlah yang utama. Mungkin sebagian daripada mereka ada yang seperti Lilah, seorang Ibu rumah tangga, ataupun Steven, yang juga merupakan mahasiswa. Dan yang lebih menarik lagi adalah ketika menjadi stand up comedian seperti Lilah, yang melakukannya bukan karena uang, tetapi karena keinginannya yang merasa bahagia kalau bisa berhasil menghibur orang lain.

Yang juga membuat saya menarik adalah salah satu quote andalan film ini, “We are all God’s animated cartoon.” Steven menyakan kehidupan kita seperti kartun, yang berisi komedi-komedi. Bila membayangkan kehidupan dari sudut pandang Steven, seisinya mungkin akan terlihat menyenangkan. Banyak hal-hal yang dapat digali untuk menjadi peluang lelucon, ataupun menggunakan sarkasme dalam menyindir sebuah kelompok, hingga berlaku satir pada diri sendiri. Malang saja, walaupun Ia berhasil untuk menghibur orang lain, Ia masih juga belum bisa menghibur dirinya sendiri dan mengalahkan emosinya. Enough said.

#328 – Punchline (1988) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here