Kadangkala, liburan bisa menjadi malapetaka. Itu yang terjadi dalam “Thelma and Louise,” sebuah drama di awal 90-an yang mencoba mengangkat tema femisnisme sebagai isu utama. Perjalanan keduanya yang awalnya berencana untuk memancing dan refreshing, berubah menjadi aksi kejar-kejaran dengan para polisi.

            Louise, diperankan oleh Susan Sarandon, adalah seorang waiter di sebuah kafe, single, dan cukup independent. Lain halnya dengan Thelma, diperankan oleh Geena Davis, sebagai wanita yang terperangkap dalam dominasi keegoisan sang suami, Darryl, yang diperankan oleh Christopher McDonald.

thelma and louise
Courtesy of Pathé Entertainment, Percy Main, Star Partners III Ltd., Metro-Goldwyn-Mayer © 1991

            Kehidupan Darryl dan Thelma digambarkan sebagai sesuatu yang cukup suram. Darryl yang merupakan seorang regional manager yang hidup cukup sibuk dan mulai tidak memperhatikan sewajarnya Thelma yang selalu sibuk mengurusnya. Naasnya, Thelma tampak tak berdaya.

            Suatu ketika, Louise mengajak Thelma untuk kabur dari kesehariannya. Mereka kemudian membawa berbagai macam peralatan yang menurut Thelma adalah suatu keharusan untuk berjaga-jaga. Ini termasuk sebuah pistol 0.38 milik Darryl. Mereka pun memulai aktivitas mereka dengan singgah di sebuah nightclub, dimana mereka bertemu Harlan, seorang pria beristri yang tertarik dengan paras Thelma. Tidak disangka, pertemuan dengan Harlan membawa kedua sahabat ini ke dalam kisah perjalanan yang tidak pernah mereka bayangkan.

courtesy of pathé entertainment, percy main, star partners iii ltd., metro-goldwyn-mayer © 1991
Courtesy of Pathé Entertainment, Percy Main, Star Partners III Ltd., Metro-Goldwyn-Mayer © 1991

            Menyaksikan film ini seakan menemukan harta karun Ridley Scott. Sutradara yang telah dikenal lewat film-film sci-fi seperti “Bladerunner” hingga “Alien,” ternyata mampu menghadirkan suatu nuansa yang berbeda dalam drama para wanita. Walaupun memang bukan dikhususkan sebagai tontonan para wanita, “Thelma and Louise” sedikit mengingatkan saya pada film Scott yang lain, “The Martian.” Memang tidak ada kesamaan dari tema, namun seperti punya nuansa yang sama.

            Percaya tidak percaya, film buatan MGM ini ditulis oleh Callie Khouri, yang mana merupakan naskah film pertamanya. Khouri adalah seorang penulis sekaligus feminist, dan Ia berhasil meraih sebuah piala Oscar dari enam nominasi yang didapat film ini. Bicara ceritanya, Khouri sebetulnya menghadirkan sebuah cerita yang mudah ditebak secara umum, namun akan membuat penonton penasaran dengan resolusi yang diambil karakter utamanya di penghujung film. Faktor inilah yang membuat saya cukup santai dan excited mengikuti perjalanan dua wanita yang dihadirkan lebih dari 2 jam.

courtesy of pathé entertainment, percy main, star partners iii ltd., metro-goldwyn-mayer © 1991
Courtesy of Pathé Entertainment, Percy Main, Star Partners III Ltd., Metro-Goldwyn-Mayer © 1991

            Sebetulnya, “Thelma and Louise” terkesan akan cukup menipu dari trailer maupun poster mereka. Namun, saya suka dengan kisahnya yang sebetulnya cukup “sakit,” yang bakal membuat anda cukup depresi karena dihadirkan pada situasi yang semakin tidak mengenakkan. Timbunan pemasalahan ini bakal menarik minat penonton, untuk menebak jalan pikir Thema maupun Louise dalam mengatasi rintangan di depan mereka. Alhasil, penonton akan dikejutkan dengan aksi-aksi ini.

            Susan Sarandon dan Geena Davis adalah kombinasi yang luar biasa. Penampilan keduanya yang seakan didominasi oleh Sarandon yang logis dan terencana, ternyata tertutupi dengan aksi Davis yang terlihat baru lepas dari kandang. Saya suka bagaimana konflik keduanya, setiap argumen yang dilontarkan, dan tidak menjadi penghalang keharmonisan mereka. Sebaliknya, itu yang menajamkan relasi mereka. Saya suka dengan akting keduanya. Sarandon berhasil bermain dengan watak, serta Davis berhasil menarik minat dari kecantikannya dan kelihaiannya yang tidak terduga.

226-picture4
Courtesy of Pathé Entertainment, Percy Main, Star Partners III Ltd., Metro-Goldwyn-Mayer © 1991

            Dari sosok pendukungnya, film ini dibintangi juga oleh Harvey Keitel, Michael Madsen, Christopher McDonald, dan merupakan sebuah debut bagi Brad Pitt. Keitel yang memerankan sosok Hal,  salah satu karakter pendukung yang menarik disini. Hal digambarkan seperti berempati dengan tragedi dua wanita ini, dan Ia seperti mau menolong keduanya yang sayangnya tidak berhasil diperlihatkannya. Inilah yang cukup membuat saya bertanya, apakah Hal sebetulnya tulus atau hanyalah bagian dari cara menarik simpati. Lain halnya dengan Pitt yang berperan jadi J.D., koboi muda yang berhasil memikat Thelma. Adegan seks keduanya diperankan tanpa body double, cukup hot, namun sayang, terlalu singkat.

            Tema feminisme adalah gagasan yang cukup hadir di sepanjang waktu. Usaha untuk menggambarkan bagaimana wanita juga mampu bertindak lebih dari pria, hingga bagaimana mereka sepatutnya melawan diri dari kekerasan seksual, merupakan hal yang menarik untuk diangkat. Baiknya, menurut saya, film ini berhasil. Walaupun wanita sampai kini belum berhasil mendominasi segala aspek kehidupan yang selama ini mayoritas diatur para pria, film ini berhasil untuk menyadarkan bahwa wanita juga setara, mereka patut diperlakukan sewajarnya dan mampu juga melakukan hal yang tidak terduga. It’s a classic and definitely one of the best from MGM! Two big thumbs up!

Thelma and Louise (1991)
R, 130 menit
Adventure, Crime, Drama
Director: Ridley Scott
Writer: Callie Khouri
Full Cast: Susan Sarandon, Geena Davis, Harvey Keitel, Michael Madsen, Christopher McDonald, Stephen Tobolowsky, Brad Pitt, Timothy Carhart, Lucinda Jenney, Jason Beghe, Sonny Carl Davis, Ken Swofford, Shelly Desai, Carol Mansell, Stephen Polk, Rob Roy Fitzgerald, Jack Lindine, Michael Delman, Kristel L. Rose, Noel L. Walcott III

#226 – Thelma and Louise (1991) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo