Cukup jarang bukan untuk menyaksikan film Indonesia dengan sentuhan western. Yang teringat di benak saya adalah film jaman 70-an dengan tema-tema koboi. “Buffalo Boys” berani untuk mengambil risiko ini, atas dasar imajinasi dan ambisi yang tinggi. Alhasil, dengan sederet cast yang terbilang penuh talenta, “Buffalo Boys” seakan tenggelam ke dasar. Semuanya buyar dengan usaha berlebihan di sana-sini.

Cerita di film ini terpusat pada kepulangan tiga orang koboi Indonesia. Mereka adalah Arana, lelaki tua yang diperankan oleh Tio Pakusadewo, yang membawa kakak beradik, Suwo dan Jamar, yang diperankan oleh Yoshi Sudarso dan Ario Bayu, ke tanah kelahiran mereka. Besar di Amerika dan terbiasa untuk hidup keras, mereka sudah cukup biasa dengan kematian.

buffalo boys
Courtesy of Infinite Frameworks Pte. Ltd., Zhao Wei Films © 2018

Tiba di tanah Jawa, Arana mengajak keduanya untuk mengenal kisah orangtuanya. Ayah mereka adalah seorang sultan. Kala itu kependudukan Belanda di bawah pimpinan Van Trach muda, yang diperankan oleh Alexander Winters, terbilang sangat keji dalam menindas rakyat. Akhirnya, Arana pun harus membawa lari kedua putra penerus kesultanan disaat sang sultan harus tewas terhunus pisau Van Trach.

Kembali ke masa dewasa keduanya, di dalam sebuah perjalanan mereka kemudian bertemu dengan rombongan preman bernama Fakar, diperankan oleh Alex Abbad, yang kala itu sedang menyiksa kereta milik Suroyo dan Sri, diperankan oleh El Manik dan Mikha Tambayong. Berhasil membantu Suroyo dan Sri, ketiganya kemudian mengunjungi sebuah desa, dan berkenalan dengan pimpinan desa yang juga pemberontak, Sakar, yang diperankan oleh Donny Damara. Tak lepas, kedua pria gagah ini pun terpukau dengan kemahiran panahan Kiona, diperankan oleh Pevita Pearce, yang dengan apiknya sambil mengendarai seekor kerbau. Mereka pun kemudian dilibatkan dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan di bawah pemerintahan Van Trach, yang kini telah senior.

423 picture6
Courtesy of Infinite Frameworks Pte. Ltd., Zhao Wei Films © 2018

Film yang ditulis oleh Mike Wiluan dengan Raymond Lee ini menghadirkan sebuah suasana baru, namun terasa lumayan gagal. Sedari awal film, adegan-adegan laga cukup dipertunjukkan seakan memberikan kilauan ke mata penonton dengan apa yang akan dihidangkan oleh film ini. Aksi, darah, dan tentu harus sadis. Ternyata benar. Tiga hal ini cukup mewarnai film ini. Sekalipun sang jagoan akan dengan mudahnya untuk merecovery di keesokan harinya. Permainan koreografi yang dominan cepat dengan kibasan-kibasan berlumur darah jadi andalan, yang pada akhirnya terasa membosankan, ketika anda menyadari it’s too obvious of their CGI.

Bicara plotnya, ini lebih parah lagi. Penonton harus rela menyaksikan kedua love interest film ini, Yoshi dan Pevita, untuk saling berbahasa baku layaknya Dilan. Jujur, saya masih jauh menyukai cara Iqbaal Ramadhan dengan gombalan bakunya, daripada harus mendengar ucapan Yoshi yang masih terasa datar dan asing. Begitupun dengan Pevita yang buat saya cuma modal tampang saja di sini. Lelah sekali ketika keduanya tiba-tiba selalu ada di sebuah kesempatan yang sama, tanpa ada sebab apa, dan saling bertutur baku. It’s a no no…

423 picture2
Courtesy of Infinite Frameworks Pte. Ltd., Zhao Wei Films © 2018

Kalau dari segi cerita, sama merasa proyek ini terasa begitu ambisius. Alhasil, ada beberapa banyak adegan yang menurut saya tidak penting, namun berhasil untuk memperpanjang durasi film ini. Salah satunya adalah ketika Suwo dan Jamar harus berkelahi dengan cukup ganas, padahal logikanya, seharusnya mereka malah menyimpan energi mereka untuk melawan sang musuh. Parahnya lagi, saat masuk di adegan klimaks yang sepertinya terjadi di keesokan harinya, keduanya sudah tampak normal lagi. Huh. Ini belum lagi dengan beberapa bagian yang terasa dikemas singkat tanpa ada kejelasan. Salah satunya ketika Arana bisa dengan mudahnya sudah berusaha menyelamatkan Seruni di rumah Van Trach yang penuh pengawasan. Hmm… Ada banyak ketidakjelasan yang tidak konsisten dalam kisahnya, yang menurut saya sudah amat buang waktu untuk digali.

Yang lebih annoying, itu suaranya. Kadang, original score dan musik di film terasa begitu di-hiperbola-kan untuk menggelegarkan adegan yang biasa saja. Saya cukup lelah untuk menyaksikan adegan-adegan laga penuh dramatisasi yang terkesan dibuat-buat sekaligus suara yang berlebihan. Gimana menurut anda? Buat saya, ini lumayan amat disayangkan.

423 picture7
Courtesy of Infinite Frameworks Pte. Ltd., Zhao Wei Films © 2018

Kalau membahas cast-nya, yang terasa paling natural adalah karakter Seruni yang diperankan Happy Salma. Saya merasa Salma sangat berhasil untuk mendramatisir dan hidup lewat dialog-dialognya sepantasnya orang Indonesia. Bersanding dengan Tio Pakusadewo, karakter Salma semakin mempesona saya ketika Seruni berkata, jika tidak salah, “Sebuah kehormatan bagi saya untuk mati bersama.”

Selain Salma, saya terkejut dengan penampilan Hannah Al Rasyid. Sebagai karakter antagonis, saya suka dengan peran aktingnya sebagai wanita gila. Perawakan makeup yang khas dengan gigi mengerikan akan jadi salah satu karakter menonjol yang paling berkesan buat saya disini. Termasuk dengan adegan tarung yang juga gak kalah.

423 picture3
Courtesy of Infinite Frameworks Pte. Ltd., Zhao Wei Films © 2018

Yang lebih malang, “Buffalo Boys” memang benar-benar terjebak imajinasi. Penonton tidak dapat mengaitkan kisah ini dengan sejarah. Sebab, katakan dengan selang dua puluh tahun dari masa bayi Suwo dan Jamar hingga dewasa, terasa seperti perubahan dua ratus tahun dalam sejarah. Jawa juga digambarkan dengan bukan suasana kolonial Belanda. “Buffalo Boys” malah mengajak penontonnya untuk masuk ke jaman yang tidak pernah ada dalam Sejarah Indonesia: Masa Penjajahan Belanda di jaman Revolusi dengan suasana wild wild west America. What a f***!

Buffalo Boys (2018)
17+, 102 menit
Action
Director: Mike Wiluan
Writer: Raymond Lee, Mike Wiluan
Full Cast: Conan Stevens, Yoshi Sudarso, Zack Lee, Sunny Pang, Ario Bayu, Pevita Pearce, Reinout Bussemaker, Alex Abbad, Tio Pakusadewo, Daniel Adnan, Alexander Winters, Mikha Tambayong, Cullet Eric, Donny Damara, Happy Salma, El Manik, Hannah Al Rashid

#423 – Buffalo Boys (2018) was last modified: Juli 11th, 2021 by Bavner Donaldo