Apa yang dihadirkan oleh Lucía Pucenzo untuk ukuran sebuah debut terasa sungguh menarik. Film pertamanya, “XXY” yang dirilis pada 20 Mei 2007 di Cannes Film Festival. Film ini akan mengajak penonton untuk mengamati seseorang interseksual bernama Alex. Interseks merupakan sebuah kejadian langka dimana seseorang mampu memiliki dua jenis kelamin sekaligus.

Ramiro, yang diperankan oleh Germán Palacios, merupakan seorang dokter bedah. Ia mengajak istri dan putra satu-satunya untuk ikut serta ke Piriápolis, sebuah kota nelayan kecil di Uruguay. Disana, mereka tinggal di sebuah rumah yang hanya terdiri dari sebuah keluarga kecil. Mereka adalah Kraken, seorang biologist, diperankan oleh Ricardo Darín, yang sehari-hari melakukan penyelamatan akan para penyu yang terluka oleh jaring nelayan. Ia hidup bersama istri dan anaknya.

xxy
Courtesy of Historias Cinematograficas Cinemania, Wanda Visión S.A., Pyramide Films, Ministerio de Cultura, Cinéfondation, Fonds Su © 2007

Memang tidak dijelaskan secara eksplisit awalnya, cuma anak satu-satunya Kraken, Alex, ternyata merupakan interseksual. Selama ini Ia meminum obat untuk mencegah berkembang hormon kelaki-lakiannya dan telah tumbuh besar seperti seorang perempuan. Kehadiran Alvaro, putra Ramiro, yang diperankan oleh Martín Piroyansky, tiba-tiba malah membuat Alex untuk begitu agresif. Alex ingin melakukan kegiatan seksual pertamanya dengan Alvaro. Tanpa diketahui Alvaro, ternyata maksud kedatangan orangtuanya disana tidak berjalan terlalu mulus. Kraken ternyata menjadi semakin defensif dan Alex pun mulai mengalami kerumitan tersendiri. Ia harus memilih: menjadi seorang perempuan atau laki-laki.

Memasuki usia akil baligh, remaja kadang menemukan caranya sendiri untuk menempatkan diri tidak lagi sebagai seorang anak kecil, namun seseorang yang terbilang matang secara fisik. Efek sampingnya, remaja mulai mencari cara mereka sendiri untuk melakukan perilaku seksual. Seperti yang dihadirkan di film ini. Alex telah tumbuh besar dengan tubuh seorang perempuan, namun sepertinya naluri seksual lebih berkembang seperti seorang pria. Ini terbukti semenjak kehadiran Alvaro, Ia menjadi begitu agresif dan malah menginginkan first time sex-nya.

425 picture2
Courtesy of Historias Cinematograficas Cinemania, Wanda Visión S.A., Pyramide Films, Ministerio de Cultura, Cinéfondation, Fonds Su © 2007

Tidak hanya itu, kisah yang diadaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul ‘Cinismo’ karangan Sergio Bizzio ini, juga mengekplorasi bagaimana kadang manusia yang telah terlahir sebagai seorang perempuan ataupun laki-laki terlihat melihat orang-orang interseksual dengan cara yang amat berbeda. Orang-orang yang terlahir normal ini melihat fenomena dua kelamin adalah sebuah hal yang janggal. Sehingga mereka akan berpikir, ya orang interseksual seperti Alex harus bisa memilih, dan merelakan salah satu  jenis kelaminnya.

Interseks memberikan kesan yang ambigu akan status kelamin dan perilaku mereka. Di jaman sekarang ini, memang sudah terlihat agak lazim perilaku seseorang yang terlihat pria namun berbadan wanita, ataupun sebaliknya. Kadang apa yang kita lihat mungkin tidak sejalan dengan apa yang kita tidak lihat. Dalam pandangan saya, ketika bicara mengenai interseks, kita tidak lagi bicara mengenai terjebak di tubuh yang salah. Namun sebaliknya, saya melihat interseks diberi keuntungan oleh Pencipta untuk memilih sesuai keinginan mereka. Inilah yang membuat mengapa tema “XXY” terasa jadi sesuatu yang menarik dan perlu untuk dilihat, diketahui, dan dipikirkan.

425 picture3
Courtesy of Historias Cinematograficas Cinemania, Wanda Visión S.A., Pyramide Films, Ministerio de Cultura, Cinéfondation, Fonds Su © 2007

Film ini memang berdurasi tidak panjang, tetapi jalan ceritanya membuat saya terus penasaran dengan akhir dari ceritanya. Saya terus terpancing dengan apa sih yang akan menjadi pilih terakhir Alex. Begitupun ketika film ini semakin dalam meninjau karakter kedua orangtuanya, terutama Kraken, yang sangat melindungi dan memberikan kebebasan buat Alex.

Tidak hanya bicara Alex saja. Film ini juga bakal mengajak penonton untuk berkenalan dengan Alvaro. Kita akan melihat respon Alvaro yang tiba-tiba terbuai dengan Alex dan juga hubungan dengan orangtuanya. Memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai seorang spesialis bedah seperti memberikan tuntutan yang besar buat Alvaro, sekaligus kita akan tahu jika hubungan mereka tidak terlalu dekat.

425 picture5
Courtesy of Historias Cinematograficas Cinemania, Wanda Visión S.A., Pyramide Films, Ministerio de Cultura, Cinéfondation, Fonds Su © 2007

Membahas penampilannya, saya paling menyukai akting Inés Efron. Aktris Mexico ini sedikit mengingatkan saya dengan penampilan Zoé Héran dalam “Tomboy” yang bisa terlihat androgyny. Memang Efron tidak memperlihatkan kesan boyish sekental Héran, tapi Efron berhasil menghidupkan kesan misterius yang mampu membuat penonton bertanya-tanya. Yang tak boleh dilewatkan juga adalah penampilan Ricardo Darín yang menurut saya cukup berkharisma di film ini.

Buat saya, menyaksikan “XXY” adalah pengalaman menonton yang menarik. Apalagi dengan tema yang kadang jarang dibahas dan mungkin banyak orang yang tidak tahu. “XXY” seperti mengajak anda menerka-nerka dan mau tidak mau membuka pikiran kita untuk bisa menghargai pilihan seseorang, sekaligus bisa membedakan mana yang tulus atau digerakkan oleh nafsu.

 

XXY (2007)
Not Rated, 86 menit
Drama, Romance
Director: Lucía Pucenzo
Writer: Lucía Pucenzo
Full Cast: Ricardo Darín, Valeria Bertuccelli, Germán Palacios, Carolina Pelleritti, Martín Piroyansky, Inés Efron, Guillermo Angelelli, César Troncoso, Jean Pierre Reguerraz, Ailín Salas, Luciano Nóbile, Lucas Escariz

#425 – XXY (2007) was last modified: Juli 12th, 2021 by Bavner Donaldo