Ngomongin masalah remaja, selalu ga pernah lepas dengan hubungan mereka sama orangtua. Periode transisi menuju kedewasaan ini tidak hanya lekat dengan perubahan fisik saja, tetapi juga emosional dan kematangan berpikir mereka. Ini kemudian kadang menjadi beragam konflik. Mulai dari pengakuan sebagai seorang yang dewasa, keinginan untuk melakukan sesuai kehendak sendiri, sampai ke urusan pencarian jati diri. Melalui “Ava,” penonton akan diajak mengobservasi kisah seorang putri tunggal dari Iran yang melawan dengan caranya sendiri.

Ava, yang diperankan oleh Mahour Jabbari, adalah seorang remaja yang tampak seperti kebanyakan. Ia masih diantar ke sekolah oleh sang Ibu, dan kemudian dijemput sang ayah di sore harinya. Ia bersekolah di sekolah khusus perempuan, yang cukup konservatif menangani urusan perempuan. Apalagi dengan budaya timur yang masih kental yang kadang membuat urusan yang terkesan sepele menjadi agak lebay, termasuk pandangan mereka tentang pacaran.

ava
Courtesy of Sweet Delight Pictures © 2017

Sebagai seorang putri tunggal, Ava banyak menghabiskan waktunya sendiri. Maklum, sang ayah sibuk bekerja dan selalu ada saat tidak dibutuhkan. Ibunya, yang diperankan oleh Bahar Noohian, merupakan seorang dokter yang cukup sibuk dan sangat protektif. Konflik film ini dimulai ketika Ibunya kurang menyukai Ava yang berteman dekat dengan Melody, yang diperankan Shayesteh Sajadi. Menurutnya, Melody memberi banyak pengaruh buruk pada Ava, termasuk saat putrinya memutuskan untuk memilih karir di bidang musik.

Menariknya, pemikiran Ibu Ava dibantah oleh sang Ayah, yang diperankan oleh Vahid Aghapoor. Menurutnya, Ava berhak untuk memilih jalan yang ingin Ia pilih. Tidak ada yang salah jika Ava memilih jalur karir yang mungkin dirasa tidak menjanjikan seperti yang dipikirkan oleh sang Ibu. Ternyata, cuma dari diskusi pagi yang cukup serius tentang masa depan, malah berujung dengan rentetan episode drama yang tak disangka.

453 picture3
Courtesy of Sweet Delight Pictures © 2017

Film ini merupakan sebuah debut sutradara asal Iran-Canada, Sadaf Foroughi, yang sebelumnya sudah membuat beberapa film pendek. Film yang dirilis sejak September 2017 lalu di Toronto International Film Festival ini, terbilang cukup prestatif. “Ava” berhasil mendulang dua penghargaan disana, termasuk hadiah International Critics’ Awards dari FIPRESCI.

Cerita film ini juga ditulis oleh Foroughi. Foroughi mengemas cerita dengan memposisikan penontonnya layaknya seorang observer. Hal ini tampak jelas ketika pengambilan gambar seringkali diambil dari belakang. Belum lagi ditambah dengan penajaman emosi yang dikemas lewat permainan fokus kamera. Salah satu favorit saya adalah saat Ava sedang berjalan disamping tembok berisi banyak daun, dan pada adegan berjalan tersebut, permainan fokus kamera yang tertuju pada Ava kemudian punya transisi yang cukup menarik untuk mengakhiri adegannya. Dua jempol untuk Sina Kermanizadeh untuk sinematografinya.

453 picture5
Courtesy of Sweet Delight Pictures © 2017

Belum cukup sampai disitu, penonton akan lebih banyak memahami ceritanya dari dialog-dialog pemainnya. Sebab kadang kamera mungkin saja hanya akan memperlihatkan Ava, tapi adu dialog kedua orangtuanya yang terdengar tetap menjadi bagian yang perlu diikuti. Begitupun dengan beberapa adegan adu mulut yang mungkin tidak diperlihatkan secara jelas secara visual, namun cukup terbayang lewat dari ucapan yang dilontarkan.

“Ava” juga menghadirkan kesan sinematik di hampir setiap bagian. Pemilihan sudut-sudut yang menarik cukup diunggulkan film ini hampir di kebanyakan adegan. Misal seperti sudut dari luar kamar yang sebetulnya ingin menampilkan adegan yang terjadi di dalam kamar. Ataupun ingin menghadirkan adegan di luar mobil dengan pengambilan gambar dari dalam mobil. Sungguh menarik! Permainan kaca juga ikut menambah kekayaan artistik dalam adegan-adegannya.

453 picture7
Courtesy of Sweet Delight Pictures © 2017

Membahas kisah “Ava,” saya cukup dapat menghubungkannya dengan apa yang digambarkan Sofia Coppola dalam “The Virgin Suicides.” Ketika orang tua menjadi semakin protektif, yang tidak disangka dapat terjadi. Begitupun di film ini. Walau tema yang diangkat mungkin terasa umum, namun dengan berlatar di Iran, apa yang ditampilkan film ini menjadi semakin powerful. Apalagi ketika Foroughi menggunakan 4 aspect ratio dalam menghidupkan ketegangan ceritanya. Jika anda sadari, ukuran film ini akan semakin mengecil, dan seakan membuat penonton tidak nyaman untuk menyaksikan cerita yang semakin dibatasi, selayaknya apa yang dialami Ava dalam ceritanya. Destructive!

Sebuah pengalaman menonton yang sangat berkesan. “Ava” berhasil dikemas menjadi sesuatu yang tidak biasa. Mungkin buat beberapa orang cerita ini terasa remeh temeh, tapi sebetulnya ini bisa jadi sesuatu yang cukup complicated untuk orang lain. “Ava” terlalu kaya akan emosi yang kerap tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata, namun mudah untuk dirasakan. Sebuah featured debut yang menawan!

 

Ava (2017)
Not Rated, 102 menit
Drama
Director: Sadaf Foroughi
Writer: Sadaf Foroughi
Full Cast: Vahid Aghapoor, Parnian Akhtari, Sarah Alimardani, Mona Ghiasi, Houman Hoursan, Mahour Jabbari, Bahar Noohian, Leili Rashidi, Shayesteh Sajadi

#453 – Ava (2017) was last modified: Juli 12th, 2021 by Bavner Donaldo