Hampir lebih dari 40 tahun penayangannya, film ini mencuri perhatian saya ketika terpilih untuk masuk ke dalan section Cannes Classic tahun 2016 lalu. Awalnya, saya mengira judul film ini memiliki arti tertentu dalam Bahasa Tagalog. Ternyata, “Insiang” hanyalah sebuah nama, dari seorang perempuan yang berasal dari sebuah perkampungan kumuh di Tondo, Filipina.

Insiang, diperankan oleh Hilda Koronel, adalah seorang putri tunggal yang hidup dengan Ibunya. Ia hidup bersama sanak saudara dari Ayahnya. Sehari-hari, Ia bekerja dengan melakukan laundry. Sedangkan Ibunya, Tonya, diperankan oleh Mona Lisa, merupakan seorang pedagang di pasar, sekaligus menjadi tulang punggung di keluarganya. Posisi kepala keluarga yang dikendalikan Tonya, kadang harus menjadi pahit di rumah dengan dumelan-dumelannya pada sanak saudaranya yang terkesan menumpang. Sampai akhirnya, ucapan-ucapan pahit tersebut membuat sanak saudaranya Ayah Insiang memutuskan untuk pindah. Tinggallah sekarang Insiang dan Ibunya saja.

Courtesy of Cinemanila © 1976

Tidak hanya menjadi semakin sepi suasana di rumah, namun sang Ibu seakan ingin memanfaatkan kondisi ini memenuhi kebutuhan seksualnya. Maklum saja, semenjak ditinggalkan sang Ayah, Ia harus bekerja keras dan menghidupi sekaligus memberikan tumpangan untuk sanak keluarga suaminya. Mungkin, ini waktu yang tepat baginya, apalagi tinggal hanya tersisa Insiang saja di rumah. Ia kemudian mengajak Dado, seorang preman yang diperankan Ruel Vernal, untuk hidup bersamanya. Kehadiran Dado yang sepantasnya menjadi anak Tonya, malah menjadi brondong yang juga membuat situasi Insiang menjadi risih.

Perlu diakui, Filipina lebih berprestasi dari Indonesia di ajang Cannes Film Festival. “Insiang” merupakan debut pertama Filipina di In Competition yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Film garapan Lino Brocka ini, mungkin film Filipina yang paling terbaik sejauh ini saya tonton. Tentu penilaian subjektif ini bila saya membandingkan film-film festival asal Filipina yang pernah ditonton. Brocka menghadirkan apa yang kita lihat sebagai kekuatan drama-drama Filipino, nuansa realis yang selalu dikaitkan dengan kemiskinan dan kekumuhan Kota Manila.

Courtesy of Cinemanila © 1976

Dari sisi penampilan, salah satu muse Brocka, Hilda Koronel, menampilkan sosok an innocent girl turns bad! Untuk ukuran aktris berusia 19 tahun kala itu, penampilan Koronel melalui karakter Insiang seakan begitu sulit untuk saya lupakan, apalagi bila mengaitkan dengan balas dendam yang tak terduga. Hal ini menjadi semakin menarik, apalagi Insiang digambarkan sebagai seorang perempuan berparas cantik, idaman para pria, namun lemah dan penuh kepahitan.

Setting yang dihadirkan mungkin adalah yang pertama kali menyorot kehidupan masyarakat Tondo, Filipina. Tetapi, yang saya sukai dari scene-scene film ini adalah saat Brocka sering menyelipkan banyak hal di dalamnya. Misalnya saja, ketika Insiang dijebak oleh Bebot untuk bermalam di hotel, keesokan harinya kita akan melihat sosok seorang pria yang terlihat habis bermesuman dengan seorang siswi di bawah umur. Atau, misalnya ketika seorang Ibu yang sering menghutang di bank, serta terobsesi dengan tetangganya untuk mengikuti audisi sebuah acara yang ditayangkan di televisi. Kesemuanya ini memang bukan menjadi alur dari “Insiang,” tapi jadi pendukung yang membuat adegan film ini terasa natural.

Courtesy of Cinemanila © 1976

Bicara tata sinematografinya yang digawangi Conrado Baltazar, film ini kadang bermain dengan dua kamera dari sisi yang berlawanan untuk sebuah scene. Juga dipadu dengan flow yang enak, sehingga perpindahan antar focus shot yang ditampilkan tidak terasa kasar.  Juga, yang cukup mengagetkan adalah opening film ini yang memperlihatkan proses pemotongan babi di sebuah rumah potong hewan.

Namun, yang jadi penyakit film ini mungkin akan terasa cukup lambat. Sebetulnya durasinya hanya 95 menit, tapi saya menyaksikan film ini serasa 2 jam. Mungkin ini patut jadi perhatian buat orang-orang yang kurang menyukai tontonan drama atau cepat bosan. Itupun, saya sempat sedikit merasa bosan saat tiba di pertengahan cerita. Namun 20 menit bagian akhir film ini mengubah segalanya. Kebosanan tersebut seakan di charge kembali untuk berlari hingga garis finish.

Courtesy of Cinemanila © 1976

Dari beberapa tulisan yang sempat saya baca, banyak yang berargumen kalau ini merupakan karya terbaik Brocka. Tetapi, so far, sekali lagi, ini film asal Filipina yang terbaik buat saya. Another facts, film ini juga merupakan salah satu bagian dari proyek Martin Scorsese, World Cinema Project, yang merestorasi film-film dunia dari kepunahan. Masih ingat dengan “Lewat Djam Malam”-nya Usmar Ismail ataupun “The Housemaid”-nya Kim Ki-Young yang sempat direstorasi? Yah, mereka dari bagian proyek yang sama. Dan menariknya lagi, setelah sempat didistribusikan versi restorasinya oleh British Film Institute (versi yang saya tonton), film ini juga telah dirilis oleh Criterion Collection. “Insiang” is a must-see classic!

#325 – Insiang (1976) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here