“Still Alice” berkisah dengan sederhana tentang seorang perempuan yang menderita penyakit Alzheimer langka. Namanya, Alice Howland, seorang ahli linguistik yang ambisius. Ia sering diundang untuk berbicara mengenai keahliannya. Akan tetapi, salah satu penyakit yang sebetulnya agak cukup berhubungan dengan kepakarannya harus memberikan sebuah ujian baru.

Sosok Alice, yang diperankan oleh Julianne Moore, dapat digambarkan sebagai sosok wanita yang sempurna: cerdas, berintelektual, punya suami yang menyayanginya, hingga anak-anaknya yang sudah dewasa. Mungkin akan terlalu bijaksana bagi Alice, bila Ia berpikir bahwa dunia itu adil. Hidupnya yang seakan sempurna harus berakhir dengan perang melawan ingatan yang semakin meredup.

126-Picture7
Courtesy Lutzus-Brown, Killer Films, BSM Studio, Big Indie Pictures, Shriver Films © 2014

Buruknya, Alice menderita Alzheimer tipe langka, yaitu jenis Alzheimer yang diderita orang-orang di usia produktif mereka. Bahayanya, penyakit ini turun temurun, dan menjadi ujian berikut Alice dengan keluarganya. Alice memiliki seorang suami yang juga keliatan pintar. Sosok John Howland, yang diperankan Alec Baldwin, adalah sosok suami yang cukup pengertian dan mau menerima kondisi Alice yang semakin memburuk.

Salah satu adegan menarik dalam film ini, adalah ketika perbincangan Alice dengan John pada suatu subuh. Alice mengutarakan penyakit yang dideritanya, kemudian John merasa Alice mengada-ada. Akan tetapi, ekspresi pecah kemarahan serta teriakan Alice meningkatkan mood meter saya, saat Ia berkata “I know what it’s feeling, and it feels like my brain is fucking dying. And everything I’ve worked for in my entire life is going.It’s all.. All going.” Setelah itu emosi Alice mulai mereda sambil ditutup dengan rengekan.

126-Picture1
Courtesy Lutzus-Brown, Killer Films, BSM Studio, Big Indie Pictures, Shriver Films © 2014

Kisah film ini sebetulnya sangat terpusat pada perjuangan Alice melawan penyakit yang dideritanya. Akan tetapi, keluarga menjadi tema sampingan dalam kisahnya. Salah satunya adalah hubungan Alice dengan Lydia, yang diperankan oleh Kristen Stewart. Lydia, yang terbungsu dari semuanya ternyata lebih memilih untuk tidak kuliah dan menjadi seniman. Sosok Alice yang intelektual dan menginginkan seluruh anaknya berpendidikan, membuatnya Ia memiliki hubungan yang renggang dengan putrinya. Film ini akan menyajikan salah satu resolusi cantik dari hubungan ibu dan anak.

Film ini berasal dari sebuah novel Lisa Genova, yang kemudian diadaptasi menjadi naskah dan disutradarai oleh sepasang couple, Richard Glatzer dan Wash Westmoreland. Salah satu kehebatan dari keduanya adalah Glatzer ternyata mengidap penyakit Alzheimer. Sebagai film terakhir Glatzer, Ia membuktikan bahwa Alzheimer mampu untuk mengambil segala ingatannya, akan tetapi semangat dan keinginan untuk mengingat segalanya harus tetap ada, seperti yang tergambar pada sosok Alice. Saya sangat memuji bagaimana kisah sederhana ini mampu dibawakan dengan cukup powerful, menyentuh, dan mungkin menginspirasi.

126-Picture2
Courtesy Lutzus-Brown, Killer Films, BSM Studio, Big Indie Pictures, Shriver Films © 2014

Tidak lain dan tidak bukan, Julianne Moore adalah kunci utama keberhasilan film ini. Moore memberikan penampilan yang terbaik. Tidak heran dengan kemenangannya di ajang Academy Awards 2015 kemarin, Ia akhirnya berhasil membawa pulang piala Oscar sebagai Best Actress in Leading Role. Berbicara tentang Moore, Ia merupakan salah satu aktris yang cukup berwatak, selalu all-out, dan juga salah satu aktris yang langganan nominasi Oscar. Ketika Moore memenangkan Oscar, ini membuktikan sekali lagi bahwa pendalaman karakter akan memenangkan segalanya. Moore tidak perlu untuk sex on screen seperti biasanya, menjadi lesbian, ataupun tampil dengan full frontal nudity dalam filmnya. Memang entah kenapa ada beberapa penampilan berani yang membuat mereka deserved to be nominee, but not be a winner, in my opinion.

