Kepulangan anak tertua ternyata malah membawa sebuah kesalahpahaman. “Shower” menawarkan sebuah cerita keluarga yang terfokus pada hubungan putra sulung dengan ayah dan adiknya. Featured film kedua sutradara Yang Zhang ini masuk ke dalam “All Time Asian Best” versi CNN di tahun 2008.

Awal film ini dibuka lewat adegan seorang pria memasuki sebuah shower station. Tempat ini terletak di pusat kota dan menyediakan fasilitas mandi kilat yang dibantu dengan proses otomatis. Pelanggan dapat menentukan durasi setelah berhasil diidentifikasi jenis kulit, tinggi dan berat badannya. Selanjutnya, pelanggan akan menikmati aliran air sekaligus busa yang berputar untuk membersihkan badannya. Kurang lebih gambarannya sepintas seperti car wash versi manusia. Tapi jangan tertipu dulu, ini bukan sebuah kenyataan.

Courtesy of Imar Film, Xi’an Film Studio © 1999

Liu Daming, diperankan oleh Cunxin Pu, adalah seorang pebisnis sukses. Ia hidup di Shenzen, salah satu kota termaju di Cina daerah selatan. Berawal dari sebuah kiriman kartu pos, dengan mengejutkan Ia kembali ke rumahnya di salah satu sudut kota tua di Beijing.

Sang adik, Liu Erming, diperankan oleh Wu Jiang, menderita keterbelakangan mental. Keterbelakangan mental yang dideritanya tetap tidak memupuskan semangatnya untuk membantu sang ayah. Ayah mereka, Master Liu, yang diperankan Xu Zhu, memiliki sebuah tempat pemandian khusus pria. Tempat pemandian ini terletak di salah satu distrik yang terancam untuk dibongkar demi pengembangan kota Beijing.

Courtesy of Imar Film, Xi’an Film Studio © 1999

Pemandian ini juga merupakan rumah bagi keluarga Liu, yang semuanya adalah pria. Setiap pagi, dibantu dengan beberapa pekerjanya, Master Liu menyiapkan tempat pemandian. Mulai dari mengepel, mengelap meja, menyiapkan handuk-handuk hangat, hingga memastikan air dan kolam-kolam air.

Kedatangan Daming juga memberikan sebuah rasa penasaran pada Master Liu. Merantaunya Daming ke Shenzen tidak terlepas dari keinginannya untuk mencari peruntungan yang lebih baik. Akan tetapi, saat Ia mengetahui alasan kedatangan Daming, Master Liu malah merasa semakin kecewa. Ternyata kartu pos yang dikirimkan Erming disalahartikan Daming. Daming mengira Ayahnya meninggal sehingga Ia memutuskan pulang. Padahal, Erming hanya ingin menunjukkan gambar kalau sang Ayah sedang tertidur.

Courtesy of Imar Film, Xi’an Film Studio © 1999

Tidak hanya kisah keluarga Master Liu, ada beberapa cerita pelengkap yang datang dari para pelanggan pemandian ini. Potret aktivitas para pria di pemandian, lumayan dieksplorasi Yang Zhang. Tidak hanya mandi, ternyata ada berbagai macam alasan mereka kesini. Mulai dari ingin mendapatkan pelayanan cukur, kop dan pijat, bercengkrama, adu jangkrik, menyanyi, sampai menjadi tempat pelarian. Alhasil, tonton berdurasi 92 menit cukup didominasi dengan adegan di pemandian.

Modernisasi juga jadi bahan yang dibahas film ini. Di zaman yang canggih ini, segalanya berkembang dengan sangat cepat. Layaknya berita, sang pelopor yang tercepat merupakan yang terbaik. Begitupun dengan kegiatan mandi. Bagian awal film seraya menggambarkan kehidupan zaman ini, ketika mandi merupakan sebuah kegiatan yang terbilang ‘cepat,’ guna para pelakunya mampu bertindak secepat tuntutan zaman. Salah satu contoh lainnya adalah bagaimana adanya rencana penggusuran distrik lama di Kota Beijing guna memodernisasi pemukiman dengan pembangunan rumah vertikal dan mall.

Lain halnya dengan tempat pemandian Master Liu. Penonton akan mengobservasi bagaimana ritme pelan dari suasana yang dihadirkan. Tidak ada yang terkesan seperti ‘kilat’ ataupun terburu-buru seperti di awal film. Semua pelanggan seakan tampak menikmati menghabiskan waktu mereka dengan kesibukan masing-masing. Menariknya, ini menjadi sebuah kebiasaan yang seakan dilakukan setiap hari, seperti sebuah tradisi. Tidak mengherankan bila tempat pemandian ini mayoritas dikunjungi para pria-pria senior yang terbilang sudah tidak termasuk dalam usia produktif. Malang, tradisi ini harus terpaksa dipunahkan melalui modernisasi kota mereka.

Kalau melihat secara sepintas, film ini ingin menunjukkan kalau Daming punya hubungan yang tidak terlalu harmonis dengan keluarganya. Ia tidak berani jujur pada istrinya mengenai kondisi adiknya, apalagi dengan Ayahnya ketika terjadi kesalahpahaman. Cuma hal ini semakin tertutupi karena ada banyaknya cerita pendukung yang mewarnai tempat pemandian. Belum lagi ditambah kelucuan tingkah Erming ataupun sosok Master Liu yang kadang cukup menginspirasi dari kehidupannya.

Saya menyukai bagaimana cara Master Liu mendidik Erming yang sebetulnya lambat, namun spesial. Erming tahu betul untuk melayani para pelanggan yang datang, sama seperti ayahnya. Hubungan keduanya patut jadi contoh menarik yang mungkin akan jarang kita jumpai di realita.

Film ini membawakan emosi yang campur aduk: akan akan tertawa, kadang serius, hingga tersentuh dari tingkah laku karakternya dan adegan-adegan sederhana yang ditawarkan. Belum ditambah penyajian film ini yang dikemas oleh Yang Zhang dengan penyutradaraan yang apik, tata sinematografi yang menarik, serta alur cerita yang tidak membosankan. “Shower” merupakan tontonan penuh kehangatan selayaknya menikmati kehangatan dari tempat pemandian.

#315 – Shower [Xizao] (1999) was last modified: November 13th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here