Ketika Indonesia dikejutkan dengan “Siti,” Andrew Haigh juga mengangkat kisah seorang wanita melalui “45 Years.” Sutradara sekaligus penulis yang cukup berhasil melalui gay cinema “Weekend,” kembali dengan haluan yang berbeda, mencermati kisah hubungan percintaan heteroseksual pada generasi senior.

Kate Mercer, yang diperankan oleh Charlotte Rampling, adalah seorang wanita yang hanya hidup dengan suami dan seekor anjingnya. Mereka hidup di Statford, sebuah kota kecil di London. Seusai melakukan ritual pagi untuk berkeliling desa bersama peliharaannya, Kate mendapati Geoff, suaminya, yang diperankan Tom Courtenay, sedang menerima sebuah surat dari Jerman.

193-Picture3
Courtesy of BFI Film Fund, The Bureau, British Film Institute, Creative England, Film 4, The Match Factory, National Lottery through UK Film Council © 2015

Kala itu, Kate dan Geoff sedang melakukan persiapan untuk merayakan anniversary mereka yang ke-45, demi menebus peringatan ke-40 yang gagal dilaksanakan karena Geoff yang saat itu sedang menjalani operasi. Kembali ke surat, Geoff memberi tahu Kate bahwa mayat seorang rekannya, yang bernama Katya, telah ditemukan setelah mati membeku di sebuah pegunungan es di Swiss. Awalnya, Kate tidak menaruh perhatian yang cukup dalam dengan tragedi ini. Akan tetapi perilaku-perilaku ganjil Geoff membawa Kate ke sebuah perspektif baru tentang makna pernikahan.

            Sebagai feature film ketiganya, Andrew Haigh kembali menunjukkan bahwa Ia merupakan seorang filmmaker dan adaptor yang unggul. Kisah film ini sebetulnya diangkat dari sebuah kisah pendek berjudul “In Another Country” karangan David Constantine. Haigh kemudian mengadaptasinya dan menghadirkan ceritanya dengan pacing yang tidak cepat, cukup sunyi, namun punya kekuatan dramatisasi dari dialog minimal dan kekuatan karakternya.

193-Picture2
Courtesy of BFI Film Fund, The Bureau, British Film Institute, Creative England, Film 4, The Match Factory, National Lottery through UK Film Council © 2015

            Jujur saja, butuh effort yang agak lebih untuk menyaksikan film ini. Mungkin karena pengemasannya yang memang tidak terlalu dipenuhi dengan score untuk penambah dramatisasinya, membuat film ini akan cukup boring, terutama buat penonton mainstream. Apalagi ceritanya yang terpusat pada kehidupan pernikahan golongan senior, terkesan cukup segmented dan bukanlah sebuah tema yang menarik bagi penonton kebanyakan. Tetapi, bila melihat esensi cerita yang ditawarkan, it’s a real deal.

            Sepanjang film pandangan mata saya hanya terfokus dengan Charlotte Rampling, sambil sedikit memaki-maki dalam hati pada Tom Courtenay. Yup, dampak sederhana kalau akting mereka cukup berhasil dari perspektif saya. Bicara mengenai Rampling, aktris senior ini mungkin cukup dikenal melalui “Georgy Girl,” sebuah film yang membawa Lynn Redgrave meraih nominasi Actress in Leading Role-nya di tahun 1966. Kembali ke Rampling, She’s a rare actress. Why? Rampling selalu mencoba peran-peran sensasional sepanjang karier 50 tahunnya, termasuk sebagai Lucia Atherton dan adegan musikal toplessnya dalam “The Night Porter”-nya Liliana Cavani, lalu hadir dalam film pertama The German Trilogy-nya Luchino Visconti yang berjudul “The Damned,” hingga menjadi wanita idaman Woody Allen dalam “Stardust Memories.” Kali ini, di usianya yang memasuki hampir 70, Rampling masih eksis dan konsisten di dunia perfilman Eropa.

193-Picture5
Courtesy of BFI Film Fund, The Bureau, British Film Institute, Creative England, Film 4, The Match Factory, National Lottery through UK Film Council © 2015

            Kehadiran Kate dalam film ini sebetulnya memberikan saya sedikit kejutan. Rampling tidak hadir laksana sewaktu Ia muda dulu. Ia muncul sebagai wanita tua yang lumayan ramping, namun masih punya kekuatan di luar gayanya yang cukup cool. Kecurigaan dan kesabaran sosok Kate dalam meladeni tingkah laku Geoff yang aneh menjadi kekuatan ceritanya, lewat pengembangan emosi yang bertahap-tahap.

            Sebelum berhasil meraih sebuah nominasi Aktris terbaik di ajang Academy Awards, film ini meraih dua Silver Bear dalam Berlin Film Festival untuk kedua pemeran utamanya. Ya, sosok Kate mungkin tidak akan menjadi berhasil memenangkan empati penonton ketika perilaku ganjil Geoff tidak berhasil membuat kesal penonton.

193-Picture7
Courtesy of BFI Film Fund, The Bureau, British Film Institute, Creative England, Film 4, The Match Factory, National Lottery through UK Film Council © 2015

            “45 Years” adalah sebuah drama serius yang mengajak penontonnya untuk berefleksi mengenai pasangan mereka, apakah mereka benar-benar mengenal pasangannya? Atau hanya sebatas mengenal yang terlihat saja… One of the best moment dari film ini adalah ketika Kate dan Geoff berdansa di pesta mereka sambil diiringi salah satu wedding song mereka “Smoke Gets In Your Eyes”. Walaupun tanpa dialog, namun liriknya seakan menjadi cerminan Kate. A beautiful heartbreaking marriage story…

45 Years (2015)
R, 95 menit
Drama, Romance
Director: Andrew Haigh
Writer: Andrew Haigh, David Constantine
Full Cast: Charlotte Rampling, Tom Courtenay, Geraldine James, Dolly Wells, David Sibley, Sam Alexander, Richard Cunningham, Hannah Chalmers, Camille Ucan, Rufus Wright
#193 – 45 Years (2015) was last modified: November 24th, 2020 by Bavner Donaldo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here