Saya cukup menyukai musik Ilan Eshkeri yang hadir dengan hangat dan punya peran untuk menambah emosi ketika menyaksikan ceritanya. Selain itu, saya juga menyukai berbagai macam adegan panjang dengan dialog panjang tunggal Moore yang sebetulnya tersirat dengan banyak kisah. Contohnya adalah ketika Moore diperlihatkan sedang menjalani tes ingatan. Walaupun hanya ditayangkan dari sisi Moore saja, tanpa terlihat sang penanya, sebetulnya terdapat eksplorasi background story yang dilakukan dari sisi penceritaan.

126-Picture3
Courtesy Lutzus-Brown, Killer Films, BSM Studio, Big Indie Pictures, Shriver Films © 2014

Tidak ketinggalan juga, sosok Baldwin dan Stewart merupakan yang berikutnya bersinar setelah Moore. Walaupun film ini memiliki alur dengan puncak konflik di awal cerita, film ini menyajikan cerita pasca konflik dengan berbagai macam pendingin yang menarik. Salah satunya Stewart. Stewart menghadirkan sebuah karakter yang terlihat tough as a women, but she still have a good heart. Dibalik kepopulerannya, Stewart cukup membuktikan bahwa Ia sebetulnya piawai dalam memainkan sosok berkarakter.

Ada salah satu adegan menarik berikutnya di dalam film ini. Yaitu ketika Alice mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara pada sebuah kegiatan sosial Alzheimer. Saya melihat kebesaran hati Alice, yang mungkin menilai pada akhirnya hidup ini adil. Ia sudah pernah merasakan segalanya lewat memori indah, dan sekarang Ia diuji untuk mempertahankan kenangan indah tersebut. Akan tetapi saya menyukai semangat dalam pidato inspirasionalnya, “All my life I’ve accumulated memories – they’ve become, in a way, my most precious possessions. The night I met my husband, the first time I held my textbook in my hands. Having children, making friends, traveling the world. Everything I accumulated in life, everything I’ve worked so hard for – now all that is being ripped away. As you can imagine, or as you know, this is hell. But it gets worse. Who can take us seriously when we are so far from who we once were? Our strange behavior and fumbled sentences change other’s perception of us and our perception of ourselves. We become ridiculous, incapable, comic. But this is not who we are, this is our disease. And like any disease it has a cause, it has a progression, and it could have a cure. My greatest wish is that my children, our children – the next generation – do not have to face what I am facing. But for the time being, I’m still alive. I know I’m alive. I have people I love dearly. I have things I want to do with my life. I rail against myself for not being able to remember things – but I still have moments in the day of pure happiness and joy. And please do not think that I am suffering. I am not suffering. I am struggling. Struggling to be part of things, to stay connected to whom I was once. So, ‘live in the moment’ I tell myself. It’s really all I can do, live in the moment. And not beat myself up too much… and not beat myself up too much for mastering the art of losing. One thing I will try to hold onto though is the memory of speaking here today. It will go, I know it will. It may be gone by tomorrow. But it means so much to be talking here, today, like my old ambitious self who was so fascinated by communication. Thank you for this opportunity. It means the world to me. Thank you.” Pada akhirnya saya bisa simpulkan film ini: A must-see performance, one of the best from 2014 and also one of the best drama about fighting disease.

Still Alice (2014)
PG-13, 101 menit
Drama
Director: Richard Glatzer, Wash Westmoreland
Writer: Richard Glatzer, Wash Westmoreland, Lisa Genova
Full Cast : Julianne Moore, Kate Bosworth, Shane McRae, Hunter Parrish, Alec Baldwin, Seth Gilliam, Kristen Stewart, Stephen Kunken, Erin Darke, Daniel Gerroll, Quincy Tyler Bernstine, Maxine Prescott, Orlagh Cassidy, Rosa Arredondo, Zillah Glory, Caridad Montanez, Caleb Freundlich, Charlotte Robson
#126 – Still Alice (2014) was last modified: November 18th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